in

Aku Tidak Mau Pakai Kacamata

Aku Tidak Mau Pakai Kacamata
Aku Tidak Mau Pakai Kacamata

Jam telah menujukkan pukul setengah sepuluh malam, tapi aku masih menatap kertas soal latihan dan buku pelajaranku sambil mengucek kedua mataku. Besok ulangan…. dan aku merasa belum siap. Belajar sampai larut malam itu gagal fokus.

Awalnya aku sudah diperintahkan tidur oleh Bunda. Saat aku berbaring ingin tidur dengan keadaan lampu mati, aku baru ingat kalau besok ada ulangan Matematika, walaupun mudah, tapi aku masih harus belajar. Aku belajar dengan keadaaan lampu mati, dan tiduran, jadi gak terlalu jelas.

Pada saat aku sudah merasa yakin dengan ulangan besok, aku pun tidur.

Keesokan harinya…
Aku sudah sampai sekolah dengan seragam rapi, masuk kelas dan memberi salam kepada teman–teman sekelas. Dan… membaca buku dan soal latihan Matematika (lagi).

2 jam pun berlalu, saatnya pelajaran PKn, ketua kelasku, Rayya, memanggil Mrs. Ross.
“Keluarkan buku catatan!,” kata Mrs. Ross.

kita mau catat yang nanti ditulis di papan tulis!” kata Rayya saat masuk kelas. Murid–murid pun melakukan apa yang di perintahkannya.

Beberapa menit kemudian Mrs. Ross datang…
“Sudah baca do’a? catat yang di papan tulis ya!” kata Mrs. Ross.
“Oke Miss…!” kata murid-murid.
Kelas pun menjadi sunyi, hanya terdengar goresan pulpen dan spidol, semua sibuk menulis. Tapi lama-lama jadi berisik lagi…
“Sher, sudah selesai belum catatnya?” tanyaku.
“Belum, memang kenapa?” tanyanya.
“Aku gak kelihatan tulisannya, habis spidolnya makin lama makin gak nyata.” kataku mengeluh.
“Pakai kacamata dong!” ucap sherin.
“Aku tidak mau pakai kacamata!” kataku.

Dengan cepat, seluruh pelajaran-pun berakhir, waktunya pulang, aku pulang menunggu Bunda, harusnya aku pulang naik jemputan, tapi hari hari ini Bunda mau menjemputku, entah kenapa aku juga tidak tahu.
“Kitty sayang, ayo pulang” kata Bunda.
“Eh, Bunda ayo Bun!” kataku.

Di mobil…
“Bun, kok tumben Bunda jemput Kitty?” tanyaku.
“Hari ini, Bunda mau beli kacamata yang baru, yang ini udah jelek dan Bunda mau bawa kamu buat tes mata, katanya kamu sudah tidak kelihatan tulisan di papan tulis kan?” tanya Bunda.
“Oh, iya, semoga hasil tesnya bagus” kataku.

Ternyata tempat tesnya tidak jauh dari sekolahku, jadi cukup cepat sampai di Optiknya.
“Bunda mau beli frame-nya saja kan?” tanyaku.
“Iya, kamu langsung tes aja ya” kata Bunda.
Mataku pun dites, cara tesnya cukup aneh, tidak seperti di dokter. Tapi tidak apa–apalah…
“Setelah di tes mata adik sebelah kiri -1,5 dan kanan -0,75, mau langsung beli kacamata?” tanya petugas di sana.
“Langsung aja mba, Kitty, pilih frame-nya tuh…” kata Bunda.
“Yah… aku tidak mau pakai kacamata!” kataku dalam hati.
“Huh…” keluhku.
Akupun memilih frame kacamata sesuka hatiku, tapi sebenarnya aku malas.
“Oke bu, jadinya besok ya” ucap mba penjaga optik.
“Baik, terima kasih mba,” ucap Bundaku.

Keesokan harinya sepulang sekolah, kacamata itu sudah ada di atas lemari kecil di samping tempat tidurku. Aku memandangnya dengan tatapan kesal, ingin aku patahkan rasanya, Aku Tak Mau Pakai Kacamata!. Malu aku kalau pakai kacamata ke sekolah. Ya… walaupun kata orang kalau pakai kacamata jadi makin cantik, tapi aku gak percaya diri. Lagi pula kalau pakai kacamata kan bikin pusing.
“Kitty, mulai besok kamu pakai kacamata ya…” kata Bunda.
“Yah… Bunda… Kitty kan malu…” jawabku.
“Tapi kalau kamu gak kelihatan ke papan tulis bagaimana?, masa pinjam punya teman lagi, sudah gak usah ngelawan lagi, kamu harus percaya diri!” kata Bunda.
“Huh..,”

Keesokan harinya…
Aku terus menatap kacamata itu, pakai tidak ya, huh… pakai saja deh. Mungkin aku di sekolah ditertawakan teman-teman akan hal ini. Nasib… nasib…
“Kitty!, itu kamu?, tambah cantik aja deh!” kata Mawar.
“Iya betul!” kata Felicia.
“Hm… makasih!” kataku.
Lama-kelamaan aku sudah terbiasa menggunakan kacamata, dan sekarang aku sudah gak meminjam catatan ke teman lagi!.

-Tamat-
—————-
Sumber Gambar: www.clipartpanda.com

Yuk tulis komentar kamu