in ,

NgakakNgakak SenangSenang KerenKeren

Aku Bukan Plagiator & Pencuri Naskah Drama!

Hantu Baik Penolong Anak Kutu Buku
Hantu Baik Penolong Anak Kutu Buku

Masih ingatkah kalian dengan cerpen yang berjudul ‘Hantu Baik Penolong Anak Kutu Buku?’. Itu lho, yang tokoh utamanya bernama Nuril, anak yang pernah dihakimi oleh teman-teman sekelasnya hanya karena Nuril meminjam nama temannya. Sekarang, kisah Nuril ada kelanjutannya, lho. Kini, Nuril telah menduduki bangku kelas 8, tepatnya 8-C. Dan… lagi-lagi dia sekelas dengan sebagian teman-temannya yang pernah sekelas ketika kelas 7, Gerald, Teuku, Frank, Laila, Tanti dan tentunya Grace yang sudah bersahabat dengan Nuril.

Pertama kali masuk sekolah, kelas 8-C kedatangan anak baru. Lebih tepatnya kedatangan teman lama. Kenapa dibilang teman lama? Baca dulu ceritanya, ya.

“Hai teman-teman, kalian sudah tentu mengenalku, bukan? Aku Rayya, anak kelas 7-A yang dulu pindah sekolah karena orang tuaku pindah tugas. Sekarang aku kembali karena Ayahku dipindahtugaskan kembali di sini. Sekarang aku senang sekali karena bisa melihat gedung sekolah ini, Guru-guru dan Teman-teman…,” Rayya bercerita panjang lebar.
“I miss you, Rayya!” teriak Laila dari bangku belakang.
“Laila enggak jelas!” sembur Putra.
“Putra asbun aja, deh.” Komentar Tanti, membela sahabatnya. Asbun adalah singkatan dari Asal Bunyi.
“Ya udah, karena kalian pastinya sudah mengenal Rayya, jadi enggak perlu lebih lanjut lagi ya. Kamu duduk di bangku keempat sebelah pojok kanan sana, tepatnya di belakang Nuril.” Perintah Bu Esti.
Rayya berjalan menuju bangku kosong di belakang Nuril. Nuril mencoba menyapa mantan anak kelas 7-A tersebut yang mana sebelumnya pernah menjadi teman curhatnya, namun tak terlalu dekat.
“Hai Rayya…,” sapa Nuril.
Dengan tampang sinisnya, Rayya membalas sapaan Nuril “Hai juga…”

***

Uhhh…! Tugas membuat naskah drama satu babak. Nuril paling senang sama yang kayak beginian. Pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi, Nuril kesal saat mengetahui bahwa membuat naskah dramanya berkelompok. Yahh…. Saat ditanya mau di kelompok mana, Nuril jawabnya ngasal. Nuril sih enggak peduli mau kelompok mana aja, asal mengerjakan dan dapat nilai. Pasalnya, dia enggak mau akrab sama anak kelas 8-C karena kejadian ketika kelas 7 dulu.
“Eh, Nuril. Kamu ya, yang buat naskah dramanya!” suruh Frank. Frank adalah ketua kelompok.
“Temanya apa?” tanya Nuril.
“Terserah kamu. Temanya yang paling bagus menurut kamu,” jawab Frank
“Oke..,” jawab Nuril menutup pembicaraan.

Nuril segera berpikir mencari inspirasi. Ia membuka jendela kelasnya sebab tidak ada guru di kelasnya. Nuril takut salah dengan idenya, di sisi lain dia takut dia dan teman sekelompoknya tidak mendapat nilai. Ya, mau enggak mau dirinya harus membuat naskah drama. Tiba-tiba, Nuna datang dengan mengagetkan Nuril dari belakang. Masih ingat kan, Nuna itu siapa? Nuna adalah makhluk gaib baik hati sekaligus teman yang mau menolong dan membantu Nuril dalam kesusahan.
“Hei! Bengong aja,” sapa Nuna
“Nuna, kamu itu ngagetin aku aja. Aku lagi bingung, nih.” jawab Nuril
“Bingung kenapa?” jawab Nuna
“Aku takut salah. Karena di pandangan teman-temanku aku selalu dianggap salah.” jawab Nuril
“Jangan negative thinking terus dong, Ril.” jawab Nuna
“Tapi… mereka juga selalu negative thinking kepadaku.” jawab Nuril
“Susah memang rasanya tidak memiliki pikiran yang negatif jika kita berhadapan kepada orang yang kita benci…” jawab Nuna
“Tuh, kamu tahu perasaanku sekarang.” jawab Nuril
“Ehh, kamu ngomong sama siapa, Gil? Enggak jelas! Orang gila!” Nampaknya, Laila mendengar percakapan Nuna dan Nuril dan menganggap Nuril gila. “Sekilas Info! Sekilas Info! Nuril memang benar-benar orang gila!” seru Laila heboh di kelas yang berteriak cukup nyaring.

***

Hari ini hari Selasa. Hari pengumpulan naskah drama satu babak pelajaran Bahasa Indonesia. Nuril menyerahkan naskah dramanya ke Frank, setelah itu kembali duduk santai di kelas.
“Nuril!” panggil Frank.
Nuril menengok ke arah Frank yang sedang duduk di bangkunya. “Apa?”
“Naskahnya mana?” tanya Frank

Nuril mengambil naskahnya yang ada di tas, lalu memberikannya pada Frank. Frank pun membacanya, namun tiba-tiba…
“Nuril!” panggil Rayya yang juga merupakan teman sekelompok Nuril di kelompok drama.
“Ada apa?” jawab Nuril
“Ini naskahnya bikinan sendiri atau copast (copy paste) dari google?” tanya Rayya
“Bikinan sendiri lah. Aku bukan plagiator, tapi ada sedikit copy-paste…,” Ups! Penyakit asbun Nuril kambuh, deh.
“Serius, nih. Aku enggak bercanda. Bikinan sendiri atau copast dari google?” tanya Rayya
“Itu asli dari otakku sendiri. Fresh, kok!” jawab Nuril
“Jadi, ini bikinan sendiri atau ngambil dari google?” Kini giliran Laila yang bertanya. Untung, Laila bukan teman sekelompok Nuril.
“Ya bikinan sendiri lah. Aku enggak plagiat,” Kali ini Nuril meninggikan suaranya karena mulai kesal.
“Beneran?” tanya Laila dengan nada menuduh
“Beneran lah. Masa aku bohong,” jawab Nuril dengan nada pelan
“Bikinnya hari apa?” Giliran Tanti yang bertanya.
“Sabtu kemarin,” jawab Nuril yang seakan terpojok oleh mereka
Huhh! Mereka ngapain sih? Mereka itu ngurusin aku banget, deh! Keluh Nuril dalam hatinya. Saking kesalnya, Nuril pun hampir marah kepada Laila karena kesalnya.

***

Istirahat pun tiba. Waktunya Nuna beraksi!
“Nun, kamu mau ngapain lagi?” heran Nuril melihat Nuna aneh.
“Ada deh…, pokoknya ini bakalan nyusahin kelompok Laila.” jawab Nuna
“Kamu enggak boleh gitu, Nun.” ucap Nuril mengingatkan
“Laila kan, udah nyusahin kamu. Sekarang giliran kita yang menyusahkan dia,” jawab Nuna
“Jangan, Nun!” jawab nuril

Tapi, Nuna tidak mau mendengarkan perkataan Nuril. Dia segera melesat ke kelas Nuril. Dalam beberapa detik ia pun kembali.
“Lihatlah reaksi Laila saat pelajaran Bahasa Indonesia nanti, Ril!” ujar Nuna dengan senyum rahasianya.

Kringgg….! Bel tanda selesai istirahat berbunyi. Pelajaran Bahasa Indonesia segera dimulai. Naskah drama dari beberapa kelompok ditagih oleh Bu Nuna. Hihihi… kok bisa sama ya, nama teman Nuril dan guru Nuril? Entahlah… Sementara itu, kelompok Laila yang beranggotakan Laila, Grace, Teuku, dan Putra kehilangan naskah dramanya.
“Lho? Kok naskah dramanya enggak ada?” bingung Laila.
“Ada tangan-tangan jahil, nih.” Teuku menengok ke arah Nuril yang sedang berkumpul di meja guru karena kelompoknya dipanggil oleh Bu Nuna. Kemudian, kelompok Laila menghampiri kelompok Nuril.
“Ngapain kamu kesini?” heran Frank.
“Ini nih, Nuril mencuri naskah drama kelompok kita!” kata Laila.
“APA?” kaget Frank, Rayya, Gerald, dan juga Bu Nuna yang matanya terbelalak.
“Beneran, Ril?” tukas Gerald.
“Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan…! Tadi kamu nuduh aku plagiat naskah drama alias copast di google, sekarang aku dituduh kalau aku mencuri naskah drama kelompok kamu. Kalian maunya apa, sih?!” omel Nuril.
“Kita mau kamu itu mengakui kesalahan kamu, Ril!”
Mengakui kesalahan bagaimana. Nuril saja tidak mencuri naskah drama kelompok Laila, melainkan Nuna yang mencuri naskah dramanya. Nuna pun mencubit Laila.
“Aduh!” keluh Laila.
“Kamu kenapa, La?” tanya Rayya.
“Kamu ya, yang mencubitku?” tuduh Laila.
“Kok aku, sih?! Tuduh tuh, Nuril!”
“Ehh, udah, udah. Kok jadi bertengkar kayak gini. Duduk semuanya!” lerai Bu Nuna. “Khusus untuk kelompok Laila, naskahnya udah ada kok. Ini ada di meja,”
“HAH?”
“Jadi….,” ucap Laila dengan perasaan seperti es campur, antara bahagia, bingung, dan malu.
“Jadi kalian menuduh Nuril yang tidak-tidak?” sambung Bu Nuna.

Laila dan teman sekelompoknya menundukkan kepalanya dan berdiri di depan kelas.
“Makanya, kalau mau menuduh harus ada bukti terlebih dahulu. Ini akibatnya jika kalian seperti ini. Terpaksa, kita harus menonton pertunjukkan drama yang akan dipentaskan oleh… Laila, Grace, Teuku, dan Putra! Ayo tepuk tangan!” sambut Bu Nuna.

“Alamakk…! Belum hafal teks dramanya, bu!” Secara bersamaan, kelompok Laila menepuk dahi masing-masing. Sementara Nuna, yang berada di samping Bu Nuna, hanya tertawa kecil melihat kejadian tersebut.

——
Sumber Gambar: photobucket.com

Yuk tulis komentar kamu