in

KerenKeren

Cerita Anak : Melawan Si ‘M’

Cerita Anak: Melawan rasa malas
Cerita Anak: Melawan rasa malas

Cerita Anak : Melawan Si ‘M’. Karin adalah anak yang malas. Ia selalu malas mengerjakan sesuatu yang menjadi kewajibannya, lebih suka bermalas-malasan sambil bermain game. Sifat malasnya itu membuat nilai Karin di sekolah kurang baik, sering terlambat dan banyak mendapat teguran dari guru-guru.

“Aaa, aku terlambat bangun! Pasti ke sekolah akan terlambat juga. Malas deh harus sekolah!” keluhnya pada suatu pagi. Kemarin, ia tidur larut malam. Makanya, tak heran ia terlambat bangun. Karin takut terlambat masuk sekolah hanya karena bangun kesiangan, apalagi mengingat beberapa hari yang lalu sudah diomeli oleh Pak Satpam.

Setelah itu, Karin pun terburu-buru. Ia bersiap-siap. Malas mandi, jadi tak usah. Sarapan juga memperlambat, nanti saja. Mama, Papa dan Kakak sudah berangkat. Karin sendirian di rumah. Karin bergegas pergi ke sekolah.

“Lagi, Karin?” kata Pak Satpam dengan raut wajah kesal, “cepat masuk kelas.”

“I-iya, Pak,” jawab Karin, malu.

“Lain kali jangan terlambat lagi! Kamu ini, pasti malas bangun pagi,” seru Pak Satpam.

“Ehm, baik Pak.” Karin pergi ke kelas.

Di kelas, Karin mendapat teguran dari Bu Nina, wali kelas 3A.

“Karin, saya sudah ingatkan berkali-kali agar tidak terlambat masuk kelas. Saya dengar dari orangtuamu, kamu malas sekali bangun pagi dan belajar. Contoh Malya, dong! Malya tidak pernah terlambat, selalu menjadi murid yang pertama kali masuk kelas. Silakan duduk, Bu Nina sedang mengumumkan nilai ulangan harian matematika seminggu yang lalu.”

“Maaf, Bu,” kata Karin sambil merapikan tasnya di loker.

“Anak-anak yang Bu Nina kasihi, terima kasih bagi yang sudah rajin belajar dan mengerjakan ulangan harian dengan maksimal. Sekarang saatnya Bu Nina membagikan nilai kalian,” kata Bu Nina, “Malya, 100. Selamat, Malya! Pilihan ganda dan isian benar semua. Uraian, kamu paling lengkap. Sekali lagi, selamat.”

“Terima kasih, Bu.” Malya menerima kertas hasil ulangannya dengan perasaan gembira.

“Selanjutnya, Ben. Kamu mendapatkan nilai 97. Sayang sekali, kamu kurang teliti! Jawaban uraianmu sudah lengkap, tetapi ada salah satu yang kamu lupa rumusnya. Lebih teliti, ya!” Bu Nina tersenyum, sambil menjelaskan sedikit rumus kepada Ben.

Hasil ulangan harian teman-teman Karin tidak ada yang mengecewakan. Semuanya rajin belajar, berbeda dengan Karin.

“Terakhir, Karin! Nilaimu 24. Lebih rajin belajar, ya. Jika kamu malas, bagaimana mau mendapat nilai yang baik? Bangun pagi saja malas, begitu pula dengan belajar. Semangatlah, jangan lupa belajar setiap hari.” Bu Nina menyerahkan kertas hasil ulangan Karin. Lingkaran kecil di pojok kiri kertas bertuliskan angka 24 berwarna merah, sungguh memalukan.

Sesudah pembagian nilai, dilanjutkan dengan pelajaran selanjutnya. Karin sungguh malas. Ia tidak mendengarkan apa yang guru katakan. Melamun, menggambar di buku pelajaran, menjahili teman sebangku tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.

Pulang sekolah, Karin terlihat lesu. Karin sedikit berpikir mengenai nilainya. Nilainya banyak yang kurang. Bagaimana ini? Pasti Mama dan Papa kesal.

“Halo, Karin! Mengapa kamu terlihat lesu?” tanya Mama. Karin menceritakan semuanya dengan air mata.

“Begitulah Ma! Karin bingung sekali,” kata Karin.

“Ooo, kalau begitu, kalahkan si ‘M’, Karin!” seru Mama.

“Apakah maksud Mama adalah Malya? Itu sih tidak mungkin, Ma. Malya sangat pandai. Sifatnya juga rajin.” Karin menolak.

“Bukan! Mengapa harus mengalahkan Malya? Maksud Mama, MALAS. Kamu harus mengalahkan rasa malas. Mama tidak apa-apa jika kamu belum bisa lebih mahir daripada Malya, karena tentunya di atas langit masih ada langit. Namun, Mama akan sangat bangga jika kamu dapat mengalahkan si malas,” jawab Mama. Senyum Karin mengembang.

“Wah, baiklah Mama! Karin akan berusaha mengalahkan si ‘M’ dengan baik.” Karin bicara dengan yakin, “tantangan dimulai dari sekarang!”

Kali ini, untuk melawan rasa malas, Karin tidak bermain gawai untuk mengisi waktu luang. Karin belajar matematika, mengingat kembali materi yang belum dikuasainya. Ia juga bermain piano untuk mengasah kemampuan musiknya. Jangan malas olahraga, Karin bermain bulu tangkis. Berhenti tidur larut malam, lebih baik tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi!

Benar saja, keesokan harinya Karin berhasil bangun pagi tanpa rasa malas. Tubuhnya terasa segar. Ia meregangkan tubuhnya, lalu segera sarapan dan bersiap-siap ke sekolah.

Setelah selesai bersiap-siap, Karin segera pergi ke sekolah, tentunya tanpa rasa malas juga, dong. Karin mengayuh sepeda merah jambu kesayangannya. Angin meniup perlahan, dengan sambutan mentari pagi yang cerah. Pagi hari yang sungguh sejuk.

“Selamat pagi, Karin,” sapa Malya, saat Karin tiba di sekolah.

“Ah, Malya! Selamat pagi juga,” jawab Karin.

“Rin, apa kamu ingin belajar bersama-sama? Aku masih bingung mengenai materi Bahasa Indonesia. Kuharap kamu bisa membantu,” pinta Malya.

“Tentu saja aku ingin. Mari, Malya!” seru Karin senang.

Karin dan Malya belajar bersama-sama. Tak lama kemudian, Bu Nina dan beberapa teman sekelas mereka datang.

“Wah, ada Karin! Hebat, nih, sudah lebih rajin bangun pagi dan pergi ke sekolah lebih awal,” puji Bu Nina. Karin tersenyum.

Hari itu, Karin menjadi lebih bersemangat belajar. Rasa malasnya sudah ia lawan. Kemalasannya lama-kelamaan menghilang.

Berbulan-bulan kemudian, tibalah waktunya pengumuman ranking. Karin mendapatkan ranking 5. Memang, sebelumnya, kan, nilai Karin kurang baik. Akhirnya, saat ditotal, nilai yang kurang baik itu pun berpengaruh. Namun, Mama, Papa dan Kakak tetap bangga kepada Karin. Mengapa?

“Mama, Papa dan Kakak benar-benar bangga kepada Karin. Karin punya kemajuan dan yang terpenting Karin sudah melawan si ‘M’. Bukan Malya! Malya ranking 1, berarti lebih tinggi dari Karin. Walaupun Karin belum mengalahkan Malya, Karin melawan si MALAS. Itu sudah hebat sekali, bukan?

-Tamat-

Baca:
Cara mengatasi kemalasan belajar (Teks prosedur)
Kursi malas empuk milik Nara
5 Fakta Orang Pemalas, Apakah Kamu Termasuk?
Cerita Anak – Aca Si Pemalas

Terima kasih sudah membaca cerita anak yang bercerita tentang melawan rasa malas. Silakan koreksi dan bagikan jika ini bermanfaat.

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu