Field Trip: Bis Isi 40 Orang Rasa 6 Orang. Haii gais… Saat aku lagi baca-baca tulisan di website ini, aku jadi kepikiran buat nulis saat angkatan kami mengikuti field trip untuk yang terakhir kalinya di SMP perguruan Cikini.

Field trip ini dilaksanakan 6 hari sebelum UN SMP, jadi kalau aku mau nulis setelah field trip, enggak mungkin karena bener-bener fokus ke UN dulu saat itu. Btw kalau hasil UN, hasil UN-ku… lumayan deh :’).

(kenapa jadi bahas UN ini yaak haha)

Oke, langsung aja yaak.

Rabu, 26 April 2017

Semua murid seperti biasa datang pagi pukul enam, menyandang tas lumayan besar di pundaknya karena berisi barang-barang yang diperlukan disana. Begitupun denganku dan Nissa alias Nissoy yang berangkat bareng. Dan karena nggak tahu arah mau kemana, akhirnya kami pergi ke ruang guru dan disana sepi. Cuma ada Bu Kiki, Pak Edy, Pak Rahmat, dan Pak Samsul yang sejak tadi bolak-balik ruangan mulu. Aku melihat-lihat daftar anak-anak bis 1, 2, dan 3. Bis 1 kebanyakan adalah kelas 7 dan 8-1. Bis 2 ditempati oleh kelas 8-2 dan 9-1 (kelasku). Sedangkan di bis 3 ada kelas 9-2 dan 9-3.

Tiba-tiba mataku terpaku pada nama-nama anak di bis 1.

“Weh? Kalian berlima… sebis?” kagetku. Terpampang nama lengkap Ajeng, Anissa, Andini, Roya, dan Aqilah (kalau ini sih emang karena dia anak kelas 7 kan). Aku kaget banget, sebab yang ku tahu, Ajeng, Anissa, Andini, dan Roya ada di bis 3, bukan bis 1.

JEDEEEER.

“Iya,” ada suara yang menyahut suaraku barusan, itu Aqilah, dia masuk ruang guru secara tiba-tiba.

“Enak banget sih,” ucapku penuh keirian *monic iri juga yaa wkwkwk*.

“Yaudah sih kak pindah aja dari sekarang, bilang sama Pak Moyo,” usul Aqilah.

“Lihat situasi dulu ya Qil,”

Lalu aku ber-oh panjang mengingat daftar anak-anak di bis 1, setelah kami keluar dari ruang guru untuk berkumpul di lapangan. Sebentar lagi apel pembukaan akan segera dimulai. Kami membentuk barisan cewek dan cowok. Dan tentu saja, anak cewek yang berada di paling depan adalah Anissa, disusulku (padahal saya tinggi yak, hampir menyamai Ajeng, Andini, dan beberapa guru wkwkwk). Apel dibuka dengan sambutan dari kepala sekolah yaitu Pak Edy, dan ditutup dengan doa oleh Mr. Danil. Setelah itu pembagian bis. Aku, kelas 9-1, dan 8-2 menaiki bis 2 setelah nama-nama anak bis 2 dibacakan.

Di bis 2 sepi pendamping. Seharusnya ada 6 pendamping di sini, tapi yang ikut cuma tiga guru dan satu karyawan, termasuk juga walikelasku yaitu Bu Nuni. Jadi guru pendamping di bis 2 cuma ada Bu Gres (walas 8-2), Pak Samsul (guru penjaskes semua kelas) , Mr. Danil (guru bhs ingg kelas 7-8), dan Pak Hasan. Seharusnya sih ada Pak Edy dan Bu Nuni juga tuh, wkwkwk. Kelasku yang semua anaknya di belakang kecuali aku ternyata lagi melambaikan tangan ke Bu Nuni yang ada di bawah mereka. Wow, dan sayangnya aku tidak menyadarinya saat itu.

LONELY, LONELY, LONELY

Beneran deh. Di bis 2 aku kayak anak ilang. Mau teriak-teriak atau tertawa ntar dibilang orang gila karena nggak ada lawan bicara. Aku cuma diem aja sambil main hp, melihat-lihat foto keadaan bis 1 yang dikirimkan Ajeng. Sempet sih di bis 2 ngobrol sama Bu Gres, habisnya tempat duduknya cuma serongan. Terus anak-anak 9-1 iseng fotoin semua anak 9-1, termasuk aku yang sempet disuruh ke belakang dulu buat foto di grup karena Bu Nuni penasaran keadaannya. Jadi aku duduk di samping Bu Gres sampai di rest area.

Akhirnya, pas sampai di rest area, aku ngabur ke bis 1 atas persetujuan Bu Gres dan kakak leader bis 2 (aku lupa namanya siapa wkwkwk). Alasan utama aku pindah ke bis 1 setelah mendapat persetujuan dari Pak Moyo selaku guru pendamping bis 1 pindahnya yak, ya very lonely pake banget. Aku nggak ada temen ngomong sama sekali. Menurutku bis 1 banyak keunggulannya LOL, dan suasananya lumayan mendukung untuk gila-gilaan sepanjang perjalanan :v. Oh ya, di bis 1 guru pendampingnya ada Bu Susi (guru IPA Fisika semua kelas), Bu Adit (guru PKN semua kelas), Pak Moyo (guru TIK semua kelas sekaligus walas 7), Pak Baron (guru bhs indo kelas 7, 8 dan walas 8-1), Pak Rahmat (guru BK), dan Mas Firman (karyawan).

Pas aku menginjakkan kaki di bis 1, Mas Firman langsung deh, “Eh Monic kamu ngapain di sini?”

“Mau di bis 1 aja Mas,”

Dan aku bingung mau duduk dimana haha. Saat ini aku masih berdiri LOL.

“Nic, lo di atas bis aja,” Aku lupa ini siapa yang bilang, ini berhasil bikin kami berlima ngakak.

“Kocak,” balasku.

Akhirnya aku duduk di depan (lagi) sama Pak Baron setelah Pak Rahmat pindah (monic langsung nyuri tempat) wkwkwk. Ajeng sampai nggak rela Pak Rahmat pindah ke belakang hahahaha. *relain aja Jeng*. Dan parahnya, cuma aku satu-satunya murid yang ada di depan. Pasalnya semua bangku depan ditempati guru semua wkwkwk, Bu Susi dan Bu Adit yang ada di baris kiri, sedangkan baris kanan, ya aku sama Pak Baron.

“Pak Baron, kita duduk bareng lagi Pak, di bis,” kataku mengingat dua tahun lalu, saat field trip kelas 7 dulu aku juga duduk sama Pak Baron.

Flashback pas field trip kelas 7

Meski aku sendiri di bis 3, tapi ada Pak Baron, Bu Ari, Bu Nuni, dan Pak Moyo yang semuanya asik abis*

Kakak leader bis 1 yang bernama Kak Lucky menyapaku, “Kamu siapa? Kamu bukan anak bis sini kan?” Kedengerannya kayak ngusir ini nadanya, hahaha.

“Aku pengungsi kak dari bis 2,” sahutku. “Emang kenapa kak? Nggak boleh pindah kak emangnya?”

“Nggak boleh,”

JEDER

Baru aja duduk, Bu Susi yang duduknya di sebelahku yang dipisahkan oleh celah untuk jalan di dalam bis antara depan dan belakang langsung mengulurkan tangannya. Minta pijet wkwkwk. (Monic ini bukan pelajar biasa yang dateng ke sekolah bukan hanya untuk belajar, tapi buat pijetin guru juga :v).

“Kok enak sih Mon, perasaan waktu itu kamu mijetin ibu nggak kerasa deh, kamu nggak ada tenaganya sih, ” ucap Bu Susi.

“Orang waktu itu saya Insya Allah lagi puasa kok bu, makanya nggak ada tenaga,” sahutku sambil memijit tangan kanan Bu Susi.

Dan sepanjang di bis kami warnai suasananya dengan berbagai candaan kocak. Pokoknya suasana hatiku sekarang beda jauhhhhh banget sama yang pas di bis 2. Rame abis di sini. Pas masuk ke gang Kampung Horta (oh iya aku belum ngasih tau kalau tujuan field trip kami adalah Kampung Horta, tau kan?)

Kampung Horta Bogor, Jawa Barat, Indonesia

Itu loh, kampung penghasil Boneka Horta yang bisa tumbuh rumput. Bener-bener sempppiiiit banget. Kerasa kayak mau nabrak rumah, tanaman, dan apapun saat kami berbelok dan parkir di tempat yang telah disediakan. Alhasil, kami berteriak terus. Apalagi aku yang duduk paling depan, teriaknya paling lebay :v.

Setelah bis terparkir, satu persatu dari kami mulai menuruni bis, menunggu aba-aba selanjutnya. Setelah mendapat arahan, kami menuju lapangan futsal yang ada di dekat parkiran bis, yang ternyata itu pintu masuk menuju Kampung Horta. Kami berbaris sesuai kelas, kelas 7, 8, dan 9. Lalu masuk ke Kampung Horta, dan pintunya keciiiil banget jadi harus sabar dan antre dulu. Kami menyusuri jalan setapak gitulah. Anak-anak cewek harus bersyukur karena tempat khusus cewek paling deket. Sementara yang cowok-cowoknya harus berjalan sedikit lagi.

Masuk ke tempat yang menyerupai gubuk besar itu, kami disuguhi ubi, pisang kukus, dan teh manis hangat. Begitu sampai kami berlima langsung menyambarnya. Capek habisnya. Hahaha. Setelah istirahat selama beberapa menit, acara dimulai. Diawali dengan cara membuat telor asin. Kami membuat kelompok, setiap kelompok ada 4 anak. Di kelompokku ada Ajeng, Andini, aku, dan Aqilah. Sementara Anissa dan Roya bergabung dengan Friska dan Keisya (kelas 7). Kalau aku sebelumnya udah pernah buat telor asin pas ujian praktek kelas 6 dulu, jadi aku tidak ada masalah saat membuatnya. Aku baru tahu kalau ternyata telur bebek pori-porinya lebih besar daripada telur ayam, makanya telur bebek rasanya lebih asin saat dibuat telor asin. Kalau telur ayam dibuat telor asin, asinnya gak merata. Terus kurang rasa asinnya.

Lanjut ke pembuatan tanaman hidroponik. Kami memakai kaktus sebagai budidayanya. Yang dimasukkan pertama itu arang dan lumut kering, lalu pasir zelolit sambil kaktusnya dipegangin. Harus lurus, kalau nggak ntar tumbuhnya ke samping, bukan keatas :v. Lalu dihias sama batu kerikil yang ada. Posisi duduk kami masih dalam kelompok. Setelah selesai, kami melakukan persiapan: baju ganti dan peralatan mandi dimasukkan semua ke dalam kantong plastik serta diberi nama dan kelas, kemudian ditaruh di rak didekat kamar mandi umum. Kami mau ngapain sih?

Kami mau…. main lumpur-lumpuran! Yeaay.

Setelah siap dan menitipkan kacamata kepada Bu Adit, aku, Aqilah, Salma, Andini beserta anak-anak lain yang mau nyebur langsung berjalan ke tempat yang pemandunya suruh, karena kami akan belajar menanam padi dulu. Cuma kami berempat yang nyebur diantara sahabat-sahabat kami. Ada yang emang nggak bisa, lagi halangan, takut kotor, maleslah, atau hal lainnya. Nyesel loh apalagi yang kelas 9, ini kan field trip terakhir, wajib banget dinikmati.Setelah dibagikan bibit padinya, aku menatap aneh bibit padiku.

Pasalnya, bibit padiku KECIL BANGET! HAHAHA
Akhirnya diganti sama pemandunya. :’).

Aku berdiri bersebelahan kanan dengan Andini. Sesuai aba-aba pemandu, kami langsung menancapkan padi di lumpur yang ada di depan kami. Kemudian kami berjalan menuju pemandu selanjutnya. Kali ini kami akan bersenang-senang yeayyy. Pertama kami akan menangkap ikan. Diantara semua anak yang nyebur, hanya Salma (kelas 7) yang berhasil menangkap ikan. Dilanjutkan dengan acara menangkap bebek atau entok ya, aku lupa haha. Aku sebut bebek aja dah :’). Pertama dan kedua ditangkap oleh sesama Salma haha. Yang pertama itu Salma kelas 7, yang kedua Salma kelas 9 alias kelasku, 9-1.

Bebek itu siap dilempar lagi untuk yang ketiga kalinya. Segera setelah bebek itu meluncur ke arah yang dituju pemandu, beberapa anak yang berani menangkap bebek saling bersaing mengejar kemana bebek itu pergi. Termasuk pula aku yang meski lumpurnya licin tapi masih bisa berlari meski agak lambat :3. Dan akhirnya, aku bisa memegang badan bebek itu. YEAH! Udah lama aku nggak megang badan hewan unggas lagi yang agak-agak kenyal gitu deh, hahaha… Aku memberikannya kepada pemandu, sambil menimang-nimang bebek tersebut. Masalahnya, aku seneng banget mengganggu kehidupannya ayam, bebek, kucing, ikan, pokoknya hewan jinak semua aku gangguin deh haha.

Dan ada permainan terakhir nih. Permainan antar angkatan, tarik tambang di lumpur. Karena jumlah anak perempuan kelas 7 sedikit jadi mereka bergabung ke grup kelas 8. Jadi tarik tambangnya itu gabungan perempuan kelas 7 dan 8 vs kelas 9. Lagi-lagi aku berada di posisi paling belakang bersama Chiko (kelas 9-3). Udah gitu tempat kami kebagiannya yang lumpurnya banyak, terkadang ada batu yang agak tajam, makanya awalnya kami agak kesulitan melawan grup kelas 7 dan 8. Tapi tetap seja, kemenangan berpihak kepada kami. Udah gitu pas finalnya, saat berhasil menarik kelas 7 dan 8 maju ke kubu kami, Chiko langsung jatuh dalam posisi telentang ke lumpur. Sabar ya Chik, kamu sudah berusaha yang terbaik kok buat grup kelas 9 ini :).

Setelah itu kami bersih-bersih. Aku dan Aqilah mengambil plastik yang berisi baju ganti dan peralatan mandi yang tadi ditaruh di rak dekat kamar mandi umum. Kami mandi di salah satu rumah penduduk atas arahan salah satu kakak pemandu dan izin dari pemilik rumah. Akupun mengalah, Aqilah mandi duluan. Sementara sambil menunggu aku iseng-iseng ngaca di kaca di samping kamar mandi. Ngelihatin wajah yang udah belepotan haha, sekaligus lentiknya bulu mataku (pamer nih Monic wkwkwk).

Setelah Aqilah keluar dari kamar mandi, bergantianlah kami. Aku masuk dan memeriksa baju ganti serta peralatan mandi yang ada di plastik. Dan saat itulah, aku menyadari kalau handukku KETINGGALAN! Jadi sebagai alternatifnya, karena baju tadi nggak kotor-kotor banget aku memakainya untuk mengelap badanku yang basah habis mandi :v. *lain kali harus teliti nih, jangan sampai kelupaan lagi kayak gini*.

Saat aku keluar Aqilah udah nggak ada. Parah nih ninggalin aku hahaha. Aku pamit dulu ke pemilik rumah sambil mengucapkan terima kasih atas tumpangan kamar mandinya, menyalami beberapa ibu-ibu yang ada di teras rumah. Barulah aku bingung, aku harus kemana dari sini. Apalagi aku sendirian di sini. Tapi, setelah beberapa menit kemudian ada Ayasa (kelas 9-1) yang tiba-tiba lewat dan pengen ke gubuk besar. Yaudah aku ikut sama dia, daripada sendirian di sini, ntar dikira anak hilang wkwkwkwk.

Pas aku balik, nasi kotak untuk makan siang dibagikan masing-masing orang. Kami berenam, Saskia bergerombol dengan Bu Ari dan Bu Adit di salah satu sudut gubuk. Aku duduk diantara Bu Ari dan Anissa. Saat aku membuka tutup nasi kotak, isinya ada ayam bakar, lalapan, sayur asem, sambal, dan jeruk. Kami makan sambil sesekali bercanda, yup mungkin ini momen-momen terakhir kayak gini, mau kapan lagi? Kami akan menjalani UN 6 hari lagi dan akan merayakan kelulusan.

“Ada yang mau jeruk nggak?” tawar Anissa menunjukkan jeruknya saat porsi kami rata-rata tinggal seperempat lagi.

“Ibu mau nis,” kata Bu Ari, menyambut uluran tangan Anissa yang isinya sebuah jeruk.

Perlahan Bu Ari mengupas kulit jeruknya. Saat memasukkannya kedalam mulut, tiba-tiba ekspresi Bu Ari berubah drastis yang membuat kami tertawa.

“Bu Ari kenapa?” tanyaku heran.

“Jeruknya asam banget Nic,” jawab Bu Ari.

“Hah? Asam?”

Aku sempat mengurungkan niat untuk makan jeruk yang ada di kotak nasiku. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, aku akan menyimpan dan memakannya nanti.

Sebelum pulang, kami menuju ke gubuk besar yang khusus cowok untuk berfoto karena disana ada tanah lapang yang luasnya sedanglah. Kami berdesak-desakan, kayak mau demo hahaha. Setelah sesi foto yang melelahkan itu akhirnya kami kembali ke bis untuk perjalanan.

Eh, tapi saat lagi jalan, kami melihat Bu Kiki dan Pak Rahmat sedang bercengkrama bersama.

“Eits… Pak Rahmat dan Bu Kiki ya…” ledekku :v.

“Monic, ibu kayak adiknya Pak Rahmat kan?”

Sontak aku dan Andini tertawa. Iya bener emang kenyataannya kalau dilihat dari wajah dan badannya :v *padahal sih masih mudaan Pak Rahmat.

“Good bu, lanjutkan… ” Akhirnya aku dan Andini berlalu.

Kami kembali ke bis dengan posisi duduk sama seperti berangkat tadi. Kecuali Salma dan Aqilah yang berebutan duduk dengan Ajeng. Akhirnya Salma duduk dengan Ajeng dan Aqilah sendiri di belakangnya.

Lagi-lagi, Bu Susi menawarkan jeruk kepada siapa saja yang ada di bis 1 dan aku langsung menyambarnya. Sayangnya, rasa jeruk itu asam :(.

“Bu, jeruknya asam banget, saya buang ya,” selorohku kepada Bu Susi yang bangkunya cuma dipisahkan karena jalan setapak yang menghubungkan depan dan belakang bis.

Tiba-tiba Pak Rahmat yang baru aja masuk ke bis langsung menceletuk, “Yang makan Monic sih, jadi asam rasanya, ”

Aku bengong sambil mengunyah jeruk asam yang udah ada di mulutku. Sisanya ya aku buang *mubazir ya buang-buang makanan* ke tempat sampah yang persis ada di depan kakiku. Setelah beberapa menit dan semua orang di bis 1 sudah lengkap kami berangkat.

Awalnya jengkel pas perjalanan baru dimulai karena tiba-tiba pulsaku habis padahal aku nggak pake buat internet (nyebelin yak) tapi untungnya masih bisa sms-an. Lanjut kami bercanda lagi, dan aku tertawa lepas melihat tingkah konyol Aqilah yang bener-bener gak bisa dijelasin lagi dengan kata-kata. Udah gitu sebis
isinya 40 orang lebih tapi yang berisik cuma aku, Aqilah, Anissa, Andini, Ajeng, dan Roya doang. Sisanya, anak kelas 7 dan 8 udah pada diem semua mungkin karena kecapekan ya. Begitupun dengan guru-guru pendamping yang ada di belakang, diem nontonin film atau bengong, aku nggak tahu deh.

Apalagi tingkah konyol Aqilah dan Ajeng yang satu ini :v. Mereka seperti lagi berlomba-lomba buat produk review yang bagus gitu wkwkwk.

“Ini namanya gery. Plastiknya tuh ya kayak gini,” Aqilah menunjukan bungkus makanan yang isinya sedang ia lahap.

Anissa tertawa.

“Biskuitnya tuh agak hancur-hanc-…” Perkataan Aqilah pun terputus.

“Enakan ini,” Ajeng langsung menunjukkan salah satu stik pocky green tea yang lagi dimakannya.

“Enggak enakan ini,”

“Enakan ini,”

“Ini, ”

Kami yang menyaksikannya tertawa.

“Enak dua-duanya dah,” jawabku setelah diserbu pertanyaan soal enakan gery atau pocky oleh mereka berdua.

Aku pun menggila disana. Mengganggu Anissa sampai orangnya marah-marah, sempet terjatuh dari bangku karena rem mendadak, sampai menertawakan hal yang tidak seharusnya ditertawakan :v. Ples sambil ngobrol dengan Bu Adit dan Bu Susi. Oh ya, kami mampir ke Cibubur dulu karena nurunin Bu Susi disana. Rumah beliau memang tidak jauh dari pintu tol Cibubur. Dan Bu Adit sendirian deh sampai ke Jakarta :3.

Sementara aku makin menggila sampai sekolah (yang kelelahan tapi masih bisa bercanda juga). Dan nggak kerasa jam empat kami sampai di sekolah, kami adalah bis terakhir yang sampai hahaha. Satu persatu dari kami menuruni bis dan mengucapkan terima kasih pada kakak leader bis beserta supirnya. Ternyata kedatangan kami disambut oleh kepala sekolah kami, Pak Edy yang berdiri di dekat pos satpam.

Akhirnya selesai sudah. Aku telah menjalani jalan-jalan bersama SMP percik untuk yang terakhir kalinya. Agak sedih tapi bahagia jufa rasanya. Intinya nikmati aja deh :v.

Sekian ceritaku sampai sini. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, dan terima kasih buat kalian (khususnya murid bahkan guru yang baca ini) yang udah membaca dan menghargai karyaku ini :). Dadahh hahaha.

Kamis, 8 Juni 2017.
Ditulis oleh yang lagi kangen sama seseorang dan masa lalunya 😁