in

SenangSenang KerenKeren

Cerita Anak: Birrul Walidain

Cerita Anak: Birrul Walidain
Cerita Anak: Birrul Walidain

Cerita Anak: Birrul Walidain. Ini adalah ceritaku ketika di sekolah mendapatkan tugas untuk membuat paragraf dengan tema birul walidain.

Birrul Walidain adalah salah satu etika dalam agama Islam yang menjelaskan tindakan atau perilaku berbakti kepada kedua orang tua. [1]

Hari ini, aku diminta Ustadzah untuk maju ke depan dan membaca paragraf yang sudah dibuat. “Nasywa, ayo maju lalu baca paragraf yang sudah kamu buat,” pinta ustadzah.

Aku pun maju. ”Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,” membukanya dengan salam.

Serempak para santri (satu kelas) membalas salamku, “Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.”

Aku langsung mulai membaca, “

Birrul Walidain

Orangtua yang amat kita sayangi dan cintai. Diwajibkan oleh ALLAH dan dicontohkan Rasul agar kita berbakti kepadanya. Kita tidak diperbolehkan untuk durhaka, terutama kepada Ibu/ Bunda yang telah melahirkan. Orangtua sangat sayang dan sabar dalam mendidik anaknya. Mereka mendidik dengan sabar dan tidak ada kata ‘lelah’ yang keluar dari mulutnya. Orangtua menyimpan rasa lelah itu di dalam hati, agar tetap terlihat tegar dan kuat.

Jika kita dinasihati, maka harus mendengarkannya. Jika mereka meminta melakukan sesuatu, maka bersegeralah dan jangan menunda-nunda. Jangan sesekali terucap kata “AH’ dari mulut kita sebagai penolakan, karena itu termasuk dosa. Kita juga tidak boleh membantah, membentak, marah, atau hal lain yang menyebabkan mereka sedih.

Jika mereka sudah tua, jangan jauhkan dengan mengirimnya ke Panti Jompo. Sebagai anak yang berbakti kita harus sabar dalam merawatnya sebagaimana mereka telah sabar dalam merawat kita dahulu. Budi mereka tidak mungkin terbalaskan, maka kita harus melayani keperluannya, membantu ini itu, menyelesaikan pekerjaan rumah, dll.

Ridho ALLAH tergantung pada ridho orangtua. Maka sudah seharusnya kita terus dan terus berbakti kepadanya. Jaga perasaan mereka jangan sampai kita membuatnya kesal atau marah karena ALLAH juga akan marah. Terus lah berdoa untuk kebaikan mereka selama hidup di dunia dan kelak di akhirat, agar dapat tempat yang ALLAH ridhoi dan paling mulia.

Mari kita rubah kata ‘lelah’ menjadi ‘lillah’ agar menjadi berkah bagi kita semua, aamiin”  

Sejenak aku berhenti menghela napas, pertanda tulisanku sudah berakhir, kemudian membaca salam, “Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,” dijawab serempak oleh teman-teman satu kelas.

Lalu kembali ke mejaku.

Barakallahufiik. Bagus sekali ceritanya, nah anak-anak itu tadi adalah cerita birul walidain yang ditulis oleh Nasywa. Menjelaskan bahwa kita jangan berkata ‘AH’, karena sudah termasuk dosa, maka dari itu kalian harus berhati-hati dalam berbicara kepada Orangtua.” Bu Ustadzah coba menyimpulkan.

“Di sini ada nggak yang suka menunda-nunda perintah orangtua? Semoga nggak ada ya… Kalau misalkan ada, segeralah perbaiki diri kalian dan berjanji dari sekarang untuk selalu mematuhi perintah orangtua dan tidak membantahnya lagi, tidak marah-marah dan sebagainya. Berusahalah untuk tidak menyakiti perasaan orangtua dengan perkataan lisan maupun perbuatan,” beliau menambahkan lagi pernyataan sebelumnya.

“Ustadzah pernah lihat tuh di video ada orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, lalu sama ALLAH dia diberikan cobaan yang banyak. Terus orangtuanya kan mau membantu meringankan cobaan itu tapi tidak bisa, karena sewaktu ibunya mau menolong ibunya merasakan sesuatu yang seperti menghalanginya. Nah apa hikmah dari cerita tersebut, siapa yang tahu?” tanya ustadzah.

“Kita tidak boleh durhaka!” salah satu temanku teriak dengan penuh semangat.

“Hahaha, iya betul terus apalagi?”kata ustadzahku.

“Jika durhaka akan mendapatkan balasan yang tak terduga dari ALLAH,” kata Naila.

“Barakallah… nah kita lanjutkan nanti lagi ya. karena sudah adzan. Sekarang kalian rapikan peralatan tulisnya, dan segera siap-siap untuk sholat.”

Kamipun segera berkemas dan setelah itu ustadzah mengakhirinya dengan do’a bersama. Kemudian semua bergegas keluar kelas mengambil wudhu’.

-Selesai-

Baca:
Cerita Anak: Bersyukur
Cerita Anak: Pintu Hidayah
Legenda Cerita Malin Kundang Anak Durhaka
Anak Yang Durhaka Kepada Orang Tuanya
Doa untuk kedua orang tua
Doa Menyentuh Hati

Terima kasih sudah membaca Cerita Anak: Birrul Walidain. Koreksi dan tambahkan jika ada yang kurang, tulis di kolom komentar ya!

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

5 Komentar

Balas komentar
  1. Sama-sama kak Nasywa,umur aku sekarang 9, kelas 3…

    Hai kak, Sama sama lagii
    Sudah kak,aku setiap hari itu kalau ke penulis cilik ke Cerita anak, setiap hari nungguin cerita terbaruuu
    makasih kakkk,, aku lagi proses buat cerita

  2. Zivara!!! akhirnya…aku mendapat teman baru:) semoga kita bisa berteman dengan baik ya… walaupun lewat internet hehehe… semoga suatu saat nanti kita bisa di pertemukan. Maaf ya aku baca coment nya baru sekarang :(:(. Pertama aku dapat coment dari kamu hatiku langsung gembira(ngga tau kenapa).

Yuk tulis komentar kamu