in

SenangSenang KerenKeren

Cerita Anak Tentang Nelayan dan Buruh Pabrik

Cerita Anak Tentang Nelayan dan Buruh Pabrik
Cerita Anak Tentang Nelayan dan Buruh Pabrik

Cerita Anak Tentang Nelayan dan Buruh Pabrik. Siska tinggal di pedesaan. Dekat desanya, terdapat sungai dan laut. Itu juga alasan Siska sangat menyukai desanya. Siska dan sahabatnya, Maulana, sering duduk-duduk di pantai sambil menikmati sunset. 

Suatu hari, Siska diajak Maulana pergi berlayar bersama Pak Amin, ayahnya, untuk mencari ikan. Karena dekat perairan, banyak penduduk yang menjadi nelayan. Selain nelayan, ada juga yang bekerja menjadi buruh pabrik, ataupun berkebun. 

“Menikmati angin seperti ini tak akan pernah membuatku puas,” kata Siska yang sedang menikmati angin pantai di depan perahu mesin milik Pak Amin. 

“Kau harus sering-sering ikut aku, Ka,” kata Maulana, yang berdiri di samping Siska. 

“Airnya sangat jernih, menurutmu apakah hari ini akan banyak ikan yang kita dapat?” tanya Siska mengamati air. 

“Berdo’alah,” jawab Maulana. 

Setelah semua persiapan selesai, mereka semua mulai menaiki perahu dan berlayar. Tanpa terasa, sudah cuku jauh mereka berlayar meninggalkan pesisir. 

“Menyenangkan bisa melihat sunrise sedekat ini,” kata Siska berbinar. 

“Itu biasa.” jelas Maulana yang tampak terbiasa. 

“Maulana, bagaimana kalau ada hiu disekitar sini?” tanya Siska. 

“Asal kita kita tidak mengganggu, dia tidak akan menyerang, kalau pun menyerang, kita bisa kabur atau menangkapnya,” jawab Maulana melambaikan tangannya. 

“Hmm… airnya sangat jernih! Kenapa kau tidak melihatnya kesini, Maulana?” Siska terlihat girang. 

“Ya ampun, kau terlihat sangat girang, Ka,” kata Maulana. 

“Huh, kamu saja yang tak bisa mengagumi alam.”

Pak Amin mengeluarkan makanan yang ia bawa sebagai bekal, tanda waktu sarapan pagi sudah tiba. Tiupan angin membuat makanan terasa lebih enak, khususnya untuk Siska yang jarang merasakan suasana seperti ini.

Pak Amin sudah mengeluarkan jaring, dengan sigap ia pun melemparnya ke laut, aku yang masih memagang piring, segera menghabiskan makanan dan merapihkan semuanya. 

“Siska, ayahmu bekerja di mana?” tanya Pak Amin. 

“Ayah bekerja sebagai buruh pabrik, Pak. Tidak jauh dari Desa kok,” jawab Siska. 

“Terus ayahmu pulang malam, ya?” Kali ini Maulana yang bertanya. 

“Eh iya, kenapa?”

“Kamu pernah diajak ayah kamu ke pabrik?” tanya Maulana berbinar. 

“Hmm… pernah sih, tapi jarang-jarang. Sebenarnya setiap hari aku diajak ayah pergi ke pabrik, tapi karena ayah sibuk di sana, aku tidak punya teman,” cerita Siska. 

“Begitu ya, pasti kamu kesepian karena tidak ada aku di sana,” gurau Maulana. 

Siska dan Pak Amin tertawa bersama. 

“Eh, Maulana, kamu mau ikut aku ke pabrik?” tawar Siska. 

“Eh, sungguh? Aku boleh ikut ke pabrik?” tanya Maulana tak percaya. 

“Nanti kamu merepotkan, Maulana, tidak perlu,” ujar Pak Amin. Mendengar itu, Maulana pun menggerutu. 

“Tidak apa-apa, Pak… Nanti kan ada Siska juga di sana, Maulana pasti main sama Siska,” bujuk Siska. 

“Sungguh? Ta-tapi putraku itu tidak betah hanya diam saja,” kata Pak Amin masih cemas. 

“Ayah… Maulana kan laki-laki, pasti bisa jaga diri. Boleh ya, yah?” pinta Maulana penuh harap. 

Akhirnya Pak Amin mengangguk. Maulana bersorak dan meloncat girang hingga lupa bahwa ia sedang berada di atas perahu. 

Keesokan harinya… 

“Bolehkan, Yah?”

“Boleh, asalkan kalian berdua jangan kemana-mana, ya…,” nasihat Ayah Siska—Pak ‘An. 

Siska dan Maulana mengangguk. Mereka berjalan kaki menuju ke pabrik. Seperti yang Siska bilang, pabrik tidak terlalu jauh. 

10 menit pun mereka sampai… 

“Kita boleh masuk ke dalam, Pak?” tanya Maulana semangat. 

“Boleh dong, buat apa kalian di sini hanya diam?” 

Maulana dan Siska-pun masuk ke dalam pabrik. Mereka melihat kesibukan orang-orang yang bekerja dengan cekatan. Pabrik tempat kerja Ayah Siska membuat karet dari getah pohon karet desa. 

“Wah… keren!” Maulana yang bersemangat. Lalu ia melirik Siska yang terlihat biasa. “Kau kenapa, Siska?” 

“Hah? Kenapa apa?” Siska balik tanya. 

“Kenapa kau diam saja? Tidakkah kau senang melihat mesin-mesin ini?” Maulana menunjuk sebuah mesin. 

“Menangkap ikan di laut lebih seru menurutku. Di sini yang bisa kita lihat sejauh mata memandang hanya mesin dan suara bising yang cukup menganggu,” kata Siska. 

“Hanya mesin? Kamu benar-benar tidak tahu seberapa bangganya aku punya teman sepertimu. Tidak sia-sia kamu mengajakku.” jelas Maulana.

Siska hanya nyengir. 

“Menurut mu kenapa mesin ini biasanya bekerja lebih cepat dari manusia sebanyak ini?” tanah Maulana. 

“Mesin itu menggunakan listrik, jika tidak ada listrik, manusia bisa saja lebih cepat. Semua tidak mudah, Na,” jawab Siska. Masih mengikuti Maulana yang terlihat semangat. 

“Kenapa listrik bisa tidak ada? Apa yang akan terjadi?”

“Bisa jadi karena pemilik pabrik belum bayar listrik, atau ada gangguan sebelum sampai kesini,” jelas Siska tanpa kesulitan. 

“Wow, kau tahu semua, Ka!” puji Maulana. 

“Itu biasa.” Siska melambaikan tangannya. “Sekarang giliran kau yang terlihat girang sekali,” ledek Siska. 

Maulana menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari tertawa. 

“Tidak apa, kita memang harus saling belajar,” kata Siska.

Pesan Moral: Ada banyak pelajaran pada setiap hal yang kita lakukan atau kita kerjakan, mengenal sesuatu hal yang baru, membuat kita lebih berpengalaman. Jika kita sudah mencoba walau gagal, akan lebih baik dari pada orang yang tidak mencoba sama sekali.

Baca:
Manfaat pohon kelapa
Solusi anak tidak mau sekolah
Cerita anak tentang percaya diri
Cerita anak tentang burung pipit

Terima kasih sudah membaca Cerita Anak Tentang Nelayan dan Buruh Pabrik. Bagikan jika ini bermanfaat.

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu