in

KerenKeren NgakakNgakak SedihSedih

Cerita Anak – Tidak ada yang Instan, semua butuh proses!

Cerita Anak - Tidak ada yang Instan, semua butuh proses!
Cerita Anak - Tidak ada yang Instan, semua butuh proses!

Cerita Anak – Tidak ada yang Instan, semua butuh proses! Vanessa sudah menyiapkan berminggu-minggu untuk lomba menggambar dari yayasan sekolah yang diadakan tahun ini. “Semua anak wajib ikut, ya? Aku malas sekali, nih,” kata Nia. “Tapi hadiahnya lumayan. Goodie bag, diary sampul polos untuk kita gambar sesuka hati, buku gambar, buku cerita, piala, dan sertifikat,” kata Vanessa bangga. “Tapi juara 2 dan 3 tidak dapat diary,” keluh Lyla, “dan aku belum tentu menang.” “Kamu dari kemarin membicarakan ini terus, memangnya tidak khawatir dengan Shannon, Chintya dan Livy?” tanya Candice. “Ah, tidak perlu lah. Mereka sudah sering menang, sekarang giliranku,” tawa Vanessa. Teman-temannya mengangkat bahu. Vanessa yang masih terlalu bangga itu pun meninggalkan teman-temannya.

“Ck ck ck…” Lyla menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tahu. Anak itu terlalu berambisi, sampai mungkin dia melupakan kata-katanya dulu,” Nia menunduk. “Padahal, dia sendiri tidak suka menggambar,” kata Candice, “begitulah, namanya sekolah khusus perempuan biasanya bersaing.” Para gadis itu setuju. “Dia hanya ingin hadiah,” Lyla memberitahu. “O ya, hari ini kan masih asrama, kok dia berlari ke rumahnya?” tanya Nia bingung. Candice dan Lyla saling berpandangan. “Kejaaaar!” seru Candice. “Gyaaaa!” Lyla si calon atlet berlari paling cepat.

Anak-anak di Rainbow Girls Dormitory School, tepatnya di kamar A7. Vanessa, Lyla, Nia, Candice, Shannon, Chintya, dan Livy sedang sibuk di kamarnya. “Aku bosan, nih. Kita main game online, yuk!” ajak Vanessa. “Ayo, mau main apa?” tanya Nia. “Worms Zone mau?” Candice menawarkan. “Gas, dong!” kata Lyla. Jiwa-jiwa liar mereka keluar, deh. “Kalian ikut, tidak? Seru lho!” kata Candice. “Kami ke perpustakaan dulu, ya! Ayo, kita bawa alat gambarnya,” Chintya dan teman-temannya pergi. Vanessa yang mendengarnya tidak mau kalah. “Ah, aku mau berlatih deh. Mohon maaf, aku calon seniman,” kata Vanessa sambil membawa peralatan menggambarnya. Ia ikut pergi ke perpustakaan agar gambarnya dilihat teman-teman, guru-guru, dan pustakawan juga.

Di perpustakaan, dengan percaya diri Vanessa masuk dan menggambar. “Lho, Miss Agatha tidak melarang untuk masuk?” tanya Eline, adik kelas Vanessa. “Tidak, memangnya ada apa? Iya aku tahu, aku tidak boleh latihan agar tidak menang dan kamu iri, iya kan? Adik kelas pun sudah jahat,” omel Vanessa. “B-bukan…” Eline nyaris menangis. “Bukan apanya? Takut, kan? Hahaha, sombong duluan sih!” tawa Vanessa sambil mengejek. Eline pun menangis. “Ada apa ini? Vanessa, kok Eline menangis?” tanya Shannon. “Dia melarangku masuk! Aku tidak bisa latihan lomba,” tuduh Vanessa dengan marah. “Memang diminta, Van. Kami membuat mading untuk Pameran Literasi Siswa 2020,” Shannon menenangkan Eline. “Bukannya kalian berlatih lomba gambar?” tanya Vanessa. “Bukan,” kata Livy, “sudah, ah!” “Iya, mengganggu,” tambah Chintya. 

Vanessa malu. Menurutnya, ia harus membayarnya dengan memenangkan lomba. Maka, ia berlatih giat di kamar. Teng, teng! “Waktunya makan siang, kamu tidak mau?” tanya Lyla. “Kalian dulu saja, kalau bisa antar kepadaku,” Vanessa sibuk berlatih. “Tidak bisa, kan tidak boleh membawa makanan atau minuman di kamar,” kata Nia. Vanessa tidak merespon, jadi teman-teman di kamarnya meninggalkannya.

“Van, waktunya mandi sore! Ayo, kita dilarang mandi kurang dari 2 kali sehari.” “Van, ayo ke Creativity Time bersama Miss Alice!” “Hei, kamu tidak makan malam, Van?” “Hmm, kamu tidak lapar? Makan malam nih.” “Tidur! Nanti Mrs. Charlotte datang, kita sekamar dimarahi.” Vanessa tetap berlatih. “Kok mendadak, Van? Ini tinggal sehari lagi. Besok lombanya. Tidur dan siapkan besok pagi,” kata Livy. “DIAM!” seru Vanessa. Livy yang kaget hanya pergi tidur.

Keesokan paginya, hari lomba. “Selamat pagi, Vanessa! Ayo, ini hari yang kamu tunggu-tunggu,” panggil Nia. “Uhuk, uhuk…” Vanessa batuk dan pilek. “Bangun!” seru Lyla. “Hei, dia itu sakit! Wah, dahinya panas. Panggil perawat,” usul Candice. Tak lama, perawat datang. “Dia demam. Vanessa belum bisa ikut lomba menggambar hari ini. Untuk sarapan, kamu wajib makan bubur hangat dan minum obat setelah makan. Setelah itu, berbaringlah dan jangan turun dari ranjangmu sama sekali,” perawat segera menyiapkan sarapan dan obat untuk Vanessa. “A-aku bisa l-lomba,” kata Vanessa dengan lirih. Tanpa berpikir, ia mandi dengan air dingin dan pergi ke aula untuk lomba.

“Juara 3 adalah… Chintya Anabelle! Juara 2 adalah… Livya Rie Gabrielle! Dan, juara 1 adalah… Shannon Jeniffer!” kata MC. Vanessa sudah menduganya. Memang, berminggu-minggu yang lalu ia tidak fokus. Tapi ia tidak mau mengaku. Ia menjadi iri kepada ketiga pemenang itu. Tak lama kemudian, ia terjatuh karena kesakitan.

“Aduh, kepalaku pusing…” rintih Vanessa. “Karena kondisimu sudah begini, mau dipulangkan ke rumah tidak?” tanya perawat. “Tidak deh, rumahku jauh, nanti aku mual,” kata Vanessa. “Kamu kenapa berlatih keras dalam semalam?” tanya Chintya. “Iya sih, kuduga itu yang membuatnya sakit,” kata Livy. “A-aku hanya ingin menang melawan kalian, itu saja. Selama beberapa minggu, aku malas berlatih dan baru berlatih hari ini,” jawab Vanessa. Shannon tersenyum. “Tidak ada yang instan, Vanessa. Aku sudah mulai menggambar dari umur 3 tahun, Livy dari 5 tahun, dan Chintya dari 4 tahun. Lama, tapi kami menikmati prosesnya. Lain kali, kuajarkan menggambar setelah kamu sembuh,” Shannon membuat Vanessa mendapat pelajaran. Tidak ada yang instan. Kita harus mempersiapkan sejak lama untuk mencapai hasil maksimal.

Baca:
Cerita Anak – Mimpi Yang Terwujud
Dongeng Anak – Cahaya Bulan
– Misteri Kedai Ice Cream

Pesan moral: Kalau kamu mau menjadi seniman, kamu harus berlatih cukup lama. Tidak bisa dalam sehari, semua ada prosesnya. Itulah yang disebut realita hidup. Kamu bisa percaya dan berdoa agar kamu menjadi seniman, tapi kamu sendiri harus mengalami proses panjang dan usaha keras. 

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu