in

NgakakNgakak TakutTakut SedihSedih SenangSenang KagetKaget KerenKeren

Cerita Anak: Semangatku Untuk Belajar

Cerita Anak: Semangatku Untuk Belajar
Cerita Anak: Semangatku Untuk Belajar

Cerita Anak: Semangatku Untuk Belajar. Pagi yang cerah telah tiba. Hembusan angin menyapu wajahku, ayam berkokok begitu kencang, dan tentunya mentari yang masih terbit dari arah timur. Aku semangat menjalani hariku. Tidak ada yang dapat menghalangiku berkarya sebagai anak Indonesia. Semangat, semangat, semangat! Tentunya, itulah yang aku rasakan setiap pagi. Semangat itu selalu ada di dalam benakku.

Halo! Namaku Cahaya, dan kalian dapat memanggilku Caca! Aku tinggal di desa kecil, dimana pendidikan masih belum terlalu baik. Bahkan beberapa warga di sana menentang pendidikan, karena menurut mereka saat besar pasti kami akan menjadi petani atau peternak biasa. Tidak hebat, tidak spesial, dan tidak membutuhkan sepersen pun pendidikan.

Aku, dan sahabatku, Arya, pergi ke penitipan anak. Tempat dimana kami bermain dan belajar bersama selama ayah dan ibu kami bekerja di ladang ataupun di sawah. Tempatnya tidak terlalu besar apa lagi mewah, hanya sebuah gedung sederhana, namun tampak rapi dari luar maupun dari dalam. Keceriaan selalu terpancar di sana, kami belajar membaca, menulis, berhitung, dan bernyanyi. Teman-teman kami di sana juga memiliki semangat yang tinggi dalam belajar.

“Ca, katanya, nanti kita akan berkunjung ke kota lho!” kata Arya. “Ah, benar nih Ya? Nanti kita melakukan apa saja?” tanyaku. “Aduh, banyak! Kata Bu Wati, kita akan pergi ke sekolah untuk melihat-lihat dan belajar selama sehari. Bahkan itu adalah undangan dari kota, jadi kita santai,” jawab Arya. Aku terkagum-kagum. Pasti semangat belajar anak-anak kota sangat besar seperti sekolahnya. Aku menunggu berhari-hari untuk itu. Nah, agar tidak ketahuan warga lain, aku cepat-cepat pergi ke rumah untuk bertanya kepada Bunda. “Bunda, sekolah itu seperti apa sih?” tanyaku. “Ada apa, Ca? Caca mau ikut sekolah?” tanya Bunda kembali. “Eng… Tidak,” jawabku. “Bunda tahu sekolah seperti apa, tapi tunggu ya Ca. Bunda mau memasak,” kata Bunda. Aku berlari ke kamarku.

Aku berbaring di kamar sambil memejamkan mata. “Ih, Bunda mana, ya… Hoahm… Jadi mengantuk, nih… Mau… Tidur…” gumamku. Aku tertidur, sepertinya beberapa menit. Bunda tidak datang-datang, ya sudah. Lagipula, kata Bunda, kalau mengantuk tidur saja. Tiba-tiba ada yang menepuk-nepukku dari belakang.

“Caca! Eh, malah tidur. Katanya mau Bunda jelaskan tentang sekolah,” kata Bunda lembut. “Hoaaahm… Oh, Bunda. Ayo Bun! Cerita yang banyak!” pintaku. “Jadi, sekolah itu tempat belajar teman-teman Caca yang lain. Di desa ini belum ada sekolah, tapi Bunda punya simpanan buku pelajaran dari Nenek yang siapatahu berguna untuk Caca,” jelas Bunda sambil menyodorkan setumpuk buku. “Ah, terima kasih, Bun!” ucapku.

Aku belajar banyak dari buku yang Bunda berikan. “Ini buku apa? Psi-psikologi? Apa itu? Kok bisa terselip di sini? Bunda, Bunda!” panggilku. “Ya Ca? Buku itu adalah buku psikologi. Psikologi itu semacam sifat-sifat dan jiwa yang dimiliki setiap orang. Kalau Caca mau membacanya, silakan,” jawab Bunda. “Eh, kok Bunda bisa tahu?” tanyaku. “Hahaha, ya iyalah, kan kamu berteriak kencang-kencang,” jawab Bunda lagi.

“Hmmm… Bagus juga bukunya. Wah, keren! Aku bawa untuk kunjungan ke kota, deh! Pasti teman-teman di kota suka!” gumamku. “Ca, Arya datang,” panggil Bunda. Arya datang ke kamarku. “Arya! Sini, deh. Aku punya buku yang sangat bagus,” jelasku. “Psikologi?” tanya Arya. Aku menjelaskan semuanya. “Ooo, begitu. Kamu beli dimana?” kata Arya. “Aku diberikan Bundaku,” jawabku. “Eh, sudah sore. Aku pulang, ya,” pamit Arya.

Keesokan harinya, ke sekolah! Ternyata Bunda mengizinkan. Aku pergi bersama teman-teman. “Waaaw!” pujiku melihat gedung-gedung tinggi. “Yang ini keren, bisa dijadikan lahan pertanian Ayah,” kata Arya. Bu Wati menjelaskan tentang segala yang ada di kota. “Museum! Sudah lama ingin ke sana!” kata Niken, temanku. “Sama, tuh!” tambahku. “Kamu pernah ke museum?” tanya Niken. “Belum, sih,” jawabku.

Sesampainya di sekolah, kami diantar ke kelas 3 SD. “K-kok begini?” bisikku kepada Niken dan Arya. “Iya, kok sepertinya Pak Gurunya marah-marah terus dan yang lain tidak ingin mendengarkan, ya?” balas Niken. “Anak-anak, mohon tenang! Kerjakan soal latihan kalian. Caithlyn dan Philip, tolong sambut teman-temanmu,” kata Pak Guru. Teman-teman di sana tetap ribut.

Daisy dan Philip ternyata siswa di situ. “Aku Caithlyn, dan ini temanku, Philip. Salam kenal, semua. Mohon maaf atas keributan di sini,” kata Caithlyn. “C-Caithlyn, Philip, kenapa begini?” tanyaku. “Ah, mereka menyia-nyiakan kesempatan bersekolah. Jadi ya begini,” jawab Philip. Aku sedih sendiri melihatnya. Kalau jadi mereka, aku pasti belajar dengan rajin.

“Hei, mau bermain? Ini, kalian semua memanjat pintu kelas kami!” kata seorang anak kepadaku, Arya, dan Niken. “Bukannya kalian sedang belajar? Hargai dong orangtua kalian yang sudah bekerja keras demi sekolah kalian!” tegur Niken. “Aaah, nyenyenyenyeh. Mereka memaksa kami sekolah, tahu!” kata anak yang lain. “Kalian tidak lihat semangat kami belajar walau tidak dapat meraihnya? Lebih baik kita bertukar!” tambahku. “Sudah, sudah. Ayo pergi,” ajak Arya.

Kami belajar selama berjam-jam dan rasanya seru sekali. Kami menikmatinya! “Cahaya Anjani, Niken Rahajeng, Arya Danendra, dan Bu Wati, boleh bicara sebentar?” tanya Pak Guru. “Ah, apa gara-gara yang tadi, ya?” tanya Arya. “Hah? Anak-anak itu?” tanya Niken balik. “Kita tidak salah. Kita kan hanya menegur yang menyia-nyiakan kesempatan,” jawabku.

“Begini, saya sangat melihat potensi tiga anak ini. Mereka benar-benar berbakat. Caca amat hebat di bidang membuat cerita bahkan artikel psikologi. Niken amat luar biasa di bidang melukis dan menggambar, sedangkan Arya amat mengagumkan di bidang olahraga. Tapi, mereka bertiga amat pintar. Jadi sekolah kami ingin mereka sekolah di sini dengan beasiswa,” kata Pak Guru. “Baik, Pak. Saya akan konfirmasi kepada orangtua mereka,” jawab Bu Wati. Kami bertiga benar-benar senang.

“Bundaaa! Caca dapat beasiswa!” laporku. Bu Wati sendiri sedang berkunjung. Mereka mengobrol panjang lebar sampai aku tertidur di dapur. “Ca, Caca…” panggil Bunda lembut. “Kami memutuskan… Kamu boleh sekolah!” kata Bu Wati. “Yey! Bagaimana, Bun? Pasti asyik dan itu merupakan pengalaman terhebatku!” aku melompat-lompat di dapur.

Ada kabar menyedihkan. Arya tidak dapat sekolah karena masalah larangan orangtua. Aku dapat lanjut dengan Niken. Memang, aku dan Arya sahabat. Aku jadi bimbang. “Tidak apa, Ca! Kan itu keinginan terbesarmu,” kata Arya. Aku dan Niken terpaksa meninggalkan Arya sendirian di desa. Tapi kami berjanji, saat pulang kami akan membawa banyak ilmu untuk Arya.

Setelah banyak urusan, kami pun dapat pindaaah! Aku sudah mulai sekolah dan itu amat menyenangkan. Belum lagi, cerita-cerita buatanku dimuat di beberapa kantor penerbitan dan lukisan Niken sangat terkenal karena indah dan keren. Kami amat bersyukur.

Perjuanganku tidak sampai di situ. Aku punya harapan: Masuk ke kuliah nomor 1 dan menjadi penulis terkenal.

Baca:
Lagu Hari pertama masuk sekolah
Kegiatan face painting di Sekolah
Puisi tentang tenaga medis
Pojok baca sekolah

PESAN MORAL: Lihat? Tidak semua orang dapat sekolah. Jadi bersyukurlah dengan pendidikan sekarang dan jadikan itu bekal untuk nanti.

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu