in

SenangSenang TakutTakut SedihSedih KerenKeren KagetKaget NgakakNgakak

Akibat Cuek Dan Berbohong Kepada Guru

Akibat Cuek Dan Berbohong Kepada Guru
Akibat Cuek Dan Berbohong Kepada Guru

Akibat Cuek Dan Berbohong Kepada Guru. Hari Senin pagi itu, sekitar pukul setengah enam mamaku mengantarku ke sekolah. Setelah sampai di sekolahku, aku bersantai terlebih dahulu di mobil karena sekolah masih sepi. Sambil mendengarkan radio, aku melihat-lihat keadaan sekolah. Tak lama kemudian, lagu Indonesia Raya berkumandang tepat pukul 6 pagi di radio.

Beberapa menit kemudian, temanku Anissa menghampiri mobilku, lalu masuk ke dalam. Selang beberapa saat, aku mengajaknya untuk turun dari mobilku. Sebelum turun, aku menyalami mamaku, lalu turun bersama Anissa.

Saat aku berjalan bersama Anissa, aku melihat salah satu guruku yang bernama Bu Nuni sedang berjalan dari parkiran mobil menuju sekolah. Bukannya menyapa, aku dan Anissa malah ngumpet di salah satu mobil yang terparkir.

Kami menaiki tangga ke lantai tiga menuju kelas, sesampainya di ata. Anissa kelas 8-1, sedangkan aku kelas 8-3. Setelah itu, kami kembali menuruni tangga dan pergi ke lorong ruang guru. Kami mengobrol di sana hingga akhirnya bel tanda masuk sekolah berbunyi.

Baca juga: Cerpen pendek sekali

Setiap hari pada jam ini, biasanya adalah sholat Dhuha, maka kami mengambil mukena di ruang guru (kami menaruhnya di ruang guru agar tidak hilang dan karena disuruh juga oleh walikelas, hehehe).

***

“Mister, mau aku bantuin menyimpan buku tugas anak-anak enggak?” tawarku pada Mr. Danil, guru Bahasa Inggris saat bel tanda pergantian pelajaran berbunyi.

“Boleh, Monic. Bawa ke mejanya mister, ya!” perintah Mr. Danil.

Aku segera membawa buku-buku tugas milik anak-anak kelas 8-3 ke ruang guru. Di ruang guru tampak Pak Edy yang sedang makan dan Bu Nuni yang sedang bercengkrama dengan Bu Kiki. Aku sempat berdiam sebentar di meja Mr. Danil, kebetulan saat ini di belakang sebelah kiriku ada Bu Nuni dan Bu Kiki yang sedang berbincang.

Kali ini aku memilih untuk langsung keluar dari ruang guru. Biasanya sih, sebelum keluar ruang guru aku menyalami semua guru yang ada di ruang guru. Tetapi tidak dengan hari ini. Ada tujuan tertentu yang membuatku keluar dari kebiasaan baik tersebut.

Keluar dari ruang guru, aku menuju toilet untuk memperbaiki ikatan rambutku. Aku memang salah satu anak yang tidak berani membuka ikatan rambut di depan anak-anak. Tiba-tiba terdengar hentakan kaki yang mengarah ke toilet. Akupun mengintip dari pintu. Setelah mengetahui bahwa itu adalah Bu Nuni, segera aku menutup pintu toilet dengan membantingnya. Sebenarnya sih, menutup tapi tidak sengaja suaranya seperti membanting.

Baca juga: Karangan tentang teman baru

“Ngapain tuh?” heran Bu Nuni yang melangkah masuk ke toilet.

Aku menutup mulut, sambil bergumam di dalam hati, “Maaf ya bu, saya bukan membanting pintu, namun ingin menutup pintu. Saya ingin menghindari ibu untuk hari ini. Aku sudah tau akibat cuek dan berbohong kepada Guru pasti aku kena hukuman, tapi bagaimana lagi ya.”

Setelah beberapa saat, keadaan mendukung untuk aku melangkahkan kakiku ke dalam kelas, barulah aku membuka pintu serta melangkahkan kaki dimana hentakan kakinya tak terdengar sedikitpun, dan berlari menaiki tangga menuju kelas.

Istirahat dan Shalat Dzuhur

Bel tanda istirahat kedua berbunyi, menandakan sekarang pukul 13.00. Aku berjalan keluar kelas menuju kelas 8-1, menemui Anissa dan Ajeng.

“Sholat Dzuhur, yuk!” ajak Anissa.

Aku dan Ajeng mengangguk. Kami bertiga berjalan menuruni tangga menuju ruang guru. Setelah mengambil mukena, kami berjalan ke musholla dan menaruh mukena. Di musholla ada Andini dan Roya. Kami berwudhu di toilet dekat musholla.

“Nis,” panggilku sambil menunjuk orang yang di sebelahku, untungnya tak ketahuan siapapun kecuali Anissa. Di sebelahku bukan lagi Bu Nuni, melainkan Kak Era.

“Ya ampun…,” keluhku.

Iqamah pun berkumandang dan sholat Dzuhur berjama’ah dimulai.

Beberapa menit kemudian, sholat Dzuhur berjama’ah selesai dilanjutkan do’a. Selesai berdo’a, bukannya aku menyalami Bu Nuni, malah aku keluar musholla. Barulah saat aku selesai memakai sepatu, aku menyalami Bu Nuni. Sebenarnya sih, aku enggak mau. Ya, daripada dibilang enggak sopan. Sepertinya ketika aku menyalami beliau, beliau seperti ‘cepat-cepat’ melepaskan tanganku.

Berkunjung Ke Ruang Bimbingan Konseling

Sepulang sekolah, aku, Ajeng, dan Andini berencana untuk mencari Bu Shelly, guru BK (Bimbingan Konseling). Sekalian, karena kami bertiga ke lantai 3, aku mengambil barangku yang ketinggalan di kelas. Aku, Ajeng, dan Andini berpencar. Aku ke toilet, sedangkan Andini dan Ajeng pergi ke koridor.

Tak disangka, aku bertemu Bu Shelly di toilet. Hihihi… spontan, aku langsung berteriak kepada Ajeng dan Andini yang jarak berdirinya tak terlalu jauh dariku.

“WOYYY! BU SHELLY ADA DI SINI!” teriakku.

Baca juga: Cerita sangat seram

Andini dan Ajeng segera berbalik arah dan berlari mengarah ke Bu Shelly, lalu memeluk Bu Shelly. Duhh, lebay juga ya, kedua temanku ini! Sambil berjalan ke ruang BK, kami sedikit bercerita tentang keadaan kelas masing-masing tadi.

“Bu Shelly, di ruang BK ada siapa?” tanyaku.
“Ada Bu Nuni, Mas Ali,” jawab Bu Shelly.

Yahh, padahal mau curhat sama Bu Shelly, ehh ada Bu Nuni. Enggak jadi deh, nanti dihukum di ruang BK lagi. Pikirku dalam hati. Tapi…, pikiranku berubah dengan cepat, Sudahlah! Aku ke ruang BK kan mau ketemu Bu Shelly, bukan mau ketemu Bu Nuni. Cuek sajalah. Maka aku masuk ke ruang BK bersama Bu Shelly, sementara Ajeng dan Andini memilih untuk diluar terlebih dahulu.

Hukuman Anak Bohong

Bismillah…

Aku melangkah pelan memasuki ruang BK. Dan perkataan Bu Shelly benar. Ada Bu Nuni dan Mas Ali (karyawan sekolah). Melihat Mas Ali, aku langsung tos dengan Mas Ali. Sementara Bu Nuni menatapku dengan aneh. Tidak biasanya Bu Nuni seperti ini.

Bu Shelly yang merasa aneh dengan sikap Bu Nuni langsung bertanya, “Cemon, Bu Nuni kenapa? Cemon apain? Biasanya Bu Nuni baik sama Cemon,” Begitulah Bu Shelly memanggilku.

“Enggak tahu, bu.” Sahutku polos.
“Cemon salamin Bu Nuni dulu, dong,” kata Bu Shelly. Dengan tak ikhlas, aku menyalami Bu Nuni.
“Monic udah siap kan dihukum hari ini?” celetuk Bu Nuni. Mataku terbelalak.

Andini dan Ajeng masuk ruang BK.

“Monic, berdiri diantara empat ubin! Enggak boleh pegangan kursi,” cetus Bu Nuni tiba-tiba.
“Empat ubin itu gimana, sih?” tukasku pada Andini.
“Bu, empat ubin itu kayak gini, kan?” Andini mempraktekkan berdiri diantara empat ubin.
“Pinter!”

Bu Shelly pun keluar ruang BK. Diikuti pula Ajeng dan Andini yang keluar ruang BK karena disuruh Bu Nuni. Akupun berdiri diantara empat ubin, sesuai yang diperintah Bu Nuni tadi. Beberapa saat kemudian, sebab tidak terbiasa dihukum, aku menangis. Mas Ali menyuguhkan tisu untukku.

“Ihhh, mas, enggak usah bercanda ah!” timpalku kesal sambil mengelap air mataku.
Selang beberapa menit, Mas Ali keluar ruang BK. Tersisa diriku dan Bu Nuni di ruang BK. Aku berdiri diantara empat ubin seraya menyender, padahal kan enggak boleh!

“Monic, duduk!” suruh Bu Nuni.

Namun aku tak mau duduk. Aku menggelengkan kepalaku sambil nangis. Aku memang kayak kekanak-kanakkan kalau sudah dihukum. Berkali-kali Bu Nuni mengulangi perkataannya yang terakhir, namun aku ‘ngeyel’. Enggak mau duduk.

“Monic, ibu enggak marah kan sama Monic?” Tanya Bu Nuni kali ini. Aku menggeleng-geleng.
“Ya udah, Monic duduk, ya. Kan Monic murid kesayangan ibu. Ibu cuma pengen tahu Monic itu nurut sama ibu atau enggak,” katanya kali ini panjang kali lebar.

Bu Nuni kembali mengulangi kata pertamanya, dan akhirnya aku mau duduk.

Setelah itu…….

“Alvian, masuk!” Bu Nuni melambaikan tangannya ke arah luar. Aku pun menengok ke arah luar.
“Yeyy…,” sorak Bu Nuni. “Enak kan nik dibohongin?”

Aku hanya menampilkan ekspresi biasa saja, meski masih nangis. Sambil mengambil tisu…….

“Lho, kok langsung diambil? Minta dulu dong sama ibu… Ibu minta ya tisunya,”

Kali ini wajahku berubah jadi malu. Dan… Aku pun menutup mataku.

“Ciluuukkk… Baaa!”
Hmmm… Bu Nuni ngapain, sih?? Pake ngajakin main ciluk ba, emangnya aku anak kecil? Geramku dalam hati.
“Saya bukan anak kecil, bu!” Seruku sedikit kesal sambil membuka wajahku.
“Makanya, berhenti nangis dong. Nih tisunya,” Bu Nuni kembali mengambil dua tisu, dan aku menyeka air mataku.

Beberapa saat kemudian, Bu Nuni mengambil tisu lagi buat aku.
“Satu kan seribu, nah berarti karena ada enam tisu jadinya enam ribu,”
“Memang tisu bisa dijual, bu?” Jawabku. Bu Nuni tersenyum kecil. Suasana mulai membaik.

“Kok dari pagi ibu dicuekin sih? Guru-guru lain pada disalamin, cuma ibu doang yang enggak. Terus di dalam musholla tadi ibu enggak disalamin, cuma di luar doang. Kan Bu Nuni jadi sedih. Monic udah enggak suka sama Bu Nuni?” Kayaknya, ini curahan hati Bu Nuni yang bagiku paling dalam.

Baca juga: Mengajari adik huruf alfabet

Aku terharu mendengar perkataan beliau, namun tak sampai nangis. Meski kemarin aku telah membohongi Bu Nuni. Inilah alasan aku menghindari Bu Nuni hari ini. Takut dihukum karena telah membohongi beliau tentang ada tidaknya mobilnya di sekolah. Ya, kemarin aku ikut lomba marching band di Mekarsari. Sebelum berangkat, tim marching band harus berkumpul dulu di sekolah.

“Enggak ada apa-apa kok, bu.” jawabku berbohong. Sebenarnya aku menghindari hukuman Bu Nuni, tapi gagal total karena kejadian ini.

Suasana kembali berubah saat seseorang membuka pintu ruang BK, tepatnya seseorang itu adalah pak satpam. Hihihi… ternyata pak satpam memanggilku. Aku sudah dijemput.

..selesai.

Teman-teman, jangan mengikuti aku ya, akibat cuek dan berbohong kepada Guru, jadi dihukum padahal guruku baik. Guru adalah pahlawan dengan tanpa tanda jasa sekaligus orang yang paling berjasa kepada kita semua, karena tanpa ada guru yang mengajarkan kita tentang pelajaran dan kebaikan mungkin kita akan jadi anak yang bodoh.

Baca: kumpulan cerita pendek anak lainnya

Sumber Gambar: www.clipartbest.com | Akibat Cuek Dan Berbohong Kepada Guru

3 Komentar

Balas komentar
  1. Bagus sekali. Menggunakan bahasa sehari hari sehingga mudah di cerna. Unsur instrinsik cerpennya pun jelas. Amanat yang ingin disampaikannya pun sangat baik dan bisa dengan mudah diterima. Sudah terlihat memasukkan unsur psikologi dalam ceritanya. Teruskan kebiasaan menuliskan sesuatu yg dialami dan yg dipikirkan, pasti penulis cerpen ini akan menjadi penulis hebat.

Yuk tulis komentar kamu