WUSHH!!!

Tiba-tiba perahu melesat cepat menuju bawah, lalu keatas lagi seperti roller-coaster. Sontak kami yang ada di perahu berteriak kencang-kencang, kaget. Akupun begitu, aku hanya memejamkan mata sambil berteriak. Bahkan aku merasa mau jatuh dari perahu itu. Dan akhirnya sampai bawah juga. Bener-bener itu efek kejutannya. Good. Lalu perahu berjalan seperti sediakala sampai ke tempat kami mengawali wahana tadi. Kami berjalan menyusuri jalan keluar wahana Ice Age ini. Beberapa anak ada yang mencetak foto kami saat menaiki wahana.

Setelah itu, kami menuju ke wahana terakhir yang akan kami naiki, Arung Jeram. Yang ikut yang bener-bener bawa baju ganti, kalau nggak akibatnya bakal fatal deh. Antrean Arung Jeram panjang banget tapi sekali maju cepat–seperti antrean Ice Age. Kami mulai mengantre, dengan kondisi sudah lelah. Kaki sudah pegal-pegal.

“Eh, Bu Nuni whatsapp nih, di grup kelas,” seru Mahesa sambil melihat-lihat hpnya yang baru bergabung dengan kami saat antre Arung Jeram. Orang-orang lainnya yang juga bergabung dengan kami adalah Deta, Gilang, keluarga Rayhan (Mama, Papa, dan Adiknya), sungguh lengkap sekali ya, wkwkkwkwk.

“Apa?” sebagian anak-anak bertanya kepada Mahesa.

“Lihat aja sendiri, ” beritahunya yang membuat semua anak membuka grup kelas di whatsapp di hp-nya–termasuk pula aku.

‘Hayo…hayooo…sebentar lagi jam 4 ya… siap2 Go Home’

Kira-kira begitulah isi pesannya.

Lalu Akram bertanya soal kumpulnya dimana, dan Bu Nuni bilang kalau ngumpulnya di pintu keluar dufan yang tadi foto-foto sebelum masuk ke dufan tadi pagi. Sedangkan sekarang pukul empat kurang sepuluh menit, nggak bakal keburu kalau mau tepat waktu ngumpul di pintu keluar.

Sambil menunggu antrean, kami bercengkrama tentang masa-masa kami selama tiga tahun menempuh sekolah menengah pertama di Perguruan Cikini. Kami tertawa dalam kesedihan. Eh, enak-enaknya lagi ngobrol, antreannya maju deh. Dan… Berhenti lagi persis di depan pintu masuk wahana Arung Jeram. Haduh, greget-greget gimana ya, kami mengalaminya lagi untuk yang kedua kalinya. Dan mereka kembali dalam obrolan.

Aku memilih untuk bermain hp, mengusir kebosanan yang sejak awal mengantre bersarang di diriku. Tak terasa 15 menit kemudian pintu masuk yang menghubungkan antara antrean dan wahana Arung Jeram dibuka oleh mas petugas wahananya. Kami langsung berjalan memasuki wahana, menyebrangi jembatan kemudian terus menaiki tangga hingga sampai di tempat kami memulai wahana.

“Udah, aku sama cewek-cewek aja,” usulku tapi nggak didengar sama anak-anak.

Akibatnya aku satu tempat dengan anak-anak cowok yang nggak sama cewek, dan Mama-Papa-adiknya Rayhan. Mulai berjalan, awalnya nggak ada yang aneh, makin lama kami kecipratan air, dan sebagian kami basah kuyup setelah keluar dari wahana.

Tapi ajaibnya, salah satu temanku yang satu tempat denganku yaitu Gilang, bajunya tidak basah sama sekali. Ajaib, bukan? Padahal sebagian besar orang yang habis naik jeram kayak habis mandi di sungai pakai baju. Jadi kesimpulannya kalau naik arung jeram sih, tergantung posisi duduk dan keberuntungan aja deh. Kalau lagi untung kalian bisa seperti Gilang, tuh.

“Lihat ini, bajuku nggak basah,” pamernya kepada anak-anak yang bajunya semi basah, bahkan ada kuyup kayak aku. Tapi kuyupnya cuma di kaos yang aku kenakan aja sih, celana jeansku tidak terlalu basah dan bisa kering dengan cepat. Untunglah, soalnya aku tidak membawa celana ganti.

“Gaya kamu,” kata Rani.

“Pamer, ” sambung Fira Delfi.

Setelah berganti pakaian, kami langsung berjalan menuju pintu keluar. Tapi anak-anak mau jajan dulu. Aku memanfaatkannya dengan mengambil pesananku di yoshinoya–yang sempat tertinggal gara-gara main Ice Age.

Setelah kembali berkumpul di stan makanan Shihlin (stan makanan yang rata-rata mereka pada mau mesen disana), ternyata sebagian besar dari mereka masih menunggu pesanan. Aku merasa bosan dan ingin cepat-cepat bergabung dengan anak-anak dan ketiga guru kami yang sudah menunggu sejak pukul empat di pintu keluar Dufan.

Kebetulan ada yang sepemikiran denganku, yaitu Nasya. Ya sudah, kami berdua menuju tempat berkumpul yang sudah ditentukan tadi.

Akhirnya, saat jam setengah enam kami semua baru berkumpul di pintu keluar. Sempurna. Dan, di saat inilah kami semua harus berpisah. Satu kelas dibagi lagi jadi beberapa mobil seperti saat berangkat tadi yang tujuannya ke sekolah lagi. Kami saling mengucapkan selamat tinggal, ada yang selfie-selfie, ada yang pelukan dulu, sampai akhirnya aku dan ketiga guru (bareng lagi ceritanya wkwkwk) yang terakhir meninggalkan area Dufan.

Tapi bukan berarti kami berempat pulang bareng. Bu Nuni memesan taksi yang tujuannya pulang ke rumah beliau. Tinggallah kami bertiga–aku, Bu Ari, dan Bu Adit yang naik grabcar menuju sekolah.

Dan lagi-lagi, supir Grabnya mengira kalau kami bertiga seumuran. Zzzzzzz…..

“Aku mah muridnya,” timpalku kepada supir grabnya. “dan kedua orang ini adalah guru kesayangan saya,” *aseeek*

“Saya kira kamu seumuran sama guru-guru juga,” kata supir grab.

*Monic langsung jleeeebbbb*

Dan fatalnya mamaku minta biar aku dianter dulu ke rumah tanteku. Sedangkan kami ke percik dulu. Lho, lho, lho, gimana dong? Sementara mamaku yang menjemput udah ada di rumah tanteku.

Bu Adit nge-whatsapp Bu Ari, karena kalau ngomong langsung nggak enak sama supirnya (padahal cuma depan belakang yaak).

“Udah bu, Monic naik grab bike aja kan terdeteksi tuh,”

Aku yang melihat pesan Bu Adit langsung berbisik ke Bu Ari yang duduk bersamaku di belakang, “Bu, tapi saya nggak dibolehin mama naik Grab Bike sendirian. Kalau ketahuan nanti bisa gawat saya,”

Bu Adit dan Bu Ari berpikir gimana caranya biar Monic selamat dan aman sampai di rumahnya.

Akhirnya kedua guru itu sepakat kami ke Percik dulu. Dan Bu Ari aja yang turun. Karena ternyata Bu Adit dan Bu Ari nggak tega ngebiarinin aku pulang sendiri *makasih yaa Bu Adit dan Bu Arii*. Dan sisanya tinggal aku dan Bu Adit yang bakal balik lagi ke Kemayoran, ke rumah tanteku.

“Ibu baik banget mau nganterin saya balik lagi ke rumah tante,” ujarku setelah kami berdua turun dari grabcar di depan komplek rumah tanteku

Dan, kami celingak-celinguk mencari sinyal di sekitar komplek, mencari jaringan di hp Bu Adit karena mau pesen grab bike untuk Bu Adit pulang ke rumah beliau. Kami mondar-mandir mencari sinyal bahkan sampai ke komplek seberang *LOL*. Tapi untungnya Bu Adit bisa memesan juga. Dan grab bikenya langsung muncul di depan mata kami.

Dan kami berdua berpisah juga. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada beliau karena udah berbaik hati mau nganterin aku sampai ke rumah tanteku.

Sampai di rumah, perasaanku bercampur menjadi satu, antara sedih dan bahagia. Sedih karena hari kelulusan makin dekat. Bahagia karena akhirnya bisa akrab lagi dengan semuanya, baik teman-teman sekelas maupun dengan guru-guru.

Hai gais! Terima kasih banyak buat kalian yang udah lelah membaca ceritaku tentang perpisahan kelasku di dufan sampai tiga part ini. Nantikan cerita-ceritaku yang lain hanya disini yeah!