in

SenangSenang

Cerita Anak: Broken Alarm Clock

Cerita Anak: Broken Alarm Clock
Cerita Anak: Broken Alarm Clock

Cerita Anak: Broken Alarm Clock. “Kring… kring…” jam beker di kamarku berdering. aku masih saja terlelap dalam tidurku hingga Mamaku yang lebih dahulu terbangun dan lekas membangunkanku. Akhirnya, aku pun beranjak dari tidur lelapku.

“Kamu ini, jam beker sudah berdering keras. Kok belum juga bangun?” omel Mama.

 “Hehehe… enggak kedengaran suaranya Ma…” candaku.

 “Ah! kamu alasan saja. Nak, kamu kan sebentar lagi sudah mau berangkat ke pesantren. Kalau suara jam beker saja belum kedengaran, nanti di sana kamu mau bangun bagaimana nak?” lanjut Mama

“Ya, beli jam beker yang bunyinya lebih kencang Ma,” jawabku santai.

 “Ya, sudah deh,” tanggap Mama singkat.

Aku bergegas melaksanakan salat subuh. Selepas salat subuh, kulihat Mama yang sedang sibuk dengan ponselnya. Aku pun menghampirinya.

 “Mama sedang apa?” Tanyaku.

 “Oh, Mama sedang belanja daring nak,” jawab Mama.

 “Jangan lupa beli jam beker ya Ma…” candaku.

 Mamaku tak berkata sedikitpun. Tatapannya hanya terpusat pada layar ponselnya.

 Seminggu kemudian…

“Paket! Paket!”  ada sebuah paket datang di kala aku sedang belajar. Aku pun lekas menuju pintu gerbang rumahku dan menerima paket itu. Segera kuletakkan paket itu di kamar Mama dan aku melanjutkan belajarku. Ketika hendak kembali ke kamarku, aku melihat Mama yang baru saja selesai mencuci baju.

“Ada paket ya Nak?” tanya Mama memastikan.

“Iya Ma,” jawabku singkat.

Mama lantas menuju kamarnya dan membuka paket yang baru saja datang, “Jam beker kamu nih nak.”

“APA!?” aku berlari balik ke kamar Mama.

Kudapati Mama yang sedang melihat-lihat jam beker yang terbuat dari logam. Mama menjelaskan bahwa jam beker itu adalah jam model klasik yang sudah digunakan sejak Mama kecil. Uniknya lagi, jam beker itu dapat digunakan tanpa baterai.

“Wah!” Aku langsung mengambil jam beker itu. Dan segera kucoba jam beker unik itu dengan melihat panduan pemakaiannya di internet.

“Oh, yang berada di bagian belakang ini diputar…” gumamku sambil fokus menatap layar ponselku.

“Wah, ada gambar ayam yang bergerak seperti mematuk juga!” aku terkejut ketika melihat gambar ayam yang bergerak seperti mematuk pada jam beker itu.

Karena itu, aku sangat tertarik dan senang memiliki jam beker itu. Saking girangnya, aku terus memainkan jam beker itu. Aku juga berulang kali masuk ke dalam kamarku hanya untuk mengagumi jam bekerku.

Suatu saat, ketika aku sedang memainkan jam alarm itu, terdengar suara, “TREK!”

“Suara apa itu?” tanyaku heran.

Tentu saja aku sangat kaget mendengar suara itu. Namun, aku terus menenangkan diriku dan berupaya berfirasat baik.

Lalu, aku tinggalkan jam beker itu di kamarku.

Beberapa lama kemudian, aku menuju kamarku lagi. Aku akan segera tidur. Tak lupa, aku akan menggunakan jam beker baruku itu untuk membangunkanku esok hari.  

Selagi aku mengatur jam alarmku, kulihat jarum detik pada jam itu tak lagi bergerak. Gambar ayam yang tadinya bergerak juga kini diam mematung. Perasaanku mulai panik.

Terpaksa, aku memberitahukan hal ini pada Ayah, “Ayah, jarum di jam bekerku kok sudah tak bergerak ya? Kenapa ini Yah?”

Ayah langsung mengambil jam beker dari tanganku. Dan ia membongkar jam bekerku guna memeriksa apa yang rusak.

“Hmm.. pegas di jam ini sudah terlepas dari tempat yang seharusnya,” ujar Ayah.

Ayah kemudian berupaya memperbaiki jam bekerku. Aku terus memperhatikan Ayah sambil berharap jamku dapat digunakan kembali.

Namun, setelah beberapa lama, Ayah masih saja belum selesai memperbaiki jam bekerku. Bahkan, Ayah terlihat seperti putus asa.

“Sudah rusak nih. Ayah tak bisa memperbaikinya lagi,” Ayah menyerah.

Aku hanya dapat menarik napas panjang.

Aku bingung dan berpikir apa yang harus aku lakukan sekarang. Muncul di pikiranku bahwa aku harus meminta maaf pada Mama.

“Ah! Aku malu meminta maaf pada Mama. Lagipula, kalau aku meminta maaf padanya, yang ada malah Mama marah,” ujarku menepis pikiranku sendiri.

Tetapi, aku memang harus bertanggung jawab atas ulah yang kuperbuat.

Akhirnya, aku pun mencoba untuk meminta maaf pada Mama. Perlahan-lahan, kuhampiri kamar Mama. Kutemui Mama yang sudah  bersiap untuk tidur.

“Jam beker nya rusak Ma. Maaf ya Ma…” ucapku pelan.

Mama merasa aneh melihat tingkahku. Mama pun bergegas keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang terjadi. Dan ia melihat jam beker yang sudah terbongkar bagaikan hancur berkeping-keping.

Aku hanya dapat menatap Mama yang matanya masih saja tertuju ke arah jam beker.

 “Maaf Ma…” ucapku lagi.

Aku benar-benar merasa menyesal karena telah memain-mainkan jam beker itu. Hatiku merasa terdesak karena perasaan bersalah ini.

“Enggak apa-apa sayang. Nanti, Mama beli jam beker yang kualitasnya lebih bagus lagi. Lain kali, kalau kamu memiliki barang, lebih berhati-hati ya,” ujar Mama sambil mengelus kepalaku.

Kini aku lebih mengerti bahwa menyayangi suatu benda tidak boleh berlebihan dan tidak

Tamat.

Baca:
– Mengapa penemuan jam berkembang dari waktu ke waktu?
Contoh tata tertib ketika jam istirahat di Sekolah
Jelaskan perbedaan AM dan PM, secara singkat!

Terima kasih sudah membaca dan membagikan Cerita Anak: Broken Alarm Clock. Tulis komentarmu ya di bawah!

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu