in

KerenKeren

Cerita Anak: Pita Emas

Cerita Anak: Pita Emas
Cerita Anak: Pita Emas

Cerita Anak: Pita Emas. Hari ini adalah hari libur. Karena tidak ada kesibukan lain, kemungkinan aku hanya nonton, maen game, atau bermain dengan teman-teman. ”Hana tolong bersihkan loteng ya… Ajak Nana sekalian. Kalau lotengnya sudah, boleh pergi bermain.” Perintah Mama kepada kami. Aku mengangguk lalu mengajak Nana untuk membersihkan loteng bersama.

“Eh Nana… tolong bersihkan yang di sana ya, biar aku yang membersihkan bagian ini.” Aku coba membagi tugas agar cepat selesai. Saat membersihkan rak lemari yang tinggi, tak sengaja aku menyenggol sebuah toples kayu usang dengan debu tebal menyelimutinya. Toples itu jatuh dan terbuka, terlempar juga dua buah pita berwarna emas dari dalamnya.

”Hei Nana..lihat ini ada pita emas, pokoknya cantik deh kamu harus melihatnya” panggilku kepada Nana. ”Wah… cantiknya pita ini.. Milik siapa pita ini?” tanya Nana. ”Tidak tahu.. tapi kita pakai saja yuk pitanya, lagipula ini pita bagus.” Tanpa perlu di perintah dua kali Nana memakai pita itu.

Setelah memakai pita itu, tiba-tiba seperti ada pusaran yang menarik Nana kedalam pusaran itu. “Aaaa..! Hana tolong aku!” teriak Nana. ”Aku akan menarikmu!” ucapku sambil menarik tangan Nana. Tapi pusaran itu malah turut menarikku bersama Nana. ”Aaaa!” teriakku.

“Aduh..! Haaah, dimana ini? Nana ayo bangun.. apakah kamu tidak apa-apa?” tanyaku melihat Nana tergeletak dengan lemas. ”Hah, dimana ini? Kenapa disini banyak sekali bunga dan kupu-kupu berwarna emas?” tanya Nana setelah sadarkan diri. Lalu Nana pergi meninggalkanku. “Waw!! Lihatlah indah sekali tempat ini.. semua bunga, pohon dan kupu-kupu berwarna-warni,” ucapku kagum.  Sementara Nana sudah menari kegirangan.

Lihatlah disini banyak bunga beraneka ragam dan warnanya, juga pohon-pohon yang buahnya beraneka macam juga ada air terjun yang indah tertutup awan. Oh ini sungguh seperti surga..

Lalu Nana segera mengambil buah cery yang berada di salah satu pohon. “Nyam.. hhmm.. enak sekali buah ini,” kata Nana. “Iya sangat enak.. belum pernah aku makan buah seenak ini,” kataku menimpali. “Eh iya.. yuk kita ambil minum dari wadah besar itu,” ajakku. Lalu kami mendekati air itu, lantas meminumnya dan ternyata airnya sangat segar. Aku dan Nana menghabiskan banyak waktu untuk menikmati aneka buah dan bermain-main. Ah senangnya kami bermain hingga lupa waktu.

“Hei lihat..ini ada kasur emas yang besar” teriak Nana kepadaku. Akupun mendekati kasur emas yang dimaksud Nana. Pelan-pelan aku mendekat dan ternyata itu bukan sebuah kasur.  Itu adalah segerombolan kupu-kupu berwarna emas yang sedang mengerumuni sebuah kotak kecil. Lalu akupun membuka kotak itu dan ternyata isi kotak itu adalah surat dan aku membacanya.

Isi suratnya adalah, ”Hai kalian yang memakai pita berwarna emas, saat ini kalian berada di dunia pita emas. Ada banyak keajaiban di sini dan tentunya aku yakin kalian suka tempat ini. Kalian akan mendapatkan buah apapun yang kalian mau di tempat ini. Yang terpenting kalian bebas untuk melakukan apa saja. Jika kalian ingin tinggal di sini tinggallah dengan senang hati. Tapi sebaliknya jika kalian tidak mau tinggal di sini, kalian harus menemukan pintu yang terbuat dari marjan merah dan hijau. Aku sangat senang dengan keberadaan kalian disini walau hanya sementara. Oh iya perkenalkan namaku adalah Lavender. Jika kalian ingin pulang, jangan lupa mengambil sebagian buah di sini yang kalian mau…hahaha..”

“Hhmm.. tapi dimana kita akan menemukan pintu itu untuk pulang? Lalu bagaimana kalau nanti ada binatang buas? Hiiiii…” kata Nana khawatir. ”Huh! Mana mungkin? Disini itu tidak ada binatang buas..“ ujarku meyakinkan Nana. “ Ya sudah.. yuk kita cari sekarang pintu itu…tapi sebelum mencari, kita bawa dulu bekal buah dan air,”ajak ku sambil mengambil beberapa buah untuk bekal perjalanan sementara Nana mengambil air. ”Baiklah, sekarang kita langsung saja mencari pintu itu,”ujarku penuh semangat. ”AYO KITA BERANGKAT !!!!” teriak kami serempak sambil melangkahkan kaki untuk mencari pintu itu.

Ternyata untuk mencari pintu itu membutuhkan waktu lama. “Hah! Aku capek kita istirahat sebentar yuk, “ Nana kelelahan. “Ya sudah kita istirahat di sana,” aku menunjuk tempat yang dekat sungai. Kami pun melangkah bersama. “Akhirnya…eh Hana.. kamu yakin disini tidak ada binatang buas? Aku kok mulai khawatir ya?”

“Sepertinya kamu tidak usah khawatir.“

Tiba-tiba…

“Eh itu suara apa… kok seperti ada sesuatu di semak besar itu.. apa itu..?!“ Nana menunjuk kearah semak yang menjulang. Belum sempat aku mendekati semak itu sudah keluar sebuah hewan besar. Aku tidak tahu itu hewan apa. Sontak saja aku kaget dan langsung menyusul Nana yang sudah lari duluan. “AAAA!!! TOLONG!!!” Kakiku terjepit oleh akar  kayu. Nana segera melepaskan  kakiku dari akar itu. “Ayolah.. cepatlah.. kita sedang dalam bahaya!” Nana mengomel sendiri sementara aku juga berusaha melepaskan kakiku.

Hewan buas itu tinggal 5 langkah lagi untuk mendekat ke arah kami, tapi hewan itu kalah cepat. Seseorang muncul dari kotak surat yang kubawa. Orang itu dengan cepat langsung membawa kami ke suatu tempat. Hei..! Tempat ini lebih indah dari tempat yang sebelumnya.

“Aduh! kita di mana ini?” tanyaku. “Aku tidak tahu, tapi apakah kita sudah dekat pada pintu itu?” tanya Nana. “Sepertinya belum tapi lihat jalan yang itu.. Di jalan itu hanya terdapat bunga-bunga… yuk kita lewati jalan itu,“ ajakku. Kami pun mulai meneruskan lagi perjalanan mencari pintu itu.

“Eh apa itu? Kenapa bunga itu berbeda dari yang lain? Ah sudahlah.. aku ambil saja” tanpa pikir panjang aku memetik bunga itu tanpa diketahui oleh Nana.

Hari pun mulai gelap…

”Hoahmm… Aku capek nih. Kita istirahat dulu yuk.. lagipula ini sudah mulai gelap,” Nana mengeluh. ”Baiklah kita istirahat disana,“ jawabku sambil melihat persediaan makanan. Perlahan-lahan kami melangkah ke tempat yang tanahnya lapang. Disana terlihat banyak sekali kunang-kunang yang menyinari tempat itu. ”Wah.. aku ingin menangkap kunang-kunang itu,” ucap Nana sambil berusaha menangkapnya.

Beberapa menit kemudian.

“Ternyata asyik ya tiduran sambil melihat bintang.. Hei lihat.. Itu rasi bintang,” teriak Nana. ”Gemini!”tunjukku. “Wah ada bintang jatuh.. Banyak sekali bintang disini.. Aku jadi ingat mama.. Eh.. mama! Iya aku lupa! Kita seharusnya mencari pintu untuk pulang bukannya malah tiduran disini! Pasti mama khawatir!” aku mulai sadar kalau aku harus mencari pintu itu. Lalu akupun berdiri dan mencari lagi pintu itu diikuti oleh Nana.

“Aduh bisa-bisanya aku lupa kalau aku dan Nana harus mencari pintu itu,” ucapku jengkel dalam hati. Banyak sekali kata-kata yang masuk kepikiranku. ”Hei lihat itu dia pintunya!!” teriakan Nana mengagetkanku. Aku pun segera menyusul Nana. ”Benar ini pintunya!? Hhmm ya sudah… Ayo kita langsung masuk saja.” Tanpa pikir panjang aku dan Nana langsung memasuki pintu itu.

”AAAAA!!!”

“Aaaaah!!!” aku jatuh di lantai loteng.  Aku sudah sadar dan disusul Nana. “HANA!!! NANA!!!” teriak mama sambil berlari mendekatiku lalu memelukku. “ MAMA!!! AYAH!!!” teriakku dan Nana bersamaan . Ayah dan mama memeluk kami bergantian.

TAMAT.

Baca:
Cerita Anak: Balon Harapan
Cerita Anak: Kue Ulang Tahun Kakak
Cerita Anak: Ajaibnya Sedekah
Cerpen Persahabatan Lucu – Mencari Pondasi
Cerita Anak: Harta Karun

Terima kasih sudah membaca Cerita Anak: Pita Emas. Koreksi dan bagikan cerita buatanku ini ya!

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu