Maafkan Aku Saudaraku. Yuhuu! Anggita nongol lagi setelah kuotaku habis. yaa.. gak tahu ini kenapa bisa connect sendiri malem-malem. ada wi-fi nya kali, ya… Kali ini aku ingin bercerita tentang seorang anak yang bernana Sofia, dia terpisah dengan kakak kandungya (saudara kembarnya). Ya udah yuk, kita mulai!

Pagi hari di sekolah, Sofia memperkenalkan dirinya karena dia murid baru di sana.
“Halo, namaku Sofia. Salam kenal!” kata Sofia.
“Sofia, silahkan duduk di samping Hana,” kata Bu Guru.

Sofia pun pergi menuju tempat duduk di samping anak berambut hitam legam juga cuek itu. Sambil duduk, mata Sofia tidak berhenti bekerja, tengok kanan dan kiri, “Aduh … bakal dapat teman, enggak, ya?” Batin Sofia cemas.

Pada saat di kantin, Sofia merasa semua tempat meja makan sudah terpakai. Lalu Sofia melihat sebuah meja makan kosong. Dia pun meminta izin kepada orang di sebelahnya, kemudian mendudukinya.
“Permisi, boleh aku duduk di samping kamu, enggak?” tanya seorang kakak kelas.
“Oh! Boleh, boleh, kok, Kak!” kata Sofia. Kakak itu pun duduk di samping Sofia.
“Nama kamu siapa?” tanya Kakak itu.
“Sofia Fakthul Jannah. Kakak bisa panggil Sofia, kok!” kata Sofia.
“Oh … kalau nama kakak Farah Fakthul Faizah, kok, nama kita ada Fakthulnya, ya?” tanya Farah.
“Hahaha! Kakak juga punya pita yg sama kayak bros aku!” kata Sofia. Farah melirik ikat rambutnya.

Seiring berjalan waktu, mereka menjadi akrab. Mereka bahkan seperti saudara kandung.
“Bagaimana, ya, kalau rasanya punya adik? Dulu aku juga punya adik yg namanya Sofia juga, sama seperti kamu, tapi kakak lupa nama panjangnya,” jelas Farah.
“Ooh … tapi kakak sudah seperti kakak kandungku, kok!” jelas Sofia. Farah tersenyum kecil.

Pada saat hari senin sehabis pelajaran, Sofia bermaksud menjemput Farah untuk makan di kantin bersama-sama. Lalu Sofia melihat Farah di lorong kelas 5A.
“Farah!” seru Sofia. Farah membalikkan wajahnya.
“Loh! Kakak?” tanya Sofia. Tetesan air mata Farah membanjiri bajunya yang basah.
“Hiks … hiks … huwaaa!” seru Farah berlari. Sofia tak sempat megejarnya.

Sampai di rumah,

Sofia memikirkan Farah yang sedari tadi terus menangis. “Kakak Farah kenapa, ya?” Gumam Sofia duduk di meja belajarnya. Sinar matahari menembus kaca kamar Sofia. Cahayanya menyorot pada sebuah buku usang dan sangat berdebu.
“Hah? Apa itu, kok, ada di kamarku?” kata Sofia mengambil buku itu. Kemudian dia membuka lembar demi lembar.
“Oh … kenang-kenangan masa kecilku,” kata Sofia. Namun, wajah Sofia tampak pucat pasi.
Sofia kemudian berjalan seperti raksasa menuju ruang tamu menghampiri Mama yang menonton televisi.
“Mama!” seru Sofia.
“Iya, nak? Kok pakai teriak-teriak segala?” tanya mama.
“Ini siapa?!” seru Sofia menunjuk foto dirinya sewaktu masih bayi dengan seorang anak perempuan yang memiliki pita sama seperti milik Farah.
“Masya allah! Kamu dapat dari mana itu, sayang?” seru Mama.
“Aah! Beritahu dulu ini siapa!” seru Sofia.
“Itu namanya Farah, dia kakakmu. Dulu, saat Mapa mau kerja, Farah ikut bareng Papa. Terus Papa kecelakaan, Papa meninggal. Sedangkan Farah, katanya masih hidup, tapi Mama enggak tahu Farah di mana,” jelas Mama. Sofia terdiam sejenak.
“Sofia tahu, mah! Besok Mama pasti senang!” seru Sofia. Mama mengangguk-angguk heran.

Keesokan harinya di sekolah, “Farah!” panggil Sofia memanggil Farah.
“Iya, Sofia?” tanya Farah. Sofia langsung memeluk Farah sambil terisak.
“Kamu kenapa nangis?” tanya Farah kaget.
“Kakak kemaren juga nangis!” seru Sofia.
“Itu kakak karena kakak kemarin kelilipan lalat, Fia,” kata Farah.
“Oh, iya, kakak di mana rumahnya?” tanya Sofia.
“Di panti asuhan,” kata Farah.

Setelah cerita panjang …
“Oh! Jadi kamu Sofia adiku, ya! Sofiaaa!” seru Farah saat sepulang sekolah.
Mereka pun berjalan ke rumah bersama-sama untuk bertemu dengan Mama.

~Tamat~