Rahasia Terbesar Mama Kini Terungkap
Rahasia Terbesar Mama Kini Terungkap
in

Rahasia Terbesar Mama Kini Terungkap

Rahasia Terbesar Mama Kini Terungkap. Kukuruyuuk … ayam jantan berkokok membangunkan Sandra.
“Hoaahm …,” Sandra menguap sambil meliriki ke jam dinding.
“Sandra, bangun, nak!” panggil Bu Shintya, mamanya.
“Iya, ma!” Sandra segera bangun dan mengambil air wudhu untuk shalat shubuh.

Pukul 06.00, seperti biasa Sandra menyiram bunga di halaman rumahnya yang asri dan hijau segar, serta ayam yang berkeliaran membuat suasana pagi itu semakin berwarna.
“Sandra …, belajar dulu!” seru mama.
“Iya, ma! Sebentar!” balas Sandra. Sandra segera pergi ke kamarnya untuk belajar. Saat akan membuka buku pelajarannya, Sandra tak sengaja mendengar pembicaraan mama di telepon entah dengan siapa.
“Tenang saja, sayang. Nanti kalau hari ulang tahunmu mama persilakan tidur di sini selama dua hari. Tenang saja!” kata mama lewat telepon.
“Ma, telepon siapa?” tanya Sandra.
“Eh, maaf, say. Ditutup dulu teleponnya,” kata mama di telepon itu.
“Ma!” panggil Sandra.
“Maaf, sayang. Ada apa?” tanya mama.
“Itu siapa tadi?” tanya Sandra.
“Santika,” jawab mama.
“Siapa itu Santika?” tanya Sandra.
“Anaknya tante Wilda,” jawab mama.
“Oh … begitu,” Sandra kembali melanjutkan belajarnya dengan fokus.

Jam 07.00, Sandra segera bergegas ke sekolah, dan mama segera bergegas ke kantor.
“Ma, antar aku, ya!” pinta Sandra.
“Sandra, kamu ‘kan, sudah besar, harusnya kamu jalan kaki. Mama hari ini ada meeting penting di kantor,” kata mama.
“Ya, udah, enggak apa-apa, kok, ma,” kata Sandra.

Akhirnya, Sandra pergi ke sekolah sendiri. Saat ingin masuk ke gerbang sekolah, Sandra disusul oleh Zifa dan Ratih.
“Tunggu, Dra!” seru Ratih. Sandra tetap berjalan.
“Iih, kamu, kok, enggak berhenti, sih?” tanya Zifa.
“Malas aku berhenti,” kata Sandra. Zifa dan Ratih pun berjalan di samping Sandra.
“Oh, ya. Tumben kalian pagi banget,” kata Sandra lagi.
“Hehehe. Iya, Dra, kalau kami kesiangan kan nanti didenda sama Ibu Rina,” kata Zifa dan Ratih cengengesan.
“Oh,” kata Sandra.
“Kamu enggak piket, Dra? Bukannya ini hari Rabu?” tanya Ratih.
“Enggak. Piketnya diganti. Yang piket hari senin jadi hari Rabu. Kalian piketnya … si Zifa hari Jum’at. Kalau Ratih hari kamis,” kata Sandra.
“Kok kamu tahu?” tanya Zifa dan Ratih kaget.
“Iya, iyalah! Orang tempelan piket kan ada di kelas. Koe iki koyo opo to, ndok, ndok,” kata Sandra pakai bahasa jawa.
“Oh, gitu … sabtu kemaren kok aku enggak dengar, ya?” tanya Zifa.
“Yaa … kalau kalian kan denger-denger aja, sih. Sambil asyik main monopoli. Kan jadinya masuk telinga kanan keluar telinga kiri,” kata Sandra.
“Ya, udah, yuk, masuk ke kelas!” kata Ratih.
Mereka bertiga pun masuk ke kelas yang sama karena mereka sekelas dan kini mereka duduk di kelas V B.

Pulang sekolah pun tiba. Sandra menunggu di halte dekat sekolah sambil menunggu mama pulang.
“Aduuh, mana hari mendung lagi, ada guntur, mama belum datang, iih, sebel, deh!” dengus Sandra.
Karena kesal, Sandra pun pulang jalan kaki. Walaupun harap-harap cemas disambar petir atau hujan. Sampai di teras rumah, hujan membasahi Sandra mulai dari kepala sampai kaki. Untung saja, baju merah-putih dipakai hanya dipakai saat hari Senin, Selasa, dan Rabu.
“Assalamualaikum, mah,” salam Sandra membuka pintu.
“Waalaikum salam, Sandra?! Maaf, ya, Dra, mama enggak bisa jemput karena tadi telepon Santika,” kata mama.
“Enggak apa-apa, kok, ma,” jawab Sandra.

Esok paginya, Sandra terlihat menggigil kedinginan sambil menarik selimut panjang-panjang. Sandra juga tidak masuk sekolah. Mama pulang katanya jam 1 siang. Sedangkan kata mama, Santika dan Siska datang jam 12 siang. Sandra pun dengan sabar menunggu kedatangan sepupunya sambil membaca buku lalu … tertidur. Saat Sandra ingin bangun dia mendengar pembicaraan kedua anak kecil perempuan yang duduk di dekat tempat tidurnya.
“Wah, dia panas, kak,” kata anak kecil.
“Iya, dia demam, dan terkena flu,” kata satunya lagi.
Sandra langsung membuka mata karena sedang tak ingin tidur lagi. Sepertinya itu Santika dan Siska.
“Kalian Santika dan Siska, ya?” tanya Sandra mengambil tisu untuk mengusap ingusnya yang keluar.
“Iya. Kamu Sandra, kan?” tanya Siska.
“Iya. Maaf, ya, aku sedang sakit. Katanya Siska mau ultah, ya? Malam ini, kan? Maaf, ya, aku belum sembuh,” kata Sandra penuh penyesalan.
“Ah, enggak apa-apa, kok,” kata Santika.
“Iya,” timpal Siska.
“Aku buatkan teh, ya!” kata Santika pergi menuju dapur.
“Aku belikan obat pilek, ya!” kata Siska menuju toko di dekat rumah Sandra. Sandra sangat bersyukur mempunyai sepupu yang baik kepadanya.
Jam 1 siang tiba, mama pun sudah pulang. Sandra tertidur setelah meminum obat pilek dan tehnya, sedangkan Santika dan Siska menyambut kedatangan mama dengan senang hati.

Malam pun tiba, Sandra terbangun saat pesta diselenggarakan. Sandra hanya ada di dalam kamar karena malu dengan kondisinya yang sedang sakit. Pesta selesai, jam 20.00 Sandra kembali tertidur. Esok harinya, Sandra masih sakit. Siang hari, mama sedang mengantar Santika dan Siska menuju rumah tante Wilda.
“Aduuuh, kok, aku belum sembuh, ya?” keluh Sandra.
Esok harinya, Sandra sudah kembali ceria seperti biasanya.

Seminggu kemudian …
“Sandra! Cepat! Bersihkan halaman rumah!” bentak mama. Sandra kaget dan langsung mengambil sapu lidi dan menyapu halaman rumah.
Siangnya, saat Sandra merapikan rak buku milik mama di kamar, terdapat kertas terjatuh … SYUUU! Dan sampai tepat di tangan Sandra.

Sandra pun membaca isi kertas itu, dan kertas itu bertuliskan :
Untuk yang tersayang, Sandra Afida Mulya

Sandra, mama akan mengungkapkan sesuatu untuk kamu. Andai saja kamu tahu ini, kamu pasti akan sangaat sedih. Anak mama yang sebenarnya adalah Santika dan Siska. Maafkan mama, ya, Sandra tersayang.

Ceritanya sangat panjang, saat mama pulang dari berbelanja, mama melihat kamu menangis di dekat tumpukan sampah. Mama kasihan, siapa coba, seseorang yang tidak kasihan dengan bayi yang terus-menerus menangis di dekat tumpukan sampah?

Mama pun mengadopsi kamu. Karena mama takut kamu marah karena mempunyai saudara, mama menitipkan Santika dan Siska kepada tante Wilda.

Maaf, ya, memang kamu bukan anak mama yang sebenarnya. Tapi, ketulusan hati mama walaupun bukanlah mama yang sebenarnya akan terus mengalir di darah mama. Sekali lagi, mama minta maaf.
Dari mama tersayang,
Shintya Afida Destiany.

Sandra membacanya dengan dada berdebar. Jadi rahasia mama ini? Sandra segera menuju mama yang sedang asyik menonton TV.
“Mah! Aku minta mama jujur!” seru Sandra terisak.
“Jujur apaan, sih?” tanya mama.
“Siapa anak mama?” tanya Sandra terisak.
“Sandra, dong!” seru mama.
“Bukannya Santika sama Siska?” tanya Sandra dengan mengusap air matanya.
Mama berdiri dengan wajah kaget.
“Kamu tahu dari mana, sayang?” tanya mama.
“Ini!” seru Sandra memperlihatkan kertas yang dibacanya tadi.
Masya allah … bisik mama dalam hati.
“Memang mama bukan mamamu yang sebenarnya. Tapi kamu tetap sayang, kan?” tanya mama.
“Aku tetap sayang …,” kata Sandra memeluk mama.
“Tapi, mah,” kata Sandra. Tangisnya mulai reda.
“Apa?” tanya mama.
“Aku mau Santika dan Siska mama angkat lagi! Jadi saudaraku!” kata Sandra dengan muka berseri.
Mama mengangguk. Kemudian Santika dan Siska kembali ke rumah kelahirannya and they life happy forever …

~Tamat

Ayo Vote! Biar makin trending.

100 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Ditulis oleh Tata

Seorang gadis manis. yg baik hati dan kadang suka marah, kalau badmood. gadis ini mengaku dilahirkan di bumi pada 6-6-2007. kini, dia kelas 5. saat kelas 4, dia mendapat Ranking 1 di kelas. cita-citanya adalah DA atau Desainer dan Artis. hobinya menggambar, menonton Anime, menulis, membaca, menceritakan dongeng untuk adiknya. semoga bisa menjadi 10 penulis teratas!

Yuk tulis komentar kamu

Alamat email kamu tidak akan dipublikasikan. Yang memiliki tanda (*) harus diisi

Ribuan Kecoa Menyerang Mall

Ribuan Kecoa Menyerang Mall

Keseruan Berkemah di Curug Cijalu

Keseruan Berkemah di Curug Cijalu