in

KerenKeren SedihSedih SenangSenang

Cerita Anak: Bersyukur

Cerita Anak: Bersyukur
Cerita Anak: Bersyukur

Cerita Anak: Bersyukur. Cerita pertama, nih, hehe. Happy reading all!

Tito Faerkyn. Yeah, itu namaku. Diambil dari nama keluargaku “Faerkyn”. Di sini aku hanya ingin menceritakan sedikit pengalamanku, tentang hidupku yang berubah drastis.

Oke, awalnya baik-baik saja. Aku, ayah dan ibuku tinggal di sebuah perumahan elit di tengah kota Jakarta. Ayahku yang seorang pengusaha tekstil bisa saja menuruti apa kemauanku, berapapun harganya. Asalkan aku senang.

Hm, tapi semua itu berubah saat perusahaan ayahku ditipu, hingga miliaran rupiah. Ayahku bangkrut dan terpaksa menjual rumah untuk melunasi utang-utangnya.

Sejak saat itu kami tinggal di sebuah kontrakan, kecil nan jelek. Diriku saat itu tidak terima saat mengetahui sekarang ia miskin gara-gara terbiasa hidup enak. Aku juga menyalahkan ayah dan ibu, karena mereka hidupku jadi seperti ini.

Ah, betapa durhakanya aku saat itu.

Dan saat di sekolah, aku sering di bully, dikata-katain, bahkan sahabatku sendiri meninggalkan aku begitu saja, parah. Aku di situ hanya bisa diam, mendengarkan dan berlalu begitu saja sambil mengumpat dalam hati.

Sepulang sekolah, aku menggebrak pintu, melenggang masuk dan menatap tajam ayah dan ibuku yang sedang duduk di kursi ruang tamu. Ibuku bangkit dan bertanya, “Kamu kenapa?”

Aku tidak menjawab, hanya melempar tasku ke segala arah lalu pergi tanpa mengganti seragam. Bisa kudengar ayahku memanggil, tapi tidak ku pedulikan.

Aku berjalan tanpa arah, entah kakiku membawaku kemana. Tau-tau aku sampai di sebuah taman, tak ramai, hanya segelintir orang berlalu lalang. Akupun menghempaskan tubuh kesalah satu kursi taman. Menutup wajah.

“Hey.”

Kaget, aku menoleh ke asal suara. Di depan seorang perempuan (mungkin seumuran ku) berdiri menatapku dengan senyum kecil. “Kau siapa?” tanyaku getar.

“Ah, kau tidak perlu tahu soal itu. Sekarang ikut aku.”

Perempuan asing itu menarik lenganku. Aku lepaskan cengkramannya. “Mau kau apakan aku, siapa kau?” tanyaku saat itu. Aku kira ia ingin menculikku. Ternyata bukan…

“Huh, namaku Money,” jawabnya.

HAHAHA, entah kenapa aku selalu tertawa jika mendengar namanya—tapi tidak saat itu, aku hanya terkekeh.

“Siapa nama ibumu?” aku bertanya, penasaran, mungkin akan lebih aneh.

“Kenapa kau bertanya?”

“Katakan saja.”

Perempuan itu menghela napas lalu menatapku. Berkata, “Purse.”

Ini lebih lucu.

“Ikut dengan ku.”

Aku pun menurut, mengikutinya dari belakang. Walau di kepalaku terdapat banyak tanda tanya. Akan dibawa kemana aku? Dan… siapa perempuan ini—walau dia sudah memberitahu namanya.

Cukup jauh kami berjalan. Akhirnya perempuan itu berhenti. Jalan tol. Ya. Ternyata ia membawaku ke sana, tapi untuk apa.

“Aku ingin mengubah sikapmu selama ini,” ucap Money tiba-tiba. Matanya melihat keseliling, seperti mencari sesuatu lalu berhenti di suatu titik. Lengannya terangkat, menunjuk.

Alisku tertaut tak mengerti.

“Lihatlah orang tua itu.” Money menatapku.

Aku menoleh. Perasaan aneh tiba-tiba muncul, menohok diriku telak. Di seberang, seorang kakek tua tengah tertidur. Hanya beralaskan kardus, tapi dirinya terlihat sangat nyenyak.

“Harusnya kau lebih bersyukur, Tito. Banyak orang yang tak seberuntung kau.”

Aku menoleh cepat. Bagaimana ia tahu namaku? Jangan-jangan ia peramal?

“Aku tahu nama semua orang,” kata Money seperti tahu isi pikiranku. Money kesekian kali menghela napas, “Kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak harta yang kau miliki, tapi tentang seberapa banyak dirimu bersyukur dengan apa yang kau miliki sekarang.”

Di detik itu juga seluruh rasa bersalah seperti menggerogoti tubuhku. Pikiranku mengingat perkataanku saat menyalahkan ayah dan ibu. Juga saat aku meminta apapun pada ayah.

“Sekarang aku tahu kenapa kau membawaku kemari,” kataku sembari menatap Money. Money di sebelahku tersenyum.

“Kurasa tugasku telah selesai. Aku harus pergi. Banyak orang yang harus ku nasihati. Sampai jumpa, Tito.”

Mendadak, di sekitar tubuh Money mengeluarkan asap. Dan saat itu juga tubuhnya menghilang. Aku tersentak  melihatnya.

“Astaga, seperti berada di cerita fantasi,” gumamku. Aku berbalik pulang ke rumah. Sesampainya di sana, aku langsung meminta maaf pada ayah dan ibu. Memeluknya. Mereka menatapku bingung. “Anak ini habis kerasukan apa? mungkin itu arti tatapan mereka.

Mulai saat itu, aku mengubah semuanya. Mengubah sikapku. Aku sampai membantu ibuku menjual kue (dulu ibuku pintar membuat kue) yang dijual keliling.

Aku juga lebih serius belajar, walau masih ada yang mem-bully, tapi tak kupedulikan. Sampai kelas 12, aku mendapat beasiswa di Universitas yang aku impikan! Aku senang sekali, apalagi ayah dan ibu. Mereka memelukku, menangis bahagia. Akupun ikut terbawa suasana.

Kalimat yang diucapkan Money benar. Bukan harta yang membuatmu bahagia, tetapi bersyukur dengan apa yang kau dapatkan saat ini…

The end~

Baca:
Cerita Anak: Pintu Hidayah dan Panti Jompo
Cerita Anak: Kue Ulang Tahun Kakak
Cerita Anak: Berlibur ke Taman Mini
Poster stop bullying dan slogan anti bullying bahasa Indonesia
Ucapan terima kasih dalam bahasa Jepang dan Jawabannya
Perbedaan sujud syukur, sujud tilawah, dan sujud sahwi

Terima kasih sudah membaca semoga bermanfaat. Jika ada kesalahan atau ingin memberikan masukan untuk Cerita Anak: Bersyukur, tulis di kolom komentar ya!

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

6 Komentar

Balas komentar

Yuk tulis komentar kamu