in

Cerita Anak – Baking Class With Sunny!

Cerita Anak - Baking Class With Sunny!
Cerita Anak - Baking Class With Sunny!

Cerita Anak – Baking Class With Sunny! Sret, sret, sret! Sunny mengusapkan krim di atas kue cokelatnya. Tok tok tok! “Wah, sebentar,” Sunny membukakan pintu. “Halo, Sunny! Bolehkah aku berkunjung sebentar saja?” tanya Lolla, sahabat Sunny. “Oh, tentu saja. Masuk yuk, kebetulan orangtuaku sedang keluar rumah, jadi kamu bisa mengobrolkan apa saja,” tawa Sunny. 

“Duduklah,” Sunny menyiapkan bangku dan meja kecil. “Terima kasih!” kata Lolla. Cuur… Sunny menuangkan teh dan menaruh kue cokelatnya di atas piring. “Huft… Kamu ingat klub membuat kue Mrs. Small kan?” tanya Lolla. “Iya, aku ingat. Ada apa?” Sunny mendengarkan. “Nilaiku jelek! Padahal, aku membuat kue dengan teliti sekali. Kata beliau, jika sekali lagi kue buatanku tidak memuaskan, aku harus ikut klub lain. Aku serius belajar membuat kue kok,” kata Lolla hampir menangis, lalu menyendok kue yang diberikan Sunny. “Hmm, enak! Eh, kamu beruntung ya, bisa membuat kue. Mungkin kamu murid kesayangan Mrs. Small,” puji Lolla. “Aku ada ide!” Sunny membisikkan sesuatu. Lolla mengangguk-angguk paham. “Oke! Besok, pukul 10 pagi ya! Sekarang aku mau pergi kursus piano. Sampai jumpa!” senyum Lolla terlihat cerah lagi. 

Mau tahu ide Sunny? Ya, Sunny ingin membuat kelas memasak bersamanya setiap Sabtu. Sunny memang punya banyak resep sendiri. “Besok aku akan mengajari Lolla membuat cheesecake saja ah! Pasti Lolla senang sekali,” gumam Sunny. Ia menelepon Lolla. “Halo, La! Besok bawa apron terbaikmu ya. Ajak teman-temanmu juga. Maksimal 6 orang, ya. Mama dan Papaku akan marah kalau terlalu banyak yang datang,” Sunny tertawa. “Ooo, oke. Aku ajak teman sekolah saja ya!” kata Lolla. “Itu saja yang ingin kubahas, sampai jumpa,” kata Sunny. “Sampai jumpa juga,” Lolla tersenyum simpul. Lalu, Sunny menutup telepon. 

Esok harinya, pukul 10 pagi, sudah ada 6 orang yang berkumpul termasuk Sunny. Sunny, Lolla, Jane, Carla, Sally, dan Milla. “Hari ini, kita akan membuat cheesecake. Semuanya memperhatikan ya! Silakan catat juga,” Sunny memulai percakapan. Mereka saling membagi tugas. Semua berjalan lancar. Mereka mulai mencampur cream cheese dengan bahan-bahan lain dengan mixer. Drrrrt… “Hati-hati menggunakan mixer ya, jika terlalu cepat bisa tumpah,” kata Sunny. Untuk bagian mencampur dengan mixer adalah bagian Sally. “Ini dicampur gula, ya?” tanya Jane. “Iya, tapi bukan gula biasa. Lihat deh! Ini namanya gula halus,” Sunny menunjukkan mangkuk berisi gula halus. “Ini tepung?” tanya Carla. “Teksturnya mirip, tapi rasanya manis,” jawab Sunny. “Sunny, bagaimana ini? Aduh, sepertinya mixer ini tidak mau menuruti arah tanganku!” seru Sally. “Turunkan kecepatannya, kamu terlalu cepat. Ini santai saja kok! Setelah ini, giliran Milla,” Sunny menurunkan kecepatan mixer. “Siap!” kata Milla. 

Tak terasa, cheesecake siap didinginkan. “Eh, bukannya menggunakan oven?” tanya Lolla. “Tidak selalu. Ini bisa disebut sebagai ‘chilled cheesecake’ atau cheesecake yang didinginkan di freezer. Nah, untuk resepku ini, didiamkannya sejam saja. Tunggu ya teman-teman. Ayo sambil menonton TV saja, banyak acara bagus!” ajak Sunny. 

Mereka menonton TV bersama-sama. Mereka menonton acara komedi. “Hahaha!” tawa mereka. “Hei, hei, sudah sejam,” kata Carla. “Oh, ya. Oke, mari kita periksa cheesecake kita. Kalian boleh makan sekarang,” Sunny mengeluarkan cheesecake. “Wow!” puji teman-teman. “Selamat mencoba!” ujar Sunny sambil memotong cheesecake dengan rapi. “Mantap, nih,” Sally menjilat-jilat cheesecake-nya perlahan. “Enak sekali ya, rasanya seimbang dan ada sedikit rasa asam,” Jane terlihat bahagia. “Haha, ini ‘kan kue buatan kalian semua. Lain kali ada usul kue apa? Kalian ingin membuat kue apa lagi?” tanya Sunny. “Kue kering sepertinya enak. Dengan chocolate chips juga pasti lezatos!” usul Lolla. “Aku mau membuat red velvet, kesukaanku,” tambah Carla. “Pizza juga boleh!” “Donat?” “Beritahu cara menghias cake dengan rapi juga ya.” Wow, semuanya memberi usul nih! “Iya, lain kali deh! Selalu datang, ya,” kata Sunny. “Sunny dan teman-teman sedang membuat cheesecake, ya? Lain kali ajak lebih banyak teman agar seru,” tawa Mama Sunny. Mama juga terlihat senang. 

Semakin hari, kelas membuat kue bersama Sunny semakin ramai. Bahkan, Sunny sudah bisa mendapat uang dari pekerjaan kecil-kecilannya itu. Suatu hari, Sunny berkumpul bersama Mama dan Papanya. “Begini, Sunny mau serius membuat kelas membuat kue?” tanya Papa. Sunny mengangguk mantap. “Haha, jadi ingat katamu sewaktu masih kecil. Kamu berkata bahwa kamu ingin belajar membuat kue agar mendapat pengalaman dan bisa berbagi kepada orang lain,” kata Mama. “Memang Ma,” kata Sunny. “Baiklah, kami akan membeli tempat khusus untuk kelasmu. Papa dan Mama melihat, kamu serius sekali,” kata Papa. “Yey!” seru Sunny. 

Tempat kelas, check. Peralatan, check. Murid, sudah ada. Pengumuman, check. Aturan, check. Apa ya yang kurang? “Ah, namanya apa?” tanya Mama. “Baking Class With Sunny boleh ‘kan?” tanya Sunny. “Ooo, tentu saja boleh. Setiap hari Jumat dan Sabtu kamu mengajar, ya!” kata Papa. 

Hei, tebak apa, Pembaca? Murid atau anggota Baking Class With Sunny sudah ada 350 lebih, lho! Sunny juga mendapat banyak uang. Bahkan ada stasiun TV yang mewawancarainya. “Hore! Sunny muncul di berita,” gumam Sunny saat menonton TV. Ia mendengarkan. “Usiamu masih muda, baru 9 tahun. Lelahkah kalau mengajar?” tanya reporter. “Tentunya ada saat ketika saya lelah, tetapi saya suka berbagi ilmu, jadi rasa lelah itu tertutup oleh semangat saya yang menggebu-gebu,” jawab Sunny. “Hebat ya, kecil-kecil sudah terkenal dan suka berbagi,” kata reporter. “Hehehe, terima kasih,” kata Sunny dengan senang. “Itulah Sunny Peterson, anak perempuan berusia 9 tahun yang sudah mengajar orang lebih dari 30 tahun. Mari teladani sifatnya yang suka berbagi. Tak kalah dengan orang dewasa, Sunny selalu berbagi ilmu apapun itu yang ia miliki,” kata sang reporter. 

Sunny tersenyum. “Semoga, aku bisa lebih banyak berbagi ilmuku!” gumam Sunny bangga. Kring kring! Telepon berdering keras. “Hai, Sunny! Kamu masuk TV, ya?” tanya Lolla di telepon. “Hahaha, iya nih. Senang rasanya,” jawab Sunny. “Aku turut bangga, deh. Semoga kamu menjadi koki terkenal!” kata Lolla. “Terima kasih banyak, La! Kamu juga hebat,” puji Sunny. “Tujuan kamu apa nih dalam menjadi baker atau pembuat kue?” Lolla ikut bersemangat. “Aku ingin lebih banyak berbagi,” Sunny tertawa. Semoga cita-citamu terwujud, ya, Sunny!

Baca:
Cerita Anak – Ice Cream Party
Cerpen Teman Sejati – Origami
Cerpen Persahabatan Lucu – Mencari Pondasi
Cerita Anak – Keluarga Kaya Yang Baik hati

Pesan moral:
Sobat Penulis Cilik, kalian punya ilmu apa? Apapun yang kalian punya, sekecil apapun, bagikan kepada orang lain. Jangan pelit-pelit. Misalnya… Ajari temanmu yang belum memahami materi sekolah. Yakin deh, kebaikanmu akan dibalas oleh seseorang di luar sana. Entah siapa, tapi pasti ada. Bagikan ilmu sebanyak-banyaknya seperti Sunny, ya!

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu