in ,

SenangSenang TakutTakut SedihSedih KagetKaget KerenKeren

Cerita Anak: Jadilah Orang Yang Jujur

Cerita Anak: Jadilah Orang Yang Jujur
Cerita Anak: Jadilah Orang Yang Jujur

Cerita Anak: Jadilah Orang Yang Jujur. Aduh, bagaimana ini? Riri tidak sengaja menumpahkan susu cokelatnya ke kertas tugas Kak Lulu. Sejak kemarin, Kak Lulu mengerjakan tugas menggambar yang akan dikumpulkan esok hari. Gambarnya sudah hampir jadi, tinggal dibingkai saja. Tapi karena tumpahan susu Riri, gambar itu jadi rusak dan kertasnya sudah terlanjur basah.

“Pasti Kak Lulu marah besar sama aku.” Ucap Riri pelan. Ia harus memikirkan cara agar tidak ketahuan. Suara pintu kamar mandi tampak terbuka. Kak Lulu pasti sudah selesai mandinya dan berniat melanjutkan tugas. Ah, Riri akan simpan saja gelasnya dengan posisi miring dan kabur. Kak Lulu akan mengira kalau gelasnya tumpah sendiri.

Hap! Tepat sekali ketika Riri berhasil sembunyi di balik dinding, Kak Lulu sudah sampai di depan meja. Matanya melotot ketika gambar yang ia kerjakan semalaman sudah bias oleh warna cokelat dari susu yang tumpah.

Dari balik dinding, Riri tak mendengar Kak Lulu berteriak atau marah-marah. Semuanya hening saja. Riri jadi heran. Apa Kak Lulu tidak kesal karena tugasnya jadi rusak? Perlahan, Riri menengok ke belakang dan mengintip apa yang sedang dilakukan Kak Lulu. Apakah Kakaknya itu mengadu pada Mama?

Oh Tidak!

Kak Lulu tidak mengadu pada Mama, tidak juga marah. Ia tampak diam dengan bahu bergetar. Kak Lulu menangis! Lirih sekali. Ia seperti putus asa dan kehilangan energi untuk melakukan apa-apa. Kak Lulu pasti sakit hati sekali karena ia tak ada cukup waktu lagi untuk mengerjakan tugas. Ia pasti tidak akan mendapat nilai baik di mata pelajaran seni.

Melihat itu, Riri jadi ingin menangis juga. Ia jadi tak enak hati karena tidak berterus terang pada Kak Lulu. Tapi ia masih takut. Apa yang harus Riri lakukan? Tanyanya dalam hati.

Kak Lulu masih belum bergerak, Ia terduduk lemas sambil memandang kertas tugas. Hati Riri pun melunak. Tidak ada lagi rasa takut dan enggan, yang ada hanyalah rasa bersalah dan ingin menolong Kak Lulu. Mungkin Riri harus jujur saja bahwa ia tak sengaja menumpahkan susu cokelat itu pada Kak Lulu. Kalau kak Lulu marah pun, ia siap. Karena itu sudah jadi konsekuensinya.

“Kak Lulu.” Gemetar suara Riri ketika ia melangkah mendekati Kakaknya. Hatinya yang tadi tenang kini kembali berdegub kencang.

Ketika menengok ke arah Riri, mata Kak Lulu terlihat sembab dan memerah. Riri jadi sedih sekali melihat itu. Dengan bercucuran keringat dingin, ia pun semakin mendekat menuju kakaknya. Pelan tapi pasti, akhirnya Riri kini berdiri tepat di depan Kak Lulu.

“Riri…Riri minta maaf, ya.” Lirih Riri sambil menunduk takut, “Sebenarnya…” Saat akan melanjutkan kalimat itu, lidah Riri mendadak kelu. Ia semakin takut akan dimarahi dan dimusuhi. Dalam hati, ia ingin sekali berterus terang, namun mulutnya sangat sulit untuk berbicara.

“Kenapa?” Tanya Kak Lulu pelan. Hening beberapa saat. Riri akhirnya menarik napas kuat-kuat dan berusaha untuk melanjutkan kejujurannya.

“Sebenarnya gambar Kakak rusak karena aku tidak sengaja menumpahkan susu itu.” Kata Riri terbata-bata, “Aku sangat amat minta maaf sama Kak Lulu, ya.” Riri menangkupkan kedua tangannya.

Riri sudah siap akan dimarahi Kak Lulu, Namun ternyata, Kak Lulu hanya menghela napas.

“Sebetulnya Kakak juga kesal sama kamu. Tapi bagaimana lagi, ini semua sudah terjadi.”

Riri masih tidak enak hati pada kakanya, akhirnya ia pun menemukan ide untuk menyelesaikan permasalahan ini, “Kalau begitu Riri bantu ya, Kak, membuat ulang gambarnya.”

Kak Lulu masih tampak kecewa, namun ia pun mengangguk, “Baiklah. Kita buat bersama-sama.”

Riri dan Kak Lulu pun menggambar bersama. Lama-lama, kegiatan mereka penuh dengan canda tawa. Keduanya saling bertukar ide, saling membantu, dan menjadikan kegiatan ini lebih menyenangkan. Lulu sangat puas dengan hasil akhirnya.

“Wah, bagus sekali! Terima kasih ya, Riri.”

“Sama-sama, Kak Lulu. Terima kasih juga krena sudah memaafkan aku.” Kata Riri.

“Untungnya kamu terus terang, jadi kita bisa mengerjakan ini bersama dan hasilnya lebih bagus!”

Baca:
Orang Tua Bukan Pelayanku
Cerita Anak: Jujur Itu Baik
Contoh sikap jujur yang kamu ketahui
Mengapa kita harus berani membela kebenaran dan kejujuran?
Contoh perilaku jujur di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat

Mendengar itu, Riri tersenyum bangga. Ia pun menyadari bahwa berterus terang itu selalu membawa kebaikan, meskipun sulit, tapi setiap orang harus berusaha semaksimal mungkin untuk jujur dan memperbaiki kesalahannya.

Yuk tulis komentar kamu