in

KerenKeren SenangSenang

Cita-citaku Menjadi Penulis Terkenal – Part 1

Cita-citaku Menjadi Penulis Terkenal - Part 1
Cita-citaku Menjadi Penulis Terkenal - Part 1

“Ana, ayo bangun udah pagi, cepet mandi terus sarapan, nanti telat lhoo sekolahnya,” ujar mama membangunkan Ana. Ana adalah anak yang baik, pintar, cantik, dan nurut dengan kedua orang tuanya. “Iya ma..” Ana mengiyakan sambil mengucek-ngucek mata, ia masih mengantuk. “Ma, hari ini kita sarapan apa? Papa udah berangkat kerja ya ma?” tanya Ana setelah mandi, ia sudah merasa segar. “Papa udah berangkat kerja sayang… Hari ini kita makan nasi goreng dengan telur dadar, minumnya jus alpukat,” mama menjawab pertanyaan Ana dengan jelas. “Yummy… pasti masakan mama enak deh,” Ana memuji. Mama hanya tersenyum. Ana makan dengan lahapnya, lalu menyeruput jus alpukat. “Ma, aku berangkat sekolah dulu ya,mobil jemputan udah datang,” Ana setengah berteriak. “Iya sayang… hati-hati ya…” ujar mama sambil menyalimi Ana.

Ana bergegas pergi ke sekolah agar tidak terlambat. Ia duduk di mobil jemputan sambil membaca buku. “Hmm… Bagus banget sih bukunya!” gumam Ana, “pasti seru kalau bisa buat buku yang bagus.” Buku tersebut merupakan pemberian papa ketika ia mendapat peringkat 1 di kelas. Hobinya membaca buku, maka papa dan mama selalu memberinya buku baru jika dapat membanggakan kedua orangtuanya itu. Ana tersenyum sendiri membaca buku itu. Karya Roald Dahl yang berjudul ‘Matilda.’ Beliau memang salah satu penulis sahabat anak-anak. Ketika sudah dekat, ia menyimpan bukunya di tas sekolah dan bersiap-siap.

“Fellyn! Rachel!” panggil Ana. Fellyn dan Rachel, sahabat Ana menoleh ke arah panggilan tersebut. “Eh, Ana. Ada apa, nih?” tanya Rachel. “Ah, nanti saja yuk! Kita masuk terlebih dahulu. Hampir bel, nih!” kata Fellyn, si Miss ‘To The Point.’ Jadi Fellyn malas basa-basi, lebih suka sesuatu yang singkat dan padat. Ana mengangguk tanda setuju. Mereka pun masuk ke kelas bersama-sama. Dan benar saja, beberapa saat setelah mereka sampai di kelas, bel berbunyi.

“Selamat pagi anak-anak” ujar bu Rita, sembari memasuki kelas. “Selamat pagi bu…” jawab anak-anak serempak. “Hari ini, seperti biasa hari senin diawali dengan pelajaran B.Indo. Buka halaman 21, dan kerjakan di buku tulis ya…” bu Rita menjelaskan. “Wah, soalnya membuat cerpen nih, aku jadi seneng banget nih,” Ana bergumam saat melihat soalnya. Saat pengumpulan soal… “Ana, kamu cerpen yang paling bagus diantara teman-teman yang lain” kata bu Rita. “Yeeay…” Ana bersorak kegirangan. Lalu ia mengambil buku tulisnya yang telah dinilai bu Rita. “Wah, nilainya seratus,” kata Ana gembira. “Oke anak-anak, sudah bel isitirahat tuh, silakan istirahat” bu Rita mempersilakan murid-muridnya.

“Hai Ana,” kata Fellyn dan Rachel. “Hai, ada apa nih? Kok tiba-tiba sih,” Ana kebingungan. “Ikut kami dulu, biar penasaran kamu hilang” kata Rachel. “Iya, iya deh, padahal aku baru mau ajak kalian ke kantin,” Ana menggerutu. Rachel dan Fellyn hanya tersenyum. “Kenapa aku di suruh ke papan pengumuman?” Ana masih bingung. “Lihat yang di sebelah pengumuman lomba sepak bola yang diadakan kemarin,” Rachel memberi tahu. “Wah, lomba menulis cerpen tingkat kelurahan, hadiahnya piala dan sertifikat!” Ana sangat gembira. “Kamu harus ikut, kalau menang bisa ke tingkat kecamatan, terus kabupaten,  provinsi, nasional, terakhir internasional deh, dengan begitu cita-citamu akan tercapai, kan kamu bilang, bahwa kamu bercita-cita menjadi penulis terkenal,” kata Rachel panjang lebar. “Aku akan ikut,” ujar Ana. “Pendaftaran di wali kelas masing-masing, kalau pengumpulan, masih ada waktu empat hari lagi, hari Jum’at,” Rachel menjelaskan kembali. “Besok aku akan mulai menulis,” kata Ana. Bel masuk telah berbunyi. “Yuk, ke kelas! Aku belum sempat makan nih,” Ana menggerutu lagi. Fellyn dan Rachel tertawa. Karena tidak mengerti, Ana ikut-ikutan saja.

Ana, Fellyn, dan Rachel pun kembali ke kelas mereka. Bu Rita sudah duduk di bangkunya sambil menggenggam sejumlah kertas. “Itu kertas pendaftarannya. Ketika pulang sekolah, kamu bisa mengambil dan mendaftarkan diri ke Bu Rita,” bisik Rachel. “Oke,” bisik Ana pelan. Tiba-tiba Ana terkejut. Sepertinya kawan-kawannya itu melupakan sesuatu. Ya, Dian. Dian adalah anak kepala sekolah yang suka memaksa dan terlalu keras kepala. Karena merasa mahir membuat cerpen, pasti Dian akan ikut. Ana melirik Rachel yang sebangku dengannya, lalu ia memberi tatapan aneh. “Kenapa, Na?” tanya Rachel heran. Ana menggeleng cepat-cepat. Dian sudah memberi kode kepada Meida dan Widita, sahabatnya. “Hm, kode istimewa ya?” gumam Ana pelan sambil memberi tatapan sinis, “aku tahu itu.” Ana benar-benar ingin menerkam Dian, Meida, dan Widita, namun ia tahu ‘konsekuensinya’ nanti. Ana hanya diam dan mengikuti pelajaran dengan fokus.

Baca:
Kejutan ulang tahun dari sahabat
Puisi tentang sahabat yang terpisah
Cara membaca pikiran orang lain

Bersambung ke Cita-Citaku Menjadi Penulis Terkenal – Part 2 ya…

Yuk tulis komentar kamu