in

Ayah Yang Berbohong Kepadaku – Part 1

Hari kemerdekaan diperingati setiap tanggal 17 Agustus, pada hari itu juga aku dilahirkan. Sayangnya aku tidak sempat melihat Ibuku yang meninggal ketika melahirkan-ku. Sampai sekarang Ayah merawat-ku sendiri, dari waktu aku masuk taman kanak-kanak sampai sekarang aku sudah kelas 5 Sekolah Dasar.

Setiap hari sarapan pagi selalu ada, semua pakaianku tersusun rapih di lemari, bukan karena aku rajin mencuci dan memasak tetapi karena ayahku yang selalu mengerjakannya semua. Ayah tidak pernah mengeluh bahkan meminta-ku untuk membantunya, pintanya hanya satu “Agar aku menjadi orang pintar dan membanggakannya”.

Setiap hari Ayahku selalu mengantarkan aku sekolah dengan berjalan kaki, karena lokasi sekolahku tidak jauh dari rumah kontrakan-ku. Aku tinggal di Ibukota, tepatnya sekitar Tanah Abang. Disana sangat padat penduduk dan ramai para pedagang yang bertetangga denganku. Aku beruntung karena mereka semua sangat menyayangi-ku.

Perkenalkan namaku Mentari Eka Wardhani, orang-orang memanggil-ku Mentari atau Tari. Setiap hari sebelum mengantarkan aku ke sekolah, Ayah selalu sudah rapih mengenakan pakain kemeja kantornya. Ayah dan aku selalu berangkat bersama-sama, seperti biasa sebelum meninggalkan aku di depan pintu gerbang Ayah selalu berkata “Belajar yang rajin ya Nak, jangan ngelamun, jangan malu bertanya jika tidak mengerti”, kalimat selalu terucap dari mulutnya sambil memeluk-ku.

Ayahku bangga kepadaku, karena aku selalu menjadi juara sekolah dan mendapatkan beasiswa dari dulu sampai sekarang. Mungkin itu juga yang menjadi alasan aku sangat di sayang oleh tetanggaku. Mereka sangat ramah dan selalu mengajak aku bermain dan menemani aku ketika Ayah masih kerja. Ayah selalu khawatir jika Deni tetanggaku yang selalu pulang bareng bersamaku dia les dulu, karena aku harus pulang sendiri.

Aku sangat senang menulis, apapun itu asal aku ingat selalu aku tuliskan pada buku harian-ku. Cita-citaku ingin bekerja di Bank seperti Ayah, selalu disiplin dengan waktu dan tegas mengambil keputusan. Ayah selalu bercerita banyak tentang pekerjaannya yang membuat aku ingin menjadi seperti dirinya.

Suatu hari aku dan teman-teman sekolah berencana untuk mengunjungi salah satu panti asuhan untuk memberikan bantuan, setelah itu kami diajak juga ke pabrik pembuatan Tahu, tujuannya agar kami mengetahui bagaimana proses pembuatannya. Ibu Anita yang memandu kami, beliau adalah Guru yang baik dan selalu menyayangi muridnya.

Ada kejadian yang mengejutkan ketika aku berkunjung ke pabrik itu. Kami hanya bisa melihat dari atas, jadi kami hanya bisa melihat dari atas saja proses pembuatannya. “Agus, ini jangan terlalu lama nanti bisa basi!”, teriak seorang mandor yang memerintahkan pekerjanya. “Maaf, tadi saya memindahkan ini dulu”, jawabnya sambil menunjuk tahu yang siap di goreng. “Agus…, ko suaranya mirip suara Ayah ya…?”, gumamku memastikan itu bukan Ayah. Ternyata setelah ……

——–
Baca lanjutannya di bagian 2 ya…. 😀
Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh hehe

Ayo Vote! Biar makin trending.

99 points
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 100.000000%

Ditulis oleh Keona Faneta

Dengan menulis aku bisa menuangkan rasa gundah yang selama ini aku pendam, dengan menulis juga aku belajar merangkai kata.

Years Of Membership

Yuk tulis komentar kamu

Alamat email kamu tidak akan dipublikasikan. Yang memiliki tanda (*) harus diisi

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.