in

Cerita Anak: Teman Bermusikku

Cerita Anak: Teman Bermusikku
Cerita Anak: Teman Bermusikku

Cerita Anak: Teman Bermusikku. Aku dibonceng Bunda dengan sepeda untuk pergi ke tempat les musik, katanya supaya sehat dan segar.  Di perjalanan, Bunda menasihatiku untuk jadi anak baik dan menghormati teman-teman yang lain. Aku memang belum pernah bertemu mereka karena kami berbeda sekolah. Tempat les ini adalah satu-satunya yang ada di kota, jadi siswanya bukan hanya dari satu sekolah saja.

Ketika sampai di sekolah, sudah ada banyak anak seusiaku sedang bermain. Kami pun berkenalan satu sama lain. Ternyata, mereka anak-anak yang baik dan asik. Teman pertamaku adalah Hafza, dia cantik. Tapi bagiku dia sedikit aneh. Hafza selalu tersenyum tapi tidak pernah berbicara.

Di kelas, aku duduk dengan Hafza. Aku mencoba mengajaknya berbicara, tapi dia hanya diam saja. Aku bingung, apakah aku salah bicara? Karena dia tak kunjung menjawab, aku pun ikut diam dan menunggu guru kami datang.

“Halo anak-anak! Sekarang, kita bagi dulu peminatannya, ya. Ada kelas menyanyi, bermain piano, dan bermain biola. Silakan duduk dulu sesuai petunjuk dan peminatan kalian, ya!”

Aku suka menyanyi, jadi aku akan mengambil peminatan bernyanyi. Ternyata, Hafza memilih ke peminatan piano. Yah, tadinya aku ingin bernyanyi bersama Hafza. Kami pun masuk ke kelas masing-masing selama tiga puluh menit. Nanti, kami akan melakukan praktik percobaan. Aku sangat semangat untuk bernyanyi di depan semuanya! Bunda bilang, aku harus percaya diri dalam hal-hal positif. Aku akan selalu berusaha mengamalkan nasihat Bunda.

Aku dan lima teman di kelas menyanyi diperkenalkan nada-nada dasar oleh Pak Guru. Beliau juga melakukan permainan untuk melatih suara kami. Sangat menyenangkan! Tak terasa waktu sudah berjalan dengan sangat cepat. Inilah waktunya kami berpraktik bersama teman-teman dari kelas lain.

“Sekarang kita mulai dari kelas piano ya. Silakan Hafza maju ke depan dan perkenalkan diri dulu.”

Aku sangat penasaran dengan suara Hafza, jadi aku sangat semangat ketika melihatnya maju ke depan dengan wajah merah padam. Sepertinya ia demam panggung. Namun betapa kagetnya aku ketika Hafza tidak berbicara. Ia justru menggerakkan kedua tangannya seperti orang-orang yang ada di ujung bawah televisi. Apakah itu bahasa Isyarat? Berarti…

“Bagus sekali Hafza, kamu tidak membatasi diri dengan kekuranganmu!” Ya ampun, ternyata Hafza adalah anak spesial. Aku pun bertepuk tangan dan menyemangatinya. Hafza tersenyum dan menghampiri piano. Nada awalnya sangat indah. Tunggu, aku seperti mengenalnya! Oh, ini adalah lagu favoritku. Tak sadar aku pun bersenandung. Pak guru memintaku ke depan menemani Hafza. Kami pun berduet dan sangat menikmatinya sampai-sampai teman-teman bertepuk tangan dengan meriah. Ya, Hafza adalah teman bermusikku sekarang.

Tamat.

Baca:
Cerita Anak: Balon Harapan
Cerita Anak: Kue Ulang Tahun Kakak
Cerita Anak: Ajaibnya Sedekah
Cerita Anak: Surat Untuk Mama
Cerita Anak: Membuat Wayang Bersama Kakek
Cerpen Persahabatan Lucu – Mencari Pondasi
Cerita Anak: Harta Karun

Terima kasih sudah membaca Cerita Anak: Teman Bermusikku. Semoga bermanfaat.

Satu Komentar.

Balas komentar

Yuk tulis komentar kamu