in

KerenKeren SenangSenang SedihSedih

Cerita Anak – Jagoan Badminton

Cerita Anak: Jagoan Badminton
Cerita Anak: Jagoan Badminton

Cerita Anak – Jagoan Badminton. Hai! Namaku Nava. Usiaku sekarang 10 tahun dan aku kelas 5 SD. Hari ini, aku sangat bersemangat! Akan ada pelajaran olahraga badminton di kelasku.

Aku belum tahu sih badminton itu seperti apa. Hmm, sebenarnya aku bukan anak yang mahir dalam bidang olahraga, tetapi aku suka belajar hal baru. Ya, benar, aku belum pernah belajar badminton sebelumnya.

O iya, pelajaran olahraga pekan ini adalah pelajaran olahraga terakhir kami di tahun ini. Mengapa? Sebentar lagi akan ada libur Natal dan tahun baru. Jadi kami akan kembali tes olahraga di tahun/semester baru nanti.

“Anak-anak, kalian bawa raket masing-masing?” tanya Bu Vani. Ia adalah guru olahraga kami.

“Iya, Bu!” seru siswa-siswi kelas 5D.

“Eh, Nava, kok kamu membawa raket nyamuk, sih?” Bu Vani tertawa. Semua menertawakanku.

“Maaf Bu, saya belum mengerti maksud raketnya. Raket seperti teman-teman sebenarnya saya ada sih Bu,” kataku. Aku nyaris menangis.

“Hahaha, baik, tidak apa-apa. Pakai raket cadangan sekolah saja, ya.” Bu Vani menyerahkan raket cadangan sekolah kepadaku. Aku mengambilnya dan berterimakasih.

Saat latihan, aku diminta berlatih bersama teman. Aku berpasangan dengan Orinne, sahabatku.

Tuk! Ketika Orinne men-servis, aku tidak bisa menangkisnya dengan baik.

“Nava! Kamu enggak usah latihan, deh. Menyusahkan saja. Lebih baik aku dengan Ray. Ia sudah lebih mahir daripada kamu,” ejek Orinne.

“Aku juga akan mahir, kok!” kataku, “kalau kamu mengajariku perlahan.”

“Itu sudah takdir kamu, enggak bisa badminton. Jangan menyusahkan, ah!” Orinne menghampiri Ray dan berpasangan dengannya.

“Kemari, Rin. Kita tinggalkan saja orang yang tidak mahir.” Ray bermain bersama Orinne.

Orinne jahat! Ia kan sahabatku. Mengapa ia hanya mendekatiku saat aku sedang bergembira pada pelajaran sains atau Bahasa Inggris? Apakah itu arti sahabat?!

Tidak ada yang mau membantuku. Sudahlah. Aku menangis di sudut ruangan. Bu Vani menghampiriku.

“Ada apa?” tanya beliau.

“Hehehe, diejek teman-teman, Bu. Sudah biasa, kok,” jawabku.

“Latihannya saat liburan saja. Nanti, buktikan bahwa kamu bisa di semester 2. Setuju?” Bu Vani mengelus pundakku. Aku mengangguk. 

Sepulang sekolah, aku pulang bersama Ray, Orinne, dan Philip.

“Orinne, Ray! Mengapa tadi kalian menghinaku? Itu tidak sopan,” tegurku.

“Aku hanya bercanda. Jangan mudah sedih, deh,” tawa Orinne.

“Iya, dasar cengeng. Kamu tahu arti bercanda, kan?” tambah Ray.

“Rin, kamu pendek dan gemuk,” kata Philip.

“Ih, jangan body shamming! Lagipula aku tinggi, kok.” Orinne membela dirinya. 

“Bercanda. Jangan mudah sedih.” Philip menjulurkan lidah. Aku tertawa geli.

“Eh, kalian saat liburan mau pergi ke mana? Aku sih tetap di rumah,” kataku, berusaha mengalihkan agar Orinne tidak marah.

“Sama,” jawab mereka serempak.

“Latihan bersama, yuk!” ajakku.

“Aku sudah jago, untuk apa latihan?” Ray tersenyum sinis.

Di rumah, aku meminta Papa mengajariku. Beliau mahir badminton. Abangku juga. Aku meminta mereka berdua melatihku sepanjang liburan.

Hari pertama latihan, aku kesulitan. Rasanya, diminta melakukan teknik badminton seperti diminta mengangkat gedung besar.

Hari kedua, sudah mulai agak ringan. Begitu pula hari ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Aku libur 30 hari, lho! Lumayan lama, kan? Asyik, aku bisa berlatih dengan puas!

Tak terasa, sudah hari ke-30. Aku sudah paham teknik-tekniknya, bahkan skorku jauh di atas Papa dan Abang saat coba bertanding di lapangan badminton dekat rumahku.

Besok sekolah dan tes. Aku sangat tidak sabar. Tes nanti pasti aku bisa melakukannya.

“Baik, Anak-anak! Apakah kalian siap tes? Tesnya sama seperti latihan yang kita lakukan di awal, yaitu latihan berpasangan. Pertama, Orinne dengan Nava,” kata Bu Guru. Aku dan Orinne maju untuk tes.

Syuuu! Kokku terbang di udara. Orinne tidak berhasil menangkisnya. Ia melakukan servis. Aku menangkis dengan baik. Ia kalah.

“Inikah maksudmu aku tidak mahir?” tanyaku. Ia terlihat marah.

“Keren, Nava! Sekarang Nava dan Ray. Bu Vani mau lihat, nih,” pinta Bu Vani. Sama seperti saat aku bersama Orinne, Ray juga gagal.

Orinne dan Ray mengeluh.

“Bu, yakin Nava tidak curang?!” tanya mereka. Bu Vani menggeleng.

Aku tersenyum sangat lebar.

“Ini dia. Ini orang yang kalian katakan tidak mahir. Ini orang yang membawa raket nyamuk pertama kali berlatih. Namun, ia mampu membalikan keadaan selama 30 hari. Mengagumkan, kan? Maka, hargailah temanmu yang masih pemula. Dengan ratusan, ribuan, jutaan kali latihan, pasti bisa! Ray, Orinne, pasti kalian kurang latihan. Teruslah berlatih, pasti bisa!” seru Bu Vani.

Sekarang aku mengikuti banyak lomba, bahkan ada yang tingkat internasional dan kumenangkan. Aku banyak diundang stasiun TV untuk wawancara. Senangnya diriku!

Baca:
Cerita Anak: Menulis Cita-cita
Perbedaan pegangan forehand dan pegangan backhand dalam permainan bulu tangkis
Lomba 17 Agustus di Sekolah – Part 1
Cerpen Singkat Tentang Olahraga – Volleyball

Pesan Moral Cerita Anak – Jagoan Badminton:

Jangan minder jika kamu pemula, berlatihlah sebanyak yang kamu bisa, buktikan bahwa kamu mampu. Ingat! kamu bukan tidak bisa, melaikan kamu belum terbiasa.

Semangat! Kamu pasti bisa!

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

10 Komentar

Balas komentar
  1. kak Hildaaa @caramelmentoz , ceritanya seru banget, aku milih ini duluan baru baca yang ‘ Demi Followers ‘ karena aku juga ga terlalu mahir di main Badminton, selalu kalah-menang, berhenti kalau ada angin dll, cerita ini bagus bangetttt , I like so much

  2. Karyanya keren dan bermanfaat. Aku dapat pelajaran bahwa kita tidak boleh langsung menyerah, teruslah berusaha. Hasil serahkan pada-Nya, Usaha lebih penting.Aku juga sebenarnya belum bisa dan belum terlalu mahir main badminton.

Yuk tulis komentar kamu