in

NgakakNgakak TakutTakut SedihSedih SenangSenang KagetKaget KerenKeren

Cerita Anak – Aku Anak Pembuat Onar di Sekolah

Cerita Anak - Aku Anak Pembuat Onar di Sekolah
Cerita Anak - Aku Anak Pembuat Onar di Sekolah

Aku Hanna, Aku Anak Pembuat Onar di Sekolah, Aku adalah Miss Onar di sekolahku. Penasaran maksudku? Baca, dong, cerita ini!

Jadi, di sekolahku mengajarkan onar. Sekolahku adalah kumpulan anak nakal. Aku juga nakal, semua anak sangat menurut jika aku suruh mereka membuat onar. Kebiasaan itu sudah dibebaskan oleh sekolah, siapa saja bisa berbuat onar. Bahkan ada pemilihan ratu onar di sekolah.

Hari ini adalah waktu pemilihan Queen Onar, King Onar, Miss Onar, dan Mawar Onar. Mawar, maksudnya yang membuat mawar indah di antar onar-onar lainnya. Mawar onar itulah yang membuat kelas kami harus jadi juara onar di sekolah. Di sekolah, ada lomba kelas paling onar yang lombakan antar kelas.

Aku Anak Pembuat Onar di Sekolah

Pemilihan dilakukan secara demokratis, yaitu di pilih oleh siswa/siswi di masing-masing kelas. Hasil pemilihan diumumkan hari itu juga, di kelas masing-masing. “Anak-anak, jadi, Queen Onar adalah: Keisha! King Onar adalah: Boby! Miss Onar adalah: Hanna! Dan, terakhir, Mawar dari Onar adalah: Ini dia, Keisha!” jelas salah satu dari murid yang mengumumkan hasilnya.

“Hah, Keisha, temanku, mendapat dua peran sekaligus dalam onar? Akulah ratu onar! Aku hanya Miss Onar,” gumamku, “dengan bekerjasama bersama Keisha, Bobby, dan Hanna, kita pasti bisa membuat sesuatu,” pikirku. Awalnya, Keisha sudah tahu akan jadi Queen dan Mawar, karena, kemarin aku dan dia membuat robot pelacak orang baik di sekolah.

Baca juga: Cerpen anak tentang persahabatan

Puffy, itulah namanya, robot anjing yang imut, tapi dia punya camera yan terpasang di keningnya. “Tidak masuk akal! Masa aku tidak jadi Queen atau Mawar! Kei, lebih baik kau memundurkan diri!” teriakku. Aku memang sudah maju karena jadi salah satu pilihan. “Haha! Kau waktu kelas 2 tidak juara onar yang lomba wajib itu, kan? Ya sudah! Kan aku sudah jadi 2 pilihan, dan tak ada yang bisa membuat aku mundur! Ehm, apa aku terlalu kasar?” jawabnya. “Hiks! Kau, kau…. Teman yang tidak baik!” aku menangis, keluar kelas. Kan, kelasku membela yang menangis. “Grrrrr… Apa yang kau lakukan, Keisha? Pilih Hanna, mundurkan Keisha!” teriak teman-temanku keras. “Ehem, sayang dia tidak bisa mundur! Kuberitahu saja, ya, tapi yang sudah kusebut ya, tidak boleh diganti! Oke, ayo kita cari dia saja!” kata guruku.

Aku berlari keluar ruangan menuju taman sekolah. “Hanna, kan kamu Miss Onar! Ya sudah, mulai sekarang, kita jadikan kamu ketua kelas!” Senyumku melebar. Jadi, aku ketua kelas!

Tiba-tiba, Allano Michaels dari sekolah Sekolah Dasar Harapan Negara datang, dilihat Puffy dan aku. “Dia mencuri mahkota silver milik Keisha!” teriak Puffy. Allano pun lari ke sekolahnya, aku mengikuti diam-diam.

Sementara di sekolah Allano…..

“Ini dia, Pak! Semoga konser mahkota sekolah kita sukses!” teriak Allano, tersenyum lebar. Ooooo… Begitu! Gumamku dalam hati. “Hei, ini salah! Masih ada yang gold! Jadi, kamu harus ke sana! Awalnya, ini punya Calista! Tapi dia minggat ke sini, terus dia suka dan didaftarkan Mamanya!” seru seorang guru, memakai jas bagus. “Dan, kakaknya, Clay masih saja terus disana, di Shining Star School! Keisha juga hanya punya yang silver ini,” kata orang itu lagi.

Baca juga: Penyebab dan dampak bullying di Sekolah

Allano pergi ke sekolahku lagi. Aku mengikutinya.Dia bertanya pada satpam. “Tahu Clay, Pak? Dimana dia?” Satpam menunjuk ke ruang senam. “Oke, Pak!” Jawab Allano, lalu masuk ke ruang senam.

“Kamu Clay, kan? Kamu tahu, dimana ruang tempat permata-permata milik sekolah ini?” tanya Allano. “Oh! Kau janji tidak memberitahu aku yang mengatakannya?” katanya. Puffy di sebelahnya! Yes! Mati kau! “Puffy!” teriak Clay. “Tenang, sudah aku off. Jadi, dimana itu?” tanya Allano. “Ruangan kecil dekat ruang guru,” jawab Clay.

Tahu-tahu, semua guru berteriak! Allano lari ke konser mahkota sekolah, dan Clay di ruang senam “Mahkotanya hilang! Hanna, Puffy! Cepat cari permata itu! Soalnya, Detektif Roland tertidur di asrama!” Aku tahu siapa pelakunya. “Saya tahu pelakunya, guru-guruku yang baik. Clay Renaldio dan Allano Michaels, dari sekolah SD Harapan Negara. Sayang, saya tidak tahu mereka dimana. Kejar saja sendiri. O ya! Terakhir, Clay ada di ruang senam, kalau Allano di sekolahnya, di konser mahkota sekolah,” kataku tenang.

Sejak itu, sekolahku benar-benar benci SD Harapan Negara. Aku? Aku diberi piala. Karena, ternyata sebelumnya para guru-guru ingin bekerjasama dengan SD Harapan Negara. Dan, aku jadi Penyelamat Onar!

Pesan moral cerita untukmu yang membaca ceritaku yang berjudul Aku Anak Pembuat Onar di Sekolah: Ini hanya cerita fiksi (hanya khayalan saja). Oia, jangan membuat onar di kelas apa lagi dengan tujuan jadi terkenal, karena itu akan mengganggu teman-teman lain sedang belajar.

Kamu juga bisa loh membuat konten seperti ini. Buat karyamu sekarang!

Advocate

Ditulis oleh Hilda

Hi Guys... One more, I'm user Hilda. My name is Hilda. My favorite food is... cupcake Hilda! (LOL) Jangan lupa baca terus cerita saia dan jangan kasih takut atau kaget kecuali horror dan saia tidak mau bikin horror kecuali dibayar.

Story Maker
Balas komentar
  1. Hilda, cerita kamu cukup bagus, tetapi, sebelum membuat cerita, apalagi cerita fiksi tentang anak sekolahan.
    Kalau kamu ingin membuat cerita fiksi, kamu harus memerhatikan hal-hal berikut:
    mencari judul cerita yang menarik untuk para pembaca
    harus mencari pesan dan kesimpulan, yang sesuai dengan judulnya (kalau kamu tadi, judul dan kesimpulannya belum cocok. aku kasih contoh ya… misalnya AKU TIDAK MAU JADI PEMBUAT ONAR LAGI. itu cocok dengan pesan yang kamu buat ).
    sekian, semoga bermafaat, ya…

    • Makasih ya Erin, tapi ini ceritanya tentang sekolah pembuat onar, bukan tentang sekolah yang ada anak onarnya. Yang penting ada pesannya menurutku.

Yuk tulis komentar kamu

Alamat email kamu tidak akan dipublikasikan. Yang memiliki tanda (*) harus diisi