in

NgakakNgakak TakutTakut SedihSedih SenangSenang KagetKaget KerenKeren

Cerita Keajaiban Bersedekah Untuk Anak

Cerita Keajaiban Bersedekah Untuk Anak
Cerita Keajaiban Bersedekah Untuk Anak

Cerita Keajaiban Bersedekah Untuk Anak. Adzan Subuh berkumandang. Tanda pagi tiba. Sang Surya masih malu-malu menampakkan diri. Hawa dingin yang melintang meliukkan dedaunan nan nyiur.

Benar-benar Minggu pagi yang syahdu. Aira memilih mengawali hari dengan lari pagi mengitari kompleks. Gadis berparas cantik dengan sifat cueknya ini berpakaian olahraga lengkap dengan sepatu sport-nya.

Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Aira berhenti di pinggri jalan, lalu mengaktifkan tombol on lewat headsetnya, dan mulai menyapa orang di seberang sana.

Baca juga: Cerita Pendek Tentang Pahlawan – Kapitan Pattimura

“Hei, Mona!”

“Hai, Ira. Hari ini aku mau shopping ke mall baru di jalan protokol seberang kantor Ayahku. Kau mau ikut, tidak?”

Aira, yang biasa dipanggil Ira, girang setelah mendengar Mona, sohibnya, mencetuskan kata shopping. Hal wajib yang selalu ia lakukan, minimal dua kali dalam seminggu. Sekali shopping, uang lima ratus ribu bisa ludes di tangannya.

“Tentu saja, Mona. Aku akan menjemputmu di rumah nanti.” Aira melirik jam tangannya, “Pukul sepuluh pas.”

Sambungan telepon dimatikan. Aira, yang akan melanjutkan langkahnya, tiba-tiba dikejutkan dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun di depannya. Penampilan dia dekil, bajunya tak berwarna–mungkin sudah memudar dari warna asli–tak beralas kaki, rambutnya kaku dan kusut, wajahnya sangat kotor.

“Kakak… aku belum makan… minta uangnya, dong…” pinta dia sambil mengatupkan kedua tangannya di depan Aira dengan memelas.

Aira melotot, “Hei! Siapa kamu ini, dekil! Kok sembarangan meminta-minta! Kalo nggak punya duit ya kerja! Bukannya malah minta-minta!” gertaknya.

Bocah itu nampak kecewa. Dengan raut melankolis, ia melengos pergi. Aira berdecih memandang punggung dia yang lama-lama menjauh.

“Jangan sombong, dong.”

GYAAA!!!

Aira terlonjak kaget. Tubuhnya terlempar ke belakang ketika sebuah suara terseru kepadanya. Ia mencari sumber suara itu. Tapi, tak ada orang sama sekali di sekitarnya yang nampak sedang berbicara dengannya. Bulu roman gadis itu menegak.

“Tidak mungkin hantu… tidak.” batinnya.

“Berikan saja aku pada dia.”

“HUAAAH!” Aira kembali dikejutkan dengan suara misterius itu. Ia berusaha mencari-cari dengan matanya, menerobos kabut yang menyelimuti pagi. Nihil, tak ada siapa pun di sekitarnya.

“Aku di sini, di saku bajumu!”

Aira menenggak ludah. Di saku bajunya? Dengan tangan bergemetar hebat, ia meroboh ke dalam saku bajunya. Sebuah uang lima ribu tampak ketika ia mengeluarkan tangannya.

“EH? U-uang kok… bisa bi-bicara?”

“Berikan aku pada dia. Sekali-sekali, gunakan uangmu untuk kebaikan. Jangan shopping terus!”

Mau tidak mau, Aira harus percaya bahwa uang 5.000 -nya itu dapat berkata-kata. Sejenak rasa takutnya mereda, dan terganti oleh rasa bersalah.

Baca juga: Siapa penemu mesin uap itu?

Dia mulai melupakan egonya. Menatapi uang itu. ‘Ini cuma uang lima ribu, yang biasa buat beli jajan di sekolah. Aku masih punya banyak… oh… sebaiknya aku berikan saja pada anak tadi…’

Aira pun berjalan ke arah anak laki-laki tadi pergi. Lamat-lamat, ia dapat melihat anak laki-laki itu sedang mengaduh lapar pada tiang listrik yang ia gunakan sebagai tempat bersandar.

Rasa bersalah membanjiri dada Aira. Ia segera mendekati bocah itu, lalu tanpa basa-basi menyodorkan uang 5.000 sebanyak lima lembar di depannya.

“Ini. Terimalah.”

Dia mendongak, “Kakak… yang tadi… ya?”

“Aku bersalah. Aku minta maaf.”

Dia menerima uang Aira, dan segera beranjak ke warung terdekat dengan sisa tenaga yang ia miliki. Aira menautkan alisnya, “Pagi buta seperti ini, mana ada warung yang sudah buka… lebih baik… kau… makan di rumahku.”

Aira, dengan sikap cueknya, diam-diam merasa tersentuh melihat anak laki-laki yang kelaparan tadi melahap habis makanan yang ada di meja makan rumahnya. Dadanya sesak, seperti tersumpal godam, membayangkan jika dia yang berada di posisi bocah itu.

‘Ah. Uang lima ribu… terima kasih telah menyadarkanku…’

Sedekah itu berpahala, jadi jangan ragu untuk melakukannya, semoga niat baik kita menjadi berkah, Amin.

-Tamat- Cerita Keajaiban Bersedekah Untuk Anak

Yuk tulis komentar kamu