in

KagetKaget KerenKeren

Buang Cover, Biarkan Isinya

Buang cover, Biarkan isinya | Kisah anak yang dibully.jpg
Buang cover, Biarkan isinya | Kisah anak yang dibully.jpg

Buang Cover, Biarkan Isinya. Ini aku. Seseorang yang sudah terbiasa hidup tanpa perhatian dalam bentuk perasaan dari siapapun. Aku merasa sangat risih mendapat perhatian dari orang yang tidak pernah tahu apa dan siapa diriku, dengan cara yang benar apalagi cara yang salah.

Seperti saat pagi menjelang siang ini.

“Siap, berdiriii…” Sang ketua kelas menyiapkan sekaligus menyuruh teman-teman sekelasnya berdiri untuk memberi salam kepada guru bahasa Indonesia.

“Dirapikan dulu seragam dan perlengkapannya nak,” Bu Guru yang berdiri di depan kelas mengingatkan.

“Wah bagus Aulia, baju seragamnya sudah diganti,” puji Bu Guru melihat perubahan Aulia.

Baca juga: Dibully teman sekolah, balas aja dengan prestasi

Mata Bu Guru kembali berseliweran ke seluruh kelas, hingga akhirnya menangkap pemandangan seragamku. Aku memang duduk paling depan persis meja guru, makanya kalau membuat kesalahan pada kelengkapan seragam selalu kelihatan.

“Seragamnya masih yang SMP ya,” begitu komentar Bu Guru untuk yang kedua kalinya.

Aku mengiyakan komentar beliau lalu menundukkan kepala. Sebenarnya aku tahu, harus mengganti baju seragam pramukaku yang kukenakan saat SMP (yang dikenakan laki-laki) dengan baju seragam pramuka perempuan SMA. Hanya saja, ada suatu halangan sehingga aku belum bisa membelinya.

Seketika berbagai sorakan langsung memenuhi ruangan. Sudah dua minggu berturut-turut aku diperlakukan seperti ini oleh orang-orang yang ada di kelas saat pelajaran bahasa Indonesia hari Rabu.

“Yaaaaaaaaa, bagaimana sih?”

“Huuuuuuuu,”

Sempat terlihat olehku dua anak perempuan yang bajunya sama denganku berusaha mengeluarkan bajunya supaya tidak ketahuan Bu Guru. Mereka sih jelas aman karena posisi duduknya di tengah kelas. Lagipula Bu Guru tidak akan mengedarkan pandangannya ke daerah sana.

Baca juga: Contoh soal sumpah pemuda

“Banyak mulut kalian,” decakku kesal akhirnya. “emang cuma aku yang bajunya kayak gini?”

“Wah, waaaaah,” sorak anak-anak yang duduk di belakang.

Tiba-tiba ada yang nyeletuk, “ye, emang lo doang,”

Emosi marahku menyeruak hingga ke ubun-ubun, namun ditahan sekuat mungkin agar tidak terlaksana sekarang. Karena aku tahu, sekuat apapun membela diri, tetap saja mereka yang menang. Karena sudah jelas jumlah mereka lebih banyak dan posisiku memang salah. Cuma aku ingin mereka tidak memojokkanku. Itu saja. Lah, dua anak yang pakaian seragamnya sama denganku saja dibiarkan. Kenapa cuma aku yang seakan-akan dipermalukan disini?

“Sudah, sudah, tidak boleh memojokkan,” Bu Guru berusaha membuat ruangan menjadi kondusif kembali. Setelah itu, beliau melanjutkan ucapannya, “jadi seragam pramuka perempuan SMA harus dikeluarkan bajunya, bukan dimasukkan. Bajunya juga yang kantong bawah, bukan kantong atas seperti laki-laki,”

Kok nggak adil begini sih? Ada dua anak perempuan lain yang bajunya serupa denganku, tapi tak pernah kena tegur. Apalagi salah seorangnya ukuran bajunya sangat ketat, seperti baju untuk bepergian bukan untuk bersekolah. Tapi mereka tidak pernah ditegur oleh Bu Guru. Ya ampun, kenapa tata tertib tidak berlaku untuk semua orang yang ada di sekolah ini sih? Kalau aku ditegur, seharusnya kedua anak perempuan yang duduk di tengah kelas juga harus ditegur dong. Bukan cuma aku yang selalu jadi bahan olokan teman-teman sekelas.

Akupun melamun, hingga akhirnya tersadar saat ketua kelas memberi aba-aba.

“Memberi salam!”

***

Hai, aku Yerica Maharani telah kembali dari hiatus panjangku. Apa kabar kalian? Masih setia baca situs penulis cilik nggak? Hihihi.

Baca juga: Apa perbedaan paspor dan visa

Jadi intinya, kalian harus mematuhi tata tertib dimanapun kalian berada ya. Selain itu, keadilan juga harus ditegakkan. Jangan hanya yang terlihat yang harus dieksekusi, justru yang tak terlihat bisa lebih berbahaya lagi.

Dan kenapa aku pakai judul Lihat Cover, Biarkan Isinya? Coba kalian lihat alur cerita yang aku bikin. Jelas hanya tokoh aku yang ditegur karena duduknya paling depan, lebih tepatnya di depan meja guru lagi. Sedangkan dua anak yang tidak ditegur itu duduknya di tengah kelas jadi tidak terlalu kelihatan.  Oke, jadi sekian. Terima kasih 🙂

Kamu mau menulis cerita seperti ini juga? Tulis sekarang!

Participant

Ditulis oleh Yerica Maharani

Yerica Maharani mengaku turun ke bumi untuk menuntaskan misinya yaitu membuat diri sendirinya menjadi lebih bebas pada tahun 2003. Ahlinya tertawa, bergaje-ria, dan tidak pernah bisa serius--kecuali dalam hal kasih sayang dan masa depan *ekhem.

Years Of MembershipStory Maker

2 Komentar

Balas komentar

Yuk tulis komentar kamu