in

Cerbung Anak – Melestarikan Budaya Wayang Kulit – Part 1

Cerbung Anak - Melestarikan Budaya Wayang Kulit - Part 1
Cerbung Anak - Melestarikan Budaya Wayang Kulit - Part 1

Cerbung Anak – Melestarikan Budaya Wayang Kulit. Kresna. Itulah nama anak baik hati dari daerah Purwokerto. Senyumnya ramah dengan mata yang besar dan tajam. Cara bicaranya sangat jelas dan kadang singkat, hanya bila diperlukan saja.

Kresna masih duduk di bangku kelas empat di Sekolah Dasar. Seharusnya, dia duduk di kelas dua, tetapi, dia mengalami akselerasi. Tak lama lagi, ia langsung naik ke kelas lima Sekolah Dasar.

Liburan ini, Kresna mengunjungi kakeknya yang bekerja di sebuah toko wayang. Toko itu besar, peminatnya juga tidak begitu banyak. Kata kakek, alasannya adalah karena banyak orang di jaman sekarang yang tidak mempedulikan budaya lagi. Akhir-akhir ini, Kresna memang sering melihat orang-orang pergi ke mall dan sibuk dengan gawainya. Sudah sangat jarang orang yang peduli dengan kesenian, paling hanya mereka yang ditularkan orang tuanya atau yang ikut-ikutan saja.

Baca juga: Cerita anak Sprei Baru Kesayanyan

Kresna duduk di dekat tumpukan wayang. Dia melirik ke arah topeng yang pejang di dinding. Sepertinya, topeng-topeng itu digunakan untuk pertunjukkan. Kakek menepuk pelan punggung Kresna. Beliau berkata, “Mengikuti tren jaman sekarang dan gaya-gayaan seperti orang luar negeri itu tidak masalah. Tapi, kita harus peduli pula dengan budaya kita, jika bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikannya, masa orang asing?”

Kresna mengangguk mengerti. “Kakek, topeng-topeng ini untuk penampilan budaya, ya?” Kresna bertanya. “Ya! Waktu kakek masih muda, membuat banyak topeng dan wayang untuk pertunjukkan budaya. Tapi, sekarang sudah jarang penampilan dan pertunjukan seperti itu. Dulu bisa satu bulan beberapa kali, sekarang paling hanya setahun sekali.” Jawab kakek dengan raut muka sedih.

Kresna dan kakeknya mengobrol tentang wayang. Bahkan kakek mengajari cara membuat wayang. Meskipun Kresna masih diberikan kertas untuk dibuat menjadi wayang, Kresna merasa senang. Kakek tidak yakin bahwa Kresna dapat membuat wayang langsung dari kayu dan kulit. Teman, wayang yang dimaksud disini adalah wayang kulit. Proses membuat wayang cukup lama, tapi sangat menyenangkan.

Baca juga: Cerbung Anak Rahasia Sebuah Persahabatan

“Wah! Ternyata lama juga ya, kita membuat wayang kulit, tapi sangat menyenangkan, ini adalah hobi yang paling kakek sukai.” Kakek meregangkan otot-ototnya yang pegal. “Selain tidur?” ucap Kresna bercanda. “Ya. Selain tidur,” Kakek tertawa, “Bagaimana jika kita memesan makanan?”

Kakek mengajak Kresna ke garasi. Ya, kakeknya juga tinggal di toko wayang kulit. Di lantai 1-2 adalah tempat berjualan. Di lantai 3 ada ruangan untuk membuat wayang dan ada 3 kamar, 2 kamar mandi, dan 1 dapur. Di loteng, ada kamar cadangan, kamar mandi cadangan, dan gudang wayang.

Di garasi, kakek dan Kresna naik ke mobil. Mereka menuju sebuah rumah makan. Kresna kira, dia akan diajak untuk makan ayam goreng tepung. Tapi, mereka menuju rumah makan masakan Sunda dan Jawa di kaki gunung. Kresna memesan ayam goreng kremes, yang dicap lezat oleh kakek. “Lihat, kakek! Ada ikan-ikan hidup di air ini!” Kresna menunjuk ke air. Lesehan tempat mereka makan tersebut ada di atas kolam yang tidak terlalu dalam, dengan jembatan kayu untuk kembali ke rumah makan. “Ya, ini asyiknya. Lingkungan dan budaya masih sangat terjaga.”

Setelah makan dengan lahap, Kresna dan kakek pergi ke spot wayang dan topeng. Hanya sedikit, sih, namun Kresna dan kakeknya sangat senang saat melihat-lihat mereka.

Kresna dan kakeknya pun pulang. Mereka kembali berbincang tentang wayang di mobil. “Namamu, Kresna, adalah salah satu tokoh wayang juga. Kakek sangat menyukai nama tersebut. Ketika orang tuamu ingin memberi nama Herrald, kakek menggantinya. Jadi, nama lengkapmu sekarang adalah Kanisius Kresna Setya.” Kata kakek dengan bersemangat. Kresna menjadi ikut tertarik dan bersemangat.

Baca Juga: Contoh Karangan Cita Cita Jadi Arsitek

Di Toko, Kresna mencoba memainkan wayang. Ia sangat berhati-hati. Sementara kakek pergi ke lantai atas, Kresna seperti bermain boneka menggunakan wayang. Namun, ia menggunakan dialog yang dicetak di atas sebuah kertas. Sepertinya itu cerita yang sengaja digunakan.

“Aha! Rupanya kamu sedang mendalang. Itu cerita Mahabharata. Cerita tentang leluhur para Pandawa.” Kakek memunculkan kepalanya di dekat tangga yang sedari tadi memperhatikan tingkah Kresna, “Kamu mau belajar mendalang?” Kakek bertanya. Kresna menoleh, “Ehmmm… mau!.” jawabnya, seraya meletakkan wayangnya perlahan-lahan.

Bersambung! Cerbung Anak – Melestarikan Budaya Wayang Kulit – Part 2

Kamu juga bisa loh membuat konten seperti ini. Buat karyamu sekarang!

Ditulis oleh Belva

Instagram: @lituhayu_art
You can call me Belva

Love to write and design things

Story MakerYears Of MembershipEmoji AddictContent Author