in ,

SedihSedih KerenKeren

Aku Ingin Punya Teman – Part 1

Aku Ingin Punya Teman
Aku Ingin Punya Teman

Aku duduk seorang diri dibangku kelas. Hanya bisa menatap pancaran kebahagiaan dari raut wajah teman-temanku bermain di lapangan sekolah. Aku iri, ingin seperti kepada mereka, bisa bermain bersama.

Tiba tiba ada sekelompok anak datang dari depan pintu. Aku sedikit senang, tetapi rasa takut tiba-tiba hinggap di benak, mereka pasti akan membulliku.

Jujur, aku tidak tahu, mengapa mereka seperti itu, mugkin kah aku hina dimatanya?.

Aku adalah Simaya Athaya. Biasa dipanggil Sima. Semua anak di kelas, memanggilku simata empat. Ntahlah mengapa mereka seperti itu, mungkin karena kaki ku pendek sebelah.

Baca: Besties artinya?

Terlahir cacat bukan keinginanku, tetapi sudah terlahir sebagai manusia saja aku bersyukur kepada Tuhan.

Memang meraka sanggup berada di posisiku? Kenapa harus membenci atau memusuhiku? Aku juga ingin punya teman, bermain bersama, dan tidak dibeda-bedakan.

Beberapa orang menghampiri, “Hey! Nanti pulang sekolah, kamu datang dan temui kami di belakang sekolah. Awas kalau tidak datang!”

“Mau diapakan aku?” gumamku dalam hati. Semua anggota tubuh bergetar, tanpa menjawab sepatah katapun, aku hanya menganggkuk pertanda mengiyakan.

Ingin rasanya tidak datang, tapi tidak mungkin. Karena mungkin saja, ketika aku datang, sepertinya mereka akan lebih semena-mena.

Jam pelajaran kedua, telah dimulai. Ibu guru masuk ke dalam kelas. Pelajaranpun dimulai. Aku mengeluarkan buku di dalam tasku, kemudian belajar seperti biasa.

Baca: Solusi anak tidak mau sekolah

Tida bisa konsentrasi belajar, mereka yang merasa jagoan itu malah tertawa-tawa tanpa rasa penyesalan, tidak sedikitpun mereka merasa berdosa, bahkan sesekali melempariku dengan bola kertas.

Andai mereka bisa merasakan ini, pasti tidak akan lagi melakukan hal yang sama lagi. Terkadang, pada titik ini aku merasa lelah, tidak ada orang yang bisa menolongku, setidaknya jika aku punya teman, mungkin mereka bisa membelaku.

‘Kriiiing!’ suara bel pulang berbunyi, pertanda waktu pulang tiba.

Ibu guru telah berpamitan, serta tidak lupa memberika tugas, kemudian keluar dari dalam kelas. Ingin rasanya aku bercerita kepadanya, tetapi aku sangat takut.

Baca:
Cara meredakan amarah
Teka teki matematika

Aku pun berusaha memperlambat, membereskan bukuku dengan sangat lambat. Mereka sudah memberikan kode agar aku ke belakang sekolah. Lalu aku pergi keluar dan menuju halaman belakang sekolah.

Bersambung! Aku Ingin Punya Teman  Part 2, ya!

Kamu mau menulis cerita seperti ini juga? Tulis sekarang!

Yuk tulis komentar kamu