in

NgakakNgakak TakutTakut SenangSenang KerenKeren

Cerita Anak 17 Agustusan – Gelas-gelas yang Merdeka

Cerita Anak 17 Agustusan - Gelas-gelas yang Merdeka
Cerita Anak 17 Agustusan - Gelas-gelas yang Merdeka

Cerita Anak 17 Agustusan – Gelas-gelas yang Merdeka. Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata ’17 Agustus?’ Tepatnya, hari kemerdekaan Indonesia, yang akan diperingati sebentar lagi.

Pasti salah satunya adalah Sangsaka Merah Putih, mungkin karena sering melihat penjual bendera saat menjelang hari kemerdekaan. Tapi, taukah kamu?

Kegiatan 17 Agustus juga dapat merusak lingkungan. Misalnya sampah-sampah yang ditinggalkan masyarakat usai lomba. Untuk itu, sebagai pelajar yang baik, jika melihat itu… ambil, ya 😀

Cerita Anak 17 Agustusan

Ok, kita mulai ceritanya…

Baca:
Doa sebelum belajar
Arti kepala dingin
Orientasi adalah
Cerita fabel ikan dan burung

Maria, namanya. Seorang insan biasa yang masih berumur belia. Tangan Maria selalu aktif. Ia sangat menyukai pelajaran SBK atau tentang seni budaya. Karya yang dihasilkannya bagus-bagus.

Menjelang 17 Agustus, Maria diminta membuat sesuatu yang berguna untuk sekolahnya, yang akan dilombakan dalam menyambut Hari Kemerdekaan. Maria sangat bersemangat, namun dia bingung karena masih belum punya ide..

“Ibu!” seru Maria memeluk ibunya.

“Kok belum berganti pakaian? Tadi ibu menyuruhmu mengganti pakaian lebih dulu sebelum makan.” Ibu mengangkat spatulanya.

“Hehe… Bu, Maria diminta untuk membuat sesuatu, untuk Hari Kemerdekaan nanti,” kata Maria tersenyum.

“Oh, ya? Senang mendengarnya, Maria. Kamu akan membuat apa?” tanya ibu.

“Maria belum tau, bu. Ibu ada ide?” Maria balik bertanya.

“Hm… entahlah. Cepat ganti bajumu!!” titah ibu menunjuk kamar Maria. Maria yang tadi berdiri di depan ibu, segera hilang dengan sekejap.

Maria menatap dirinya di depan cermin. “Apa ya?” Gumamnya. Tiba-tiba suara temannya memanggil. Maria pun segera membuka pintu. Oh, rupanya Dinda dan Alya.

“Maria, ayo bermain!” ajak Dinda.

Maria menoleh ke arah ibunya. “Nanti dulu ya, aku ingin makan. Kalian masuk dulu saja,” katanya.

“Terima kasih.” Dinda dan Alya menjawab kompak.

Setelah makan, Maria ikut bergabung bersama teman-temannya di sofa. Berbincang sebentar, dan lalu bermain di pos ronda. Base Camp terindah di kampung Maria.

“Maria kamu ingin membuat apa?” tanya Dinda.

“Aku belum tau.”

“Aku sih, mau beli bendera plastik untuk rangkai. Itu mudah,” kata Alya.

“Aku hanya ingin membeli cat merah dan putih. Lalu mengecet pot bungaku.” Dinda membanggakan diri.

“Ah… Itu mudah sekali!” kata Alya menyepelekan.

“Punyamu sangat biasa, Al!” Dinda bersikeras.

“Itu sulit tahu!!!!!”

Sementara 2 temannya bertengkar, Maria menatap tumpukan sampah yang sudah memenuhi tempat sampah. Ada gelas plastik yang dibuang, plastik/ keresek berwarna, tali rafia, sedotan bekas, dan lain sebagainya.

“Lihat saja nanti!”

Maria menghampiri tempat sampah itu. Mulai menyentuh berbagai benda bekas dan sesekali mengangkatnya. Dinda melirik Maria, dan menghentikan perkataannya. Alya mengikuti lirikan Dinda. Tatapan mereka menjadi seperti jijik.

“Maria!” panggil Alya. “Apa yang kau lakukan?!”

Maria tidak menoleh. Ia mengambil gelas-gelas bekas itu, dan meletakkannya di keresek berwarna putih yang berasal dari tempat sampah itu sendiri.

Alya menepuk pundak Maria. Maria menoleh.

“Apa yang kau lakukan? Mengumpulkan sampah itu?” Dinda memiringkan kepalanya.

“Tentu saja. Kau pikir aku sedang makan?” jawab Maria tidak serius.

Dinda dan Alya saling berpandangan. Tidak mengerti dengan gerakan tangan Maria.

“Dinda, aku minta cat merah putihku, ya,” pinta Maria. “Aku juga minta beberapa sedotanmu, Alya,” lanjut nya.

“Untuk apa?” Pertanyaan itu terlontar secara serempak.

“Ada, deh….”

Sesampainya di rumah…

Bau sampah mengisi ruang keluarga. Ibunya merasa terganggu. Ibu Maria melontarkan ocehannya kembali. Tapi kali ini Maria hanya mengangguk dan masuk ke kamar.

Ia mengeluarkan semua sampah itu. Ada sekitar 30 gelas plastik bekas. Ada 22 sedotan berwarna. Ada 17 plastik berwarna putih, dan 14 plastik warna merah. Tapi rafianya sekitar 5 meter panjangnya.

Maria membawa semua sampah itu ke dapur. Ia mencucinya supaya bersih. Dilihatnya, ibunya sedang membuang plastik berwarna merah dengan sampah di dalamnya.

“Ibu!” Maria menghentikan pergerakan ibunya. “Buat Maria saja.” Ia mengambil plastik itu.

“Mau kamu apakan, hah?!”

“Terima kasih!” serunya. Ia kembali masuk ke kamar. Tentunya setelah mencuci sampah sampah tadi, termasuk milik ibu.

Ia mulai menggerakkan tangannya.

Gelas-gelas plastik itu akan ia kaitkan dengan tapi rafia. Lalu cat dari Dinda akan ia manfaatkan untuk mewarnai gelas itu, sehingga menjadi rangkaian gelas merah putih.

Plastik merah dan putih, akan ia gunting bentuk persegi panjang yang berukuran 3×10 dan akan ia gabungkan satu sama lain, sehingga terbentuk Bendera merah putih.

Sedotan akan menjadi tangkai bendera. Jadi, bendera dapat berdiri tegak. Maria akan merekatkan bendera ke tangkai menggunakan straples.

Sekarang, rangkaian gelas sudah jadi, hanya menunggu cat milik Dinda datang, dan beberapa sedotan Alya.

Sedotan itu akan menjadi rangka boneka tutup botol. Plastik dari ibu, berisi tutup botol yang banyak sekali. Membuat kerangka sedotan itu sulit. Karena itu membutuhkan kesabaran.

Setengah jam kemudian, sedotan dan cat itu datang. Maria mulai melanjutkan tugasnya. Berharap ini akan sesuai dengan ekspektasinya.

Siang hari berlalu, sore hari datang. Setelah makan siang, Maria masih sibuk. Ibu mendatanginya, karena Maria terus di kamar seharian ini.

“Ini, bu, aku sedang mengerjakan tugas.”

Ibu hanya membantu mengecat beberapa gelas. Lukisan merah ibu rapi. Setelah 20 gelas yang dikerjakan ibu, beliau menerima tamu. Jadi, sisanya Maria yang mengerjakan.

Lima kerangka tutup botol sudah siap. Setelah itu, Maria mulai memasangkan dan merekatkan banyaknya tutup botol itu di kerangka.

Keesokan harinya…

Maria meletakkan karyanya di tas. Karena tidak terlalu besar, tas yang dia gunakan muat untuk membawa 3 hasil karyanya.

Setelah di cek untuk perlombaan. Siswa-siswa tegang menunggu pengumuman.

Semua anak-anak berdoa. Bu Kepala Sekolah akan segera membacakan pengumuman hasilnya. “Juara satunya adalah… Maria Raisha!!!”

Maria mengembangkan senyum lebarnya. Ia sangat senang. Presentasi tentang karyanya tadi memuaskan. Semua dari barang bekas. Bahkan, cat itu bekas temannya bukan?

Itulah Maria, ia sangat percaya diri, membuat prestasi, dengan tangannya sendiri.

Baca:
Cerita lucu malam minggu
Apa itu motto hidup
Makna lagu Garuda Pancasila
Lukisan hari Kemerdekaan

Terima kasih sudah membaca Cerita Anak 17 Agustusan yang berjudul Gelas-gelas yang Merdeka. Mohon maaf jika banyak kesalahan.

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu