in

SenangSenang KerenKeren KagetKaget

Cerita Anak: Jujur Itu Baik

Cerita Anak: Jujur Itu Baik
Cerita Anak: Jujur Itu Baik

Cerita Anak: Jujur itu baik. Hai semua, ini cerita pertamaku, semoga kalian suka ya, maaf kalau agak berantakan, hehe. Dibaca sampai selesai ya!

Pintu kamarku diketuk dengan keras berulang kali. “Bintang, apa ini? Coba jelaskan pada Ibu,” terdengar suara teriakan Ibu dari luar kamar.

“Oh tidak, sepertinya Ibuku sedang marah.” Aku yang masih kaget dan takut langsung menuju ke depan pintu kamar dan membukanya.

Begitu pintu dibuka, Ibu langsung menunjukkan selembar kertas dengan angka 50, di samping kanan atasnya. ”Apa ini Bintang, kenapa kamu bisa sampai dapat nilai 50, kamu tidak belajar ya?” tanya Ibu dengan nada marah.

“Aduh gimana nih? Aku sebenarnya memang enggak belajar, tapi kalau jujur nanti Ibu makin marah, yaudah deh aku bohong aja,” batinku dalam hati, ”Itu Bu, aku belajar kok, tapi soalnya itu loh susah banget Bu,” jawabku dengan mencoba terlihat jujur di depannya.

“Iya, tapi kalau kamu belajar pasti bisa, lah ini kenapa bisa sampai jelek begini, kamu gak boleh bohong ya Bintang!”

Kali ini, dengan nada sedikit tenang mungkin agar aku bisa jujur di depan Ibu. ”Tidak Bu, aku jujur, aku sudah belajar, tapi soalnya susah banget Bu,” ucapku mengelak dan berusaha tidak menatap matanya karena takut ketahuan.

“Baik, Ibu percaya sama kamu Bintang, lain kali belajar lebih rajin ya nak, Ibu begini karena sayang, Ibu mau kamu kelak jadi orang yang berhasil, yang untung bukan Ibu tapi kamu nak, kamu akan bangga dengan diri kamu, atas semua pencapaianmu.” jelasnya penuh kasih sayang.

Aku bisa merasakan itu, tapi maaf Bu anak mu sudah terlanjur berbohong. Jujur aku malu dan takut kepadanya, apalagi jika dia tahu  aku tidak belajar karena sibuk bermain game.

Esok paginya…

Seperti biasa aku berangkat ke Sekolah. Sampai di kelas aku bertemu teman baikku namanya Mentari.

”Hai Bintang, eh kamu kemarin gimana dimarahin ibumu enggak? Kan nilai kamu jelek gara-gara enggak belajar?” Tanya mentari.

“Emm, iya Ri. Sebenarnya aku bohong sama Ibu karena nilai ku jelek, aku takut, tapi jika sekarang jujur, aku malu banget dan nanti malah tambah marah. Gimana nih Ri, aku bingung?” Tanyaku meminta saran.

Entah kenapa, setelah cerita kepada Mentari perasaanku sedikit lega. Ada perasaan tenang setelah aku berkata jujur, rasanya semua beban itu terlepas.

“Waduh kamu gimana sih, harus nya jujur. Jika Ibumu marah karena nilai jelek, itu wajar. Jika Dia nanti menasehatimu, ya memang harus kamu dengarkan, kerena memang itu tugas orang tua menasehati anaknya agar jadi anak yang pintar dan berbakti. Perlu kamu tahu, semua Ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya!” Aku seperti tertampar oleh ucapan Mentari, aku salah banget sama Ibu.

“Tapi Ri aku malu ngomong dengan Ibuku.”

”Bintang temanku, yang memulai kan kamu, jadi kamu harus menyelesaikannya. Jika kamu enggak minta maaf sekarang, perasaan bersalah itu akan terus menghantuimu.” Lagi-lagi kata-kata Mentari membuatku semakin merasa bersalah, tapi dia ada benarnya juga.

”Makasih Ri, kamu memang teman terbaikku.”

”Hehe iya sama sama.”

Sepulang sekolah…

Aku mengucap salam dan langsung masuk ke rumah kemudian mencari Ibu.  Sejujurnya, sepanjang perjalan menuju ke rumah, aku sudah menyiapkan keberanian untuk berkata jujur depan Ibu.

“Ibu, Bu, maafkan Bintang ya, kemarin Bintang bohong sama Ibu, nilai ulangan kemarin jelek karena enggak belajar dan malah main game di HP. Bu, aku menyesal dan minta maaf ya. Bintang tau, Bintang salah.”

Ibu tersenyum dan memelukku dengan erat. “Ibu sudah duga kamu bohong, kamu tau kan bohong tidak baik, untuk masalah kemarin Ibu maafkan, tapi lain kali kamu harus jujur ya sama Ibu, diambil juga pelajarannya karena kamu main game dan enggak belajar, jadinya nilai kamu jelek”

“Iya Bu, makasih ya sudah maafin Bintang, Bintang janji akan belajar agar bisa membagi waktu yang terbuah sia-sia, mengerjakan kewajiban bintang terlebih dahulu, dan akan berbicara jujur”

“Begitu dong, ini baru anak kesayangan Ibu.”

Akupun pergi ke kamar untuk mengganti pakaian. “Huft, rasa sesak di dada hilang sekejap, lega sekali. Sepertinya dari kemarin dadaku terikat keras dengan tali, kini tali itu sudah hancur oleh keberanianku berkata jujur.” Batinku.

Baca:
Contoh sikap jujur yang kamu ketahui
Contoh perilaku jujur di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat
Contoh perilaku jujur dalam bergaul dengan orang lain!
Jelaskan cara menerapkan kejujuran di Sekolah?

Pesan Moral Cerita Anak: Jujur itu baik:

Keberanian Bintang berkata jujur patut untuk ditiru, karena jika tidak, kebohongan akan selalu ditutupi dengan kebohongan baru lagi.

Sekian dulu sobat penulis cilik ceritanya. Bagaimana apa yang bisa kalian ambil dari kisah Bintang ini? Berbohong itu pastinya tidak baik ya teman-teman. 

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

2 Komentar

Balas komentar

Yuk tulis komentar kamu