in

KerenKeren NgakakNgakak

Cerita Anak: Harta Karun

Cerita Anak: Harta Karun
Cerita Anak: Harta Karun

Cerita Anak: Harta Karun. “Bangun, Clay! ini sudah lewat waktu subuh,” terdengar teriakan Mama dari dapur. Aku pun segera bangun dan bergegas  menuju ke kamar mandi mengambil wudhu’ lalu ke kamar dan shalat.

Mama memang selalu bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarganya dibantu oleh Bi Anah yang setia bertahun-tahun membantu kami.

Setengah jam berlalu…

“Ma… Clay boleh jalan-jalan sama teman-teman?” Mama tersenyum dan mengangguk. Aku pergi ke rumah Sofia dengan berjalan kaki. Matahari lembut mengenaiku. Sesampainya di sana, ternyata sudah ada Eli . “Hai teman-teman maaf ya, aku terlambat.”

“Iya… tidak apa-apa, yuk kita langsung ke hutan saja,” Eli yang menjawab. Kami pun melangkahkan kaki bersama-sama menuju hutan.

Aku, Eli, dan Sofia adalah teman baik sejak dahulu sampai sekarang. Kami sangat senang sekali melakukan banyak hal bersama, kali ini, karena sekolah masih libur, kami memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri hutan dekat perkampungan.

Hutan di tempat kami masih asri dan indah, jaraknya juga tidak terlalu jauh, kira-kira 15 menit dengan berjalan kaki. Ada banyak bunga lavender dan bunga yang cantik-cantik lainnya. Untuk kamu yang hobi piknik atau camping cocok sekali ke sini.

10 menit berlalu…

Di tengah perjalanan, “eh, teman-teman bagaimana jika kita nanti kita coba masuk ke dalam Gua? katanya di sana ada sesuatu, entah apalah itu.“ Ajak Eli yang memecah lamunan kami masing-masing.

“Ke Gua? Yang lokasinya berada di belakang lembah itu? Kalau kesana sih… hhmm…” ucap Sofia ragu-ragu.

“Ya sudah kita ke sana saja, lagi pula kita bertiga dan membawa senter masing-masing,“ ucapku membuyarkan keraguan Sofia.  

5 Menit berlalu…

Kami sudah memasuki area sekitar Gua. “Waw… gelapnya… ya sudah ayo masuk dan nyalakan tongkat ajaib kita.” Yang dimaksud Sofia, tentang tongkat ajaib adalah senter.

Kami segera memasuki gua tersebut.  “Banyak sekali lukisan misterius yang tergambar di dinding Gua,” ujarku memutus bunyi kepakan sayap kelelawar.

Setelah berjalan lebih  dari 10 menit kami terhenti karena di depan ada jalan buntu. “Teman-teman, lihat deh, ada kotak besar, apakah itu kotak harta karun?” tanyaku kepada mereka.

Kami segera mendekati kotak itu. Bentuknya seperti kotak harta karun yang sering kita lihat pada film-film, ada rantai yang mengikat namun sudah sangat lapuk dan berkarat. Hanya dengan pukulan ujung senter saja gemboknya bisa terlepas dengan mudah.

Tanpa berpikir panjang lagi, kamipun membukanya. “Hah!?!? Berlian dan emas !!!” Sofia berteriak kencang membuat para kelelawar terbangun dari tidurnya. Hatiku berdebar-debar kaget campur senang, sementara Eli sudah berani memegang berlian tersebut.

“Ini harta karun asli sungguh ?!?! sungguh?!?!“ Sofia berteriak senang.

“Teman teman kita bawa pulang separuh harta ini yuk!!!” usul Eli yang langsung di setujui oleh Sofia. Sementara aku tidak terlalu mendengarkan karena terlalu asyik mengamati berlian itu.

“Clay ! Bantu kami dong !” ujar Sofia membuyarkan lamunanku. Aku pun mengangguk cepat. Kantong yang Eli bawa sudah terisi penuh. Setengah isi kotak itupun berhasil kami pindahkan.

“Clay, Sofia, ini sudah setengahnya. Yuk kita pulang. Jangan terlalu lama di sini,“ ujar Eli. Aku dan Sofia mengangguk dan kami semua keluar dengan perasaan riang gembira.

Banyak hal yang masuk ke dalam lamunanku, termasuk bagaimana orangtua kami akan bahagian dan bangga dengan apa yang kita semua bawa.

Perjalanan menuju rumah menjadi lebih sulit, selain kita harus membawa kantong besar berisi barang berharga, jalan setapak yang kami lalui sebelumnya menjadi lebih sempit dan lebih curam.

“Ini aneh, kenapa jalannya seperti ini, tadi tidak tampak biasa saja!” keluh Sofia kepada kami.

“Iya, kenapa ya?” jawabku kelelahan.

5 Detik berlalu set lokasi kami berubah, yang semula berada di perbukitan sekarang kita semua berada di bawah air terjun.

“Loh, kok kita di sini?” Tanya Eli, “Mana kantong berisi harta karun itu?” Kita semua hanya bisa saling memandang dengan diam seribu bahasa.

“Clay, awas air terjun itu mendekatimu,” teriak Sofia dan Eli kepadaku.

‘Byur!’

“Kebiasaan, suka tidur di depan pintu WC, bangun buruan sholat subuh udah mau abis,” tegur Kak Oliv kepadaku.

Rupanya cipratan air dari tangan kak Oliv berhasil menyadarkanku dari tidur sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Buruan masuk, terus wudu!”

“Iya… iya kakak cerewet ah! Kaya ayam!” Aku memotong kalimat kak Oliv dan meninggalkannya.

~Tamat~

Baca:
Cerita Anak: Ajaibnya Sedekah
Cerita Anak: Balon Harapan
Cerita Anak: Kue Ulang Tahun Kakak
Cerpen Persahabatan Lucu – Mencari Pondasi
Pentingnya Pohon Bagi Kehidupan
Cerita Anak: Surat Untuk Mama
Cerita Anak: Membuat Wayang Bersama Kakek

Terima kasih sudah membaca dan membagikan Cerita Anak: Harta Karun. Koreksi ya!

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu