in

Cake To Care

Cake To Care. Sambil makan roti, Evelyn menonton berita tentang anak-anak kecil yang tinggal di kolong jembatan, tidak punya makanan dan tidak bersekolah. Betapa beda dengan Evelyn, malas untuk sekolah, mau makan jika menunya sesuai dengan keinginannya serta rumah yang megah.
“Ma aku pergi ya!” Katanya.
“Mau kemana?”
” Mau main sama Fay dan Adel” jawab Evelyn.
“Oke! Hati-hati, pulang jam 10 ya!”
“Siap deh!”

Bersepeda Ke Rumah Teman

Evelyn mengeluarkan sepedanya dari garasi rumah, kemudian mengayuhnya.
“Lihat berita tadi pagi?” Tanya Fay.
“Lihat, kasian mereka!” Gumam Evelyn.
“Mereka ingin bersekolah.” Kata Evelyn lagi.
Adel mengangguk. ” Eh, ini ada kue, kalian mau?”
“Tentu!” Sambut Fay senang. Kue Buatan Adel memang super duper lezat.
“Bagaimana cara menolong mereka ya?” Kata Evelyn yang masih kepikiran.
“Kasih saja mereka kue!” Kata Adel sambil agak terkikik.
“Hei! Ide bagus! Kita buat Cake To Care!” Ucap Evelyn.
“Hah?!” Kata Fay bingung.
“Iya, nanti kita buat kue bareng-bareng terus kita jual, hasil jualnya kita sumbangkan untuk mereka yang membutuhkan!” Ucap Evelyn.
“Good Idea! Keren! Jadi? Kapan kita buat kue?” Tanya Adel.
“Kayaknya kita harus…… ehmmm.. rapat dulu” Kata Fay.
” Yuk! Di rumahku!” Ajak Evelyn.

Mereka yang tadi ditaman sudah berpindah ke rumah Evelyn.
“Tumben main kesini?” Kata mama.
“Iya ma, kita ada rapat penting”
Mama menggelengkan kepalanya dengan heran.

Mereka bertiga berjalan ke kamar Evelyn.
“Kita buat kue apa ya?” Tanya Fay bingung.
“Kamu suka kue apa?” Tanya Evelyn kepada Fay.
“Aku suka cupcake strawberry dengan krim blueberry dan chocochip. Hmm, lezat!” Jawab Fay.
“Kamu?” Tanya Evelyn kepada Adel.
“Aku suka Cupcake bertumpun tiga dengan rasa anggur, apel hijau dan Strawberry”
“Kamu sendiri?” Tanya Adel.
“Aku suka kue coklat di atasnya kue lagi tanpa rasa dengan topping bling-bling rasa Strawberry, serta coklat warna warni”
“Kita bisa jadikan untuk Cake To Care!” Kata Fay.
“Setuju!” Ucap mereka berdua.

Setelah rapat yang mereka bilang penting itu dengan waktu kurang lebih 2 jam. Keesokan harinya mereka berkumpul lagi di rumah Evelyn.
Tok….tok…tok.
Mama membuka pintu.
“Evelyn! Ada teman kamu nih!” Teriak mama.
“Ayo masuk” Kata mama lagi.
Mereka berdua tersenyum kemudian mengikuti langkah mama.
“Hay!” Sapa Evelyn.
“Udah bilang?” Kata Fay.
Evelyn menggeleng.
“Hmm.. Ma Evelyn mau bilang….”
“Bilang apa?”
“Evelyn , Fay sama Adel buat Acara Cake To Care. Nanti kita jual kue-kue itu, terus hasil jualan buat mereka yang membutuhkan.”
“Wah… mama setuju banget!”
“Makasih ya ma, tapi jualannya dimana?”
“Kamu bisa jualan di dekat toko butik mama, disana masih ada tanah yang cukup untuk jualan kalian.”
Mereka bertiga senang.

CAKE TO CARE

3 jam kemudian selesai membuat kue mereka berangkat menuju butik mama. Dengan meja dan taplak mereka berjualan.
Adel memasang bendera bertuliskan CAKE TO CARE.
Beberapa menit kemudian ada beberapa orang yang datang.
“Acara apa ini?” Tanya seorang ibu-ibu.
“Ini Cake To Care bu. Uang hasil penjualan akan di berikan kepada teman-teman yang tidak mampu” Jelas Adel.
“Hebat! Kalian patut di contoh! Ibu pesan kue-kue ini masing masing 5 buah.”
Mereka bertiga tersenyum lebar.
Masing masing kue di jual 10.000.
“Semuanya jadi 150.000. Terimakasih” Kata Fay.
Ibu itu tersenyum ramah.

“Uangnya sudah sekitar 4 Juta nih” Ucap Fay senang.
Kue-kue tersisa sekitar 8. Beberapa jam mereka menunggu tidak ada yang datang.
“Gimana nih kuenya? Udah jam 4 sore”
“Hmm, kita berikan saja kue dan uanggnya kepada mereka.”
“Setuju!”
Setelah Evelyn menelepon Mamanya untuk menjemput mereka. Mereka langsung berangkat ke kolong jembatan. Sebelum berangkat mereka mengambil baju-baju bekas yang masih layak pakai lho!

“Makasih kak!” Kata mereka semua yang berjumlah 16 anak.
“Ini juga ada kue, tapi hanya 8” Kata Fay cemas.
“Bisa kita bagi dua kok kak!” Ucap seorang anak kecil bernama Siska.
Fay tersenyum lebar, dia mengingat dirinya dengan adiknya yang enggan untuk berbagi.
Mereka bermain hingga jam 8 malam di temani mama, Fay dan Adel sudah menelepon orang tua mereka masing-masing untuk meminta izin, mereka juga belajar bersama.
“Kita harus pulang!” ucap Adel.
Anak-anak disana langsung sedih.
“Besok kami datang lagi! Kita belajar bareng!” Hibur Evelyn.
Mereka tersenyum senang.
“Datang lagi kak! Hati-hati!” Mereka melambaikan tangan.

Mereka bertiga senang bisa membantu sesama, hal ini dimulai dari senda gurau Adel. Fay belajar untuk saling berbagi, Evelyn belajar untuk sekolah lebih giat, dan mereka bertiga belajar harus menghargai apa yang kita punya, apa pun itu, karena kita lebih beruntung dari pada mereka.

Yuk tulis komentar kamu