in

Ayah Yang Berbohong Kepadaku – Part 2

Aku pastikan kembali apakah itu Ayahku atau bukan, ternyata itu betul Ayahku. Rasanya ingin sekali menangis melihat Ayah bekerja membanting tulang untuk Aku. Ingin rasanya menemui dan memeluknya, namun bu Guru meminta kami segera kembali ke mobil untuk segera kembali ke sekolah.

Seperti biasa apa yang aku tahu aku tulis di buku harianku termasuk kejadian ini. Aku tidak ikut kembali ke sekolah, karena bu Guru menawarkan murid-murid yang ikut untuk pulang lebih awal khususnya aku, karena rumahku dilewati jalur mobil menuju sekolah.

“Tari, apakah kamu mau turun?”, Tanya bu Guru kepadaku. “Iya Bu”, jawabku. Aku berhenti di depan warung bi Ida. “Mentari, mampir dulu ini ada makanan buat kamu”, panggil bi Ida kepadaku. “Iya Bi”, aku berjalan masuk ke warungnya. Mengetahui Ayahku belum pulang bi Ida memintaku untuk makan dulu di sana.

“Mentari, Ayah kamu kerja dimana sekarang? Setau bibi sudah hampir 8 bulan yang lalu Ayah kamu cerita katanya dia di PHK dari bank”, Tanya bi Ida. “Hah, sudah 8 bulan kok Ayah tidak pernah cerita”, gumamku dalam hati. Aku tidak menjawab pertanyaan bi Ida dan lebih memilih untuk menanyakan kak Linda anaknya yang masih kuliah. “Kak Linda itu kuliah di mana ya Bi?”, aku bertanya balik. “Oh, dia kuliah di kampus Trisakti”, jawabnya sambil tersenyum. Karena sudah mulai sore aku pamit untuk pulang ke rumah dengan maksud mau merapihkan rumah yang biasa dilakukan oleh Ayah. Tempat tinggalku kecil dan kami hanya berdua, jadi tidak perlu waktu lama mengerjakannya.

Tidak seperti biasanya Ayah pulang larut malam, sampai-sampai aku tidak tau Ayah pulang jam berapa. “Tari, bangun sudah siang kamu harus sekolah”, Ayah membangunkanku. Aku langsung mandi dan mengenakan seragam sekolah. Sepertinya Ayah ingin menutupi masalah yang ia hadapi, Ayah berpakaian seperti pegawai biasa dan mengajak aku sarapan. “Yuk Nak, Ayah terlambat nanti”, ucapnya mengajak aku untuk segera menyelesaikan sarapanku.

Kami berjalan menuju sekolah seperti biasa, tidak lupa Ayah mencium keningku dan mengatakan “Belajar yang rajin ya Nak, jangan ngelamun, jangan malu bertanya jika tidak mengerti”, kalimat yang selalu diucapakan sambil memeluk-ku.

Aku berlari masuk kelas karena memang agak kesiangan. Aku belajar seperti biasa tetapi sedikit merasa malas karena kepikiran Ayah terus. Aku harus bagaimana ini tidak bisa konsentrasi, pikirku mencari cara agar bisa nyaman belajar. “Tari, apakah kamu mengeri”, tanya bu Anita yang dari tadi memperhatikanku melamun. “Tari kamu ditanya tuh”, kata Heni teman sebangku mengingatkanku. “Iya..Iya.. Bu”, jawab aku seperti tersadar dari lamunanku. “Kamu ada masalah apa atau sakit?”, Tanya bu Anita kembali. “Tidak Bu”, jawabku.

TeeeTTT !!!, bel pulang sekolah berbunyi. Aku dan semua murid pulang ke rumah masing-masing, sebagian ada yang ikut les dan melaksakan piket kelas. Sesampainya di rumah aku kaget karena Ayah ternyata ada di rumah sedang duduk di depan TV. “Tari, kemari”, panggil Ayahku. Aku mendekatinya dan Ia memelukku dan menangis, “Ayah kenapa ko menangis?”, tanyaku. “Ayah minta maaf telah berbohong selama ini, semua itu Ayah lakukan agar kamu bisa fokus belajar. Ayah sudah baca buku harian kamu yang tertinggal di kamar, Ayah membaca semuanya”, jawab Ayah sambil mengelus rambutku. “Iya Ayah, jika Ayah piker aku akan malu, Ayah salah, aku bangga punya Ayah yang sangat sayang sama aku, aku gak akan malu ko. Mulai sekarang Ayah jangan melarang aku untuk membantu Ayah, aku belajar mandiri Yah”, jawabku.

Ayahku berbohong karena Ayahku sayang sama Aku.

Tamat. bagi kalian yang belum membaca yang pertamanya bisa klik ini

Yuk tulis komentar kamu