in

NgakakNgakak SenangSenang KerenKeren

Cerita Anak: Lava Cake Vani

Cerita Anak: Lava Cake Vani
Cerita Anak: Lava Cake Vani

Cerita Anak: Lava Cake Vani. Libur hari ini nampaknya membosankan. Aku hanya dapat bermain bersama kedua temanku yang kebetulan rumahnya bersebelahan denganku. Pandemi Covid-19 menghalangiku untuk jalan-jalan ke luar. “Huuh, bosan sekali ya. Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Keysa.

“Hmmm, bagaimana jika kita membuat sesuatu? Pasti akan sangat menyenangkan!” ajak Nada.

“Ide bagus. Nah, kita membuat brownies saja? Bagaimana Van? Kamu dari tadi kerjaannya baca aja terus,” kata Keysa.

“Aku ikut kalian saja,” jawabku singkat.

“Tapi, kalau brownies bahannya kurang. Aku tidak punya cokelat bubuk. Lebih baik kita buat yang lain saja, yang murah dengan bahan seadanya,” ucapku.

“Memangnya, apa yang kamu punya Van?” tanya Nada.

“Aku punya tepung terigu, margarin, telur gula pasir, meja, kursi, buku, pensil …,”

“Stooopppp! Sudah, yang kumaksud adalah bahan yang kau punya untuk membuat makanan, Vani!” Belum selesai aku berbicara, Nada sudah kesal duluan.

“Hihi, iya-iya. Jangan marah begitu doong, wajahmu jadi jelek tau!” candaku samil tertawa cekikikan

“Wah, kalau begitu, kita membuat lava cake saja! Aku pernah membuat lava cake menggunakan chocolatos drink!” usul Keysa.

Aku dan Nada mengangguk tanda setuju sambil tersenyum. Kami mulai membeli bahan yang kurang. Kemudian menyiapkan bahan-bahan dan dibawa ke rumahku. Kulihat, Keysa mulai sibuk merebus sedikit air, dan meletakkan margarine di atas mangkuk kecil, yang kemudian dicairkan.

“Nahh, semua bahan sudah siap. Ayo mulai membuat!” seru Keysa. Ia mulai mengajari kami membuat lava cake.

 “Kita campurkan semua bahan satu per-satu. Eh, tunggu. Van, ini benar tepung terigu? Mengapa berwarna putih?” tanya-nya keheranan saat mau memasukkan tepung.

“Aku tidak tahu. Coba ku-tanya Mama dulu yaa!”

“Ma! Ini benar tepung terigu? Kok warnanya putih seperti tepung kanji ya Ma?” tanyaku sambil menydorkan tepung putih itu pada Mama.

“Sepertinya iya, karena, kalau tepung kanji, biasanya lebih putih dan tekstur-nya berbeda.” Mama menjawab dengan tak terlalu yakin.

Nada kemudian memasukkan tepung itu ke dalam adonan, dan Keysa mengaduknya. “Tunggu, mengapa tekstur adonan-nya berbeda seperti biasanya?” tanya Keysa keheranan sambil terus mengaduk adonan.

Akhirnya, setelah bertanya pada Nenek, kami baru tahu kalau yang kami masukkan adalah tepung kanji. “Duuh, bagaimana ini? Nanti gagal doong!” keluh Nada.

“Lebih baik kita coba saja. Daripada mengulang dari awal, sayang adonan-nya!” kataku menyemangati mereka.

Semua bahan sudah dicampurkan, waktunya memasukkan adonan ke dalam cetakan.

“Kita pakai cetakan kecil saja. Supaya lebih cepat matang!” kata Keysa.

Kami mulai memindahkan adonan berwarna cokelat itu dari mangkuk ke dalam cetakan plastik. Oh iya, tidak lupa, sebelum membuat adonan, aku sudah memanaskan panci untuk mengukus. Dan semua adonan itu, sudah ada di dalam panci kukus.

“Oke, kita tunggu sampai enam menit, supaya dalamnya tidak matang, dan membentuk lava!” jelas Keysa.

Sambil menunggu, kami mengobrol juga bermain bersama. Hingga tak terasa, enam menit sudah berlalu.

“Yaahhh, kok lava cake-nya masih belum matang?” ucapku lesu saat membuka tutup panci dan melihat lava cake yang masih cair.

“Hmm, mungkin karena memakai tepung kanji. Coba kita tunggu lima menit lagi,”  kata Nada.

Namun, lima menit telah berlalu dan adonan masih saja cair. Akhirnya, kami menunggu hingga tiga puluh menit lamanya. Dan pada saat kami membuka panci kukusan, adonan sudah mengembang tinggi hingga mengenai kain yang melapisi tutup panci.

“Yaahh, lava cake-nya mengembang. Hmm, kalau seperti ini, namanya bolu cokelat!” keluhku.

“Sudahlah, tidak apa-apa,” balas Nada.

Kami mencoba mencicipi lava cake itu, tetapi, saat akan diletakkan di piring, kue itu masih tidak terlepas dari cetakan. Yah, rupanya, kita semua lupa mengolesi cetakan menggunakan margarine terlebh dahulu. Sehingga, kue-nya lengket, dan hancur!

“Oke, deal. Camilan hari ini, gagal total!” seru Keysa sambil tertawa.

Akhirnya, kami menikmati kue gagal itu sambil bercanda dan tertawa bersama. Yah, meski gagal, tetap saja, rasanya tidak berubah dan masih bisa dinikmati.

Baca:
Cerita Anak: Kue Ulang Tahun Kakak
Cupcake Kue Perdamaian – Part1
Kue Ulang Tahun Spesial Untuk Nara – Part 1
Kue untuk donasi

Terima kasih sudah membaca Cerita Anak: Lava Cake Vani. Koreksi dan bagikan ya!

4 Komentar

Balas komentar
  1. Sis Salwa… the story is really funny… fery intertaining. Thanks sis for sharing the story:). I read Salwa work until i laughed….hihihi…
    yes, my enthusiasm is to make other works i supports Salwa to continue making works:):):)

Yuk tulis komentar kamu