in

NgakakNgakak TakutTakut SedihSedih SenangSenang KagetKaget KerenKeren

Cermin Ajaib Pemberi Kesedihan

Cermin Ajaib Pemberi Kesedihan
Cermin Ajaib Pemberi Kesedihan

Pernahkah kamu bertemu dengan seorang sahabat yang tidak nyata, yang mungkin hanya kamu temui didalam imajinasimu? tetapi tunggu dulu, kalian wajib membaca cerita Cermin Ajaib Pemberi Kesedihan.

Lucia hanyalah seorang gadis kecil sebatang kara, berumur 10 tahun yang hanya hidup bersama dengan ibunya, sebelumnya mereka memiliki rumah untuk dihuni, namun karena menunggak hutang pajak akhirnya mereka pun terpaksa meninggalkan rumah dan mengabdi pada Ny. Elizabeth.

Kamar mereka berada di loteng atas, tempat barang-barang tua dan debu-debu bertumpuk. Di tengah loteng itu ada sebuah kasur bulu tua yang menjadi alas tidur mereka, majikan mereka bukanlah orang yang kejam, namun karena mereka hidup dalam era krisis ekonomi, Ny. Elizabeth terpaksa memberikan loteng atas sebagai ruangan tidur mereka, bagi Lucia dan ibunya hal ini adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri, bagaimana tidak? Apabila mereka memilih untuk keluar dari lingkungan Ny. Elizabeth mereka takkan bertahan terhadap dinginnya salju musim dingin.

Ketika ibunya Lucia tengah menjamu makan malam Ny. Elizabeth, Lucia yang tetap berada di loteng atas berusaha untuk tidur, namun karena udara dingin ia pun segera bangkit dari kasur tua nya dan bermain-main di sekitar loteng, lalu tanpa sengaja ia menemukan sebuah mainan mobil-mobilan tua yang terbuat dari kayu dan sangat usang, bentuk rodanya sudah tidak bulat lagi dan beberapa bagian mobil itu sudah dimakan rayap sehingga beberapa lapis kayu tidak menyatu lagi
“Milik siapa ini? Bukankah Ny. Elizabeth hanya tinggal sendiri? Apakah dirumah ini juga ada anak laki-lakinya?” Lucia bertanya kepada diri sendiri sembari memandang mainan itu

SREK… SREK….

Terdengarlah suara dari balik lemari tua di pojok ruangan, hati Lucia berdegup kencang dan bulu kuduknya berdiri merinding, tetapi karena penasaran Lucia mendekati lemari tua itu dengan memberanikan diri.
“Halo? Apakah ada seseorang di sana?” Lucia menempelkan telinganya ke depan pintu lemari itu.
“Ya, tolong perbaiki mobil-mobilan tua itu dan kembalikan kepadaku!” terdengarlah suara seorang anak laki-laki dari dalam lemari itu, dengan cepat Lucia langsung membuka lemari itu, namun tidak mendapatkan siapa-siapa.

Selain sebuah cermin tua yang usang, tinggi cermin itu sekitar 2 meter, Lucia pun segera meletakkan mobil mainannya dan mengeluarkan cermin itu dari lemari lalu menyenderkannya di tembok
“Ah… mungkin tadi aku berimajinasi saja, ternyata hanyalah sebuah cermin tua yang usang, pasti bekas milik Ny. Elizabeth” Lucia pun mengambil kain bekas lalu sedikit membasahinya dan membersikan cermin itu, namun ia hanya mampu membersihkan setengah bagian dari cermin itu karena tubuhnya pendek.

“Baiklah… aku akan segera memanggil ibuku agar mau menolongku untuk membersihkan seluruh bagian cermin ini” lucia yang masih berbicara sendiri. Ketika ia membalikkan tubuhnya terdengarlah suara lagi.
“Tidak usah… cukup segini saja aku sudah terlihat kok” tubuh Lucia pun kaku seketika, ia pun langsung menutup wajahnya dan membalikkan tubuhnya perlahan menghadap cermin itu.
“Hantu… tolong jangan sakiti aku! Jadilah hantu yang baik” katanya lirih yang masih menutupi wajahnya.
“Hantu? Hei aku bukan hantu, bukalah wajahmu dan lihatlah aku” kata sosok yang berada di depan Lucia, Lucia pun menurut dan membuka wajahnya perlahan lalu menatap sesosok laki-laki yang berada di dalam cermin tua itu, tapi… bagaimana bisa?
“Tuan?? Apakah tuan baik-baik saja? mengapa tuan berada di dalam cermin ini?”
“Jangan memanggilku ‘Tuan’ namaku Louise, aku adalah penyihir anak-anak dan seorang sahabat, hanya anak-anak kesepian yang bisa melihatku di dalam cermin, dan untuk itulah aku datang kemari untuk menemuimu” kata anak laki-laki itu, rambutnya pirang dan matanya bewarna biru.  Postur anak itu sedikit lebih tinggi dari Lucia, ia juga terlihat seumuran dengannya.

“Namaku Lucia, jadi kau seorang penyihir? Apakah kau bisa keluar dari cermin ini dan bermain bersamaku?” kata Lucia dengan mata berbinar-binar.
“Maaf, aku tidak bisa, tapi kalau kau ingin berjabat tangan aku bisa mengeluarkan tanganku dari cermin ini”
Louise pun menyetuh kaca cermin itu lalu seketika tangannya menembus dari cermin dan memposisikan tangannya untuk meminta jabat tangan kepada Lucia, Lucia pun dengan senang hati menjabatnya, untuk yang pertama kalinya Lucia merasakan kehangatan dari tangan seorang sahabat, Hatinya sangat gembira, tak lupa Lucia mengambil mobil mainan usang itu dan memberikannya kembali kepada Louise.

“Terima kasih,” ucap Louise.
“Apakah kau bisa membuat keajabian?” tanya Lucia penuh harap.
“Ya, tentu saja!” Louise pun memutar-mutar tangannya lalu terbentuklah sebuah percikan cahaya dan ia meledakkannya di langit-langit loteng

Keajaiban pun hadir, ruangan yang tadinya hanyalah loteng usang dan berdebu kini menjadi kamar tidur seorang putri yang luas, Louise kembali melempar percikan cahaya ke tubuh Lucia, dan Lucia pun memakai gaun putri yang sangat indah, Lucia menatap sekitarnya dengan kagum, tak pernah ia melihat ruangan seindah itu, bahkan ia juga kaget ketika melihat dirinya menjadi seorang putri sungguhan.

“Jadi.. Lucia, ayo menari bersamaku! Kau adalah seorang putri dan aku adalah seorang pangerannya!” ajak Louise dari dalam cermin itu.
“Tapi tidak ada musiknya,” ucap Lucia.
Louise mengangguk kecil dan membuat alat musik dari sihirnya, alat-alat musik itu bisa memainkan irama dengan sendirinya, Lucia pun menari dengan girang, sementara Louise hanya menari di dalam cermin, beberapa saat kemudian Lucia merasa sedih dan merasa ada yang kurang dari semua itu, karena… Louise tidak bisa langsung menari bersamanya, dan mereka terpisah oleh sebuah cermin.

Lucia pun mendekati Louise dan berkata…
“Apakah aku bisa menari bersamamu di dalam cermin itu?”
Louise menatap Lucia sedikit terkejut, namun beberapa saat kemudian ia tersenyum cerah
“Apakah kau sungguh-sungguh ingin menari bersamaku di dalam cermin ini!? Aku sangat senang Lucia!! Baiklah kemari, ulurkan kedua tanganmu ke depan cermin ini dan ucapkan sebuah mantra” kata Louise memberi aba-aba, Lucia pun melakukan perintahnya.
“Katakan Este espejo se unirá mi alma para siempre”
“Este espejo se unirá mi alma para siempre” kata Lucia mengucapkan mantra itu.
Louise segera menarik kedua tangan Lucia dan membawanya masuk ke dalam cermin, dunia cermin benar-benar berbeda, ketika Lucia masuk ke dalam dunia cermin, seperti masuk di dalam sebuah istana megah, mereka pun menari bersama dengan girang.

Tanpa Lucia sadari, di dalam dunia nyata, Ibunya meneteskan air mata kepedihan dari kedua kelopak matanya, ibunya tak menyangka, setelah menjamu makan malam Ny. Elizabeth ia merasa ada sesuatu keganjalan di dalam hatinya, lalu ibunya segera naik ke loteng atas untuk menemui Lucia, tapi… Lucia telah ditemukan tak bernyawa, karena udara musim dingin telah membuat darah gadis kecil itu membeku dan Lucia pun menghembuskan nafas terakhir di dalam tidur abadinya, ibunya segera memeluknya dalam kehangatan, berharap putrinya bisa sadar kembali, namun semua usaha itu sia-sia, dalam isak tangis ibunya berkata.

“Mimpi indah putri kecilku… maafkan ibumu…” katanya sembari mengecup kening Lucia.

————-

Sumber Gambar: www.dreamstime.com

2 Komentar

Balas komentar

Yuk tulis komentar kamu