in

SenangSenang KerenKeren

Solusi untuk Nina yang tidak mau sekolah

Solusi untuk Nina yang tidak mau sekolah
Solusi untuk Nina yang tidak mau sekolah

Kenapa tidak mau sekolah? Nina Kalayrie, atau kerap dipanggil Nina, adalah nama dari seorang anak perempuan yang berumur 10 tahun. Nina perempuan yang imut dan cantik. Orangnya juga pintar, dan pandai bersosialisasi.

Sebelumnya rambut Nina panjang dan lebat, warnanya coklat ke merahan, cantik deh. Kenapa sebelumnya? Karena beberapa hari kemudian, rambut cantik Nina dipotong karena memiliki banyak ketombe. Itu-pun terpaksa. Nina sangat sedih. Seharian dia merajuk pada orang tuanya.

Dan karena rambutnya pendek, sudah 2 hari, Nina tidak bersekolah. Padahal dia adalah ketua kelas. Nina malu dengan rambutnya. Ia takut diejek dan ditertawai oleh teman-teman nya.

Malam ini, Nina sedang makan malam di kamarnya, sendirian. Ia menutup jendela dan gorden jendela. Ia tak ingin seorang-pun mengetahui tentang rambutnya.

Baca: Puisi Pendidikan

“Nina…,” panggil ibu memasuki kamar Nina.

Nina tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya.

“Besok, Nina sekolah, ya! Ibu mohon. Nggak apa-apa deh, Nina marah dan ngambek sama ibu dan bapak, tapi, Nina harus sekolah,” bujuk ibu.

“Nggak mau! Kalau aku ditertawakan bagaimana? Ibu mau tanggung jawab?” kata Nina sedikit membentak.

“Kalau soal itu, sih, mudah, Nina… kamu tidak perlu menghiraukan mereka. Atau Nina mau pindah sekolah?” kata ibu.

“Pindah sekolah? Emang ibu ada uangnya? Nggak ah, aku lebih baik nggak sekolah daripada meninggalkan teman-teman aku yang baik,” ujar Nina.

“Ya sudah, home schooling bagaimana?” tanya ibu masih membujuk Nina untuk sekolah.

“Tetep nggak, bu! Aku malu. Habis, ibu memotong rambut aku pendek banget. ‘Kan sudah bagus rambut aku panjang,” ucap Nina menyalahkan ibu.

“Maaf, deh. Rambut kamu banyak ketombe, sih… Makanya, dirawat yang baik rambutnya,” nasihat ibu.

“Lho, kok ibu jadi nasihatin aku? Jelas ibu juga bersangkutan atas masalah ini. Udah ah, aku nggak nafsu makan!” Nina meletakkan piringnya ke tangan ibu, lalu pergi dari kamar.

Baca: Mimpi yang jadi kenyataan

Keesokan harinya…

Tilulit… Tilulit…

Blackberry Nina berbunyi. Nina mengangkat telepon. Telepon itu berasal dari temannya, Sarah.

“Halo.”

“Nina, kok kamu nggak sekolah?” tanya Sarah.

“Eh, eh… eee… Ah, emang kamu belum berangkat sekolah?” Nina balik tanya.

“Ya nggak sekolah, lah… ini aja hari minggu. Kamu gimana sih?” kata Sarah.

“Oh iya, ya.”

“Oh, ya, ngomong-ngomong, siang nanti aku ke rumah kamu, ya. Sambut aku, ya,” ujar Sarah.

“Eh eh, tapi, Sar!” Saat Nina ingin menyela, Sarah sudah menutup telepon.

“Duh, kacau, deh! Tetep saja, aku harus menutupi rambutku. Tapi bagaimana?” pikir Nina.

Nina berputar-putar mengelilingi dalam rumah sembari berfikir.

Tiba-tiba, matanya menatap sebuah kain. Nina mengangkat kain itu. Ternyata itu adalah kerudung. Nina memakai kerudung tersebut. Kebetulan, Nina memakai lengan panjang.

“Kerudung yang hebat. Dengan begini, tidak ada yang tau tentang rambut ku.”

Siangnya…

“Assalamu’alaikum… Nina!” Sarah mengetuk pintu.

“Wa’alaikumsalam… eh, Sarah! Ayo masuk!” kata ibu.

“Nina-nya ada, bu?” tanya Sarah.

“Oh, ada. Nina!” panggil ibu.

Nina keluar dengan kerudungnya. Ia terlihat alim dan makin cantik. Sarah sampai hampir tidak mengenali wajah Nina.

Baca:
Mengelan karakter anak
Gelang Persahabatan

“Nina, itu kamu?” tanya Sarah.

“Hiks, masa’ kamu nggak kenal Nina yang imut, cantik dan gemezin sih?” ujar Nina dengan slogan khasnya.

“Hahahahha!” tawa Sarah.

“Ibu ambilkan cemilan dan minuman dulu, ya.”

Nina duduk disebelah Sarah.

“Nina, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu menutupi rambut kamu dan memilih berkerudung sepertiku?” tanya Sarah.

“Em, sebenarnya begini, Sarah…” Nina menceritakan semuanya. Dan pada akhirnya dia melepas kerudungnya.

“Jadi kamu malu?”

“Iya.” Nina menunduk. “Jadi aku pakai kerudung ini untuk menutupi rambutku,” lanjut Nina.

“Jangan khawatir, aku akan membelamu, jadi dengan rambutmu, kamu masih bisa sekolah,” kata Sarah meyakinkan Nina.

“Enggak perlu, Sar… mungkin pilihanku akan berhenti sekolah,” ujar Nina pelan.

“Eh, aku nggak akan biarin kamu berhenti sekolah karena rambutmu saja!” teriak Sarah. “Kita harus mencari cara!” tekad Sarah.

Beberapa menit kemudian…

“Duh, ini sih mencari cara lewat mimpi,” gerutu Nina melihat Sarah yang tertidur di sebelahnya.

“Aha!” Tiba-tiba, Sarah terbangun. Membuat suasana yang tenang menjadi suasana kaget.

“Ya ampun, Sarah! Jangan kagetin ih,” seru Nina.

“Aku punya solusinya,” bisik Sarah penuh misteri.

Hari Senin kemudian…

Nina masuk sekolah ditemani Sarah dengan memakai solusi dari Sarah. Saat melewati koridor, semua anak terkejut dan melempar perhatian ke arah Nina.

“Nina?”

“Apa itu Nina?”

Baca:
Membaca bahasa tubuh
Cerita Inspiratif pendek

Berbagai pertanyaan dilontarkan selama perjalan Nina dan Sarah menuju kelas. Nina hanya tersenyum dan sekali-kali menatap Sarah.

Ya sekarang, Nina memakai kerudung. Untuk menutupi kekurangan nya yang sekarang, kerudung menjadi perisainya. Lagipula, dengan ini, dia sudah mengamalkan ajaran agamanya. Nina juga ikut merasakan perubahannya.

Jadi kesimpulannya… kalian harus tetap percaya diri jika kalian memiliki kekurangan. Yang bisa kita ambil dari Nina adalah, kita tidak boleh membentak orang tua, dan harus menghargai apa yang diberi oleh orang kepada kita. Apapun itu.

Pelajaran yang bisa diambil dari Sarah adalah, kita harus membantu orang lain, dan menutupi aib orang atau tidak membesarkan keburukannya.

Terima kasih telah membaca cerita anak: Solusi untuk Nina yang tidak mau sekolah. Sampai jumpa di cerita berikutnya, ya… 🤗🤗🤗

Kamu mau menulis cerita seperti ini juga? Tulis sekarang!

Yuk tulis komentar kamu