in

KerenKeren

Cerita Anak: Menulis Cita-cita

Cerita Anak: Menulis Cita-cita
Cerita Anak: Menulis Cita-cita

Cerita Anak: Menulis Cita-cita. Menjelang siang, para guru harus melaksanakan rapat untuk ujian nasional. Bu Suci yang akan mengajar bahasa Indonesia di kelas enam harus pergi meninggalkan kelas bahkan sebelum pembelajaran dimulai. Beliau meminta anak-anak untuk membuat karangan tentang Cita-cita. Setelah memberikan tugas itu, Bu Suci pergi ke luar kelas.

Membuat karangan bukanlah hal yang sulit bagi Danu, ia dikenal sebagai anak yang sangat pintar mengolah kata-kata. Berbeda dengan sahabatnya. Rendi, yang selalu kesulitan membuat tulisan. Jangankan menulis, membaca saja kadang ia masih suka salah.

“Kamu punya cita-cita, Jem?” Tanya Rendi dengan raut wajah meminta bantuan.

“Aku mau jadi penulis!” Kata Danu semangat, ia memang bercita-cita jadi sastrawan, maka dalam karangannya nanti akan ia selipkan puisi memikat hati Bu Suci.

Rendi tak kuasa meminta bantuan pada Danu yang sedang asik menulis, bisa-bisa ide Danu buyar dan jadi marah pada Rendi. Akhirnya, Rendi berusaha mengingat apa saja profesi yang ada di dunia ini.

Bagai bola lampu yang menyala di atas kepala, Rendi tersenyum lebar ketika sebuah ide datang dari otaknya. Dengan penuh semangat, ia pun berkata, “Aku mau jadi pembangun!”

Meski samar-samar, Danu masih bisa mendengar perkataan Rendi. Dengan heran, Danu menengok ke arah sahabatnya yang sudah memegang bolpoin dan siap menulis.

“Hah? Tukang bangunan?”

“Bukan!” Kata Rendi sambil tertawa. “Tapi pembangun generasi. Aku ingin jadi guru!”

“Kenapa ingin jadi guru?” Tanya Danu penasaran.

Rendi pun menjawab dengan semangat, “Karena aku ingin membangun generasi yang lebih baik, membangun sistem pendidikan yang lebih baik juga. Supaya nanti, aku bisa menjadi guru yang selalu membimbing anak-anaknya!”

“Wah hebat sekali. Aku juga ingin jadi penulis karena aku ingin membangun pemikiran anak-anak yang lebih bijaksana. Dengan tulisan, kita akan bisa belajar banyak hal, kan?”

“Kalau begitu nanti kita kolaborasi saja ya, Danu!” Rendi tertawa senang.

Danu pun mengangguk, “Ayo! Meskipun katanya gaji penulis dan guru itu kecil, tapi aku yakin manfaatnya sangat besar!”

Baca:
Cerita Anak: Ajaibnya Sedekah
Cerita Anak: Kue Ulang Tahun Kakak
Cerita Anak: Surat Untuk Mama
Cerpen Persahabatan Lucu – Mencari Pondasi
Cerita Anak: Membuat Wayang Bersama Kakek
Pentingnya Pohon Bagi Kehidupan

Terima kasih sudah membaca Cerita Anak: Menulis Cita-cita. Semoga bermanfaat.

Yuk tulis komentar kamu