in

TakutTakut SedihSedih KerenKeren

Clara Itu Anak Pemilik Supernatural

Clara Itu Anak Pemilik Supernatural
Clara Itu Anak Pemilik Supernatural

Clara Itu Anak Pemilik Supernatural. Sejak dulu, aku selalu tidak dianggap dalam kelas. Setiap hari aku berharap akan ada sesuatu terjadi. Namun, hingga sekarang harapanku tidak pernah terjadi. Sungguh, aku tidak pernah ingin menjadi orang yang menguping pembicaraan orang lain. Tapi apa boleh buat, jika mereka memang tidak mau mendekatiku selain memanfaatkanku saja?
“Lily… PR matematikanya udah belum?” tanya salah satu dari mereka.
“Su-sudah selesai. Memangnya a-ada apa?”
“Aku ingin melihatnya.” jawabnya lagi.
“Ini Vani.” Kuserahkan buku bersampul coklat milikku kepadanya dengan ragu. Jujur, aku tau dia akan mencontek. Tapi apa yang bisa ku lakukan?

Aku kembali berjalan kearah bangku yang kududuki sendirian. Memang sejak aku memasuki bangku SMP aku selalu duduk sendiri dan mendapat jumlah murid perempuan yang ganjil. Kuletakkan tas gendong milikku dan meletakkannya di bawah meja, serta mengambil pena dan buku tulis kosong untuk menulis cerita.

Selagi berfikir mencari ide, aku melihat 3 perempuan memakai bedak yang begitu tebal mendatangi bangku di sebelahku. Dan, tanpa sengaja ku mendengarkan pembicaraan mereka meskipun aku tidak menginginkannya.
“Hey, PR Indonesia membuat puisi sudah?” tanya Jessy.
“Belum, tapi kalian tenang saja! Aku akan menyuruh si aneh itu membuat puisinya.” jawab Maggy.
“Benar juga, kita tidak perlu repot mengerjakan tugas yang susah tesebut. Benar kan, Lily?” kata Jessy. Aku terdiam dan terus menggigit bibir bawahku untuk menahan tangis.

BRAK!!!!

“Apa maksud kalian?”

Aku menengok ke asal suara tersebut. Rambut pirangnya serta muka sebal yang di tunjukkannya pada Jesy dan Maggy, membuatku heran. Aku tidak pernah melihatnya di kelas ini. Dan, ‘apakah dia membelaku?’ batinku.

Maggy dan Jessy meninggalkan tempat tersebut. Perempuan yang menolongku segera menyimpan tasnya di sampingku. Dia juga mengeluarkan pena dan buku. Dengan lincahnya di menuliskan sebuah cerita. Aku kagum, tentu aku hanya bisa membaca sedikit saja. Cerita yang di buat mencerminkan kekesalannya dan berasal dari kenyataan. Tanpa kusadari dia mengumbarkan senyumnya padaku.
“Hai, aku Clara. Aku murid baru di sini.” kata perempuan tersebut.
“Aku, Lily Embersad.” jawabku.
“Kamu suka menulis?”
“A-aku aku suka, tapi ceritaku masih jelek di bandingkan punyamu.” jawabku gugup.
“Aku malah masih pemula. Ah, ini aku berikan saja padamu, mungkin membantumu.”
Dia pun mengambil sebuah novel dan memberikkannya padaku. Aku menolaknya. Namun, dia malah memaksaku dan tidak mau menerimanya kembali. Aku pun berterimakasih padanya.

Beberapa menit kemudian setelah kami berbicara panjang lebar, teman-teman sekelasku mulai berdatangan menghampiri Clara, kecuali Jessy dan Maggy.

Beberapa temanku menyuruhku untuk pergi. Aku pun melakukannya, tapi sebuah tangan yang menggenggam lenganku pun menahanku yang baru akan melangkahkan kaki. Tentu, itu membuat banyak yang bertanya-tanya. Termasuk aku. Aku bingung kenapa Clara melakukannya?
“Dia pemilik tempat duduk di sana. Kalian tidak boleh mengusirnya. Lagipula aku sangat nyaman dekat dengannya.”
Seakan dia bisa membaca semua pertanyaan di kepalaku. Dia kembali tersenyum.
“Clara, dia itu punya kekuatan supernatural! Katanya dia pernah berbicara entah pada siapa. Lalu, apa yang di tulisnya selalu kenyataan. Bahkan salah satu ceritanya menjadi cerita horor 2015.” kata Vani.
“Benar! Apalagi Lily itu seseorang murid yang tidak memiliki suara jejak kaki ketika melangkah.”
Aku melepaskan paksa tangan Clara dari lenganku. Mungkin, untuk sekarang aku ingin sendirian dulu.

oo_–oOo–_oo

Aku tidak dapat membendung lagi air mataku. Bahkan awan pun tidak bersahabat dengan menunjukkan awan hitam diatas. Aku terus mengingat kejadian sebelumnya. Sekarang aku tahu kenapa mereka begitu membenciku, begitu tidak suka dan tak pernah menganggapku ada.

Aku mencoba mendengar langkah kakiku sendiri, benar tidak terdengar ada suara apapun. Tapi, aku tidak memiliki kekuatan supernatural apapun.

Bruk! Aku menengok kearah buku yang terjatuh. Buku itu adalah novel yang baru diberikan oleh Clara tadi padaku. Kubalikkan buku tersebut, namun tidak ada sinopsis yang tercantum di balik buku dan tidak ada judul pada novelnya. Aku pun membuka cerita pertama yang ada pada buku novelnya. Entah benar atau tidak, tapi awal cerita tersebut mirip dengan keadaanku sendiri saat ini.

“Ternyata aku benar, kamu berada di sini.” kata Clara. Kupandangi kembali wajah Clara dengan seulas senyuman yang indah.
“Clara, kenapa kamu mencariku?” tanyaku padanya.
“Kau kan temanku. Hey, teman-teman meminta maaf padamu tentang yang terjadi barusan.”
“Mereka…. maksudku aku lah yang harus meminta maaf padamu dan yang lainnya.”
“Tidak. Mereka belum mengenalmu lebih, jadi mereka beranggapan seperti itu….” kata Clara dan melihat kearah cakrawala.
“Dan aku sedikit iri padamu..” Seperti bisikan yang tidak mungkin ku dengar dari siapapun. Mungkin saja aku hanya berkhayal.

oo_–oOo–_oo

Sudah 3 bulan aku berteman dengannya. Aku merasa duniaku sedikit berubah. Tidak hanya ada warna hitam dan putih namun masih banyak lagi. Ketulusan hati Clara lah yang membuatku menjadi seperti sekarang.

Ku langkahkan kaki jenjangku kearah taman sekolah. Kulihat Jessy dan Maggy juga beberapa temannya sedang membicarakan Clara dan aku dari balik pohon. Sungguh jika hanya aku, mungkin takkan kudengarkan tapi jika Clara….
“Tenang teman-teman, Clara hanya merasa kasihan saja. Lagipula Clara hanya memanfaatkan Lily.” kata Maggy.
“Bagaimana jika dia di sihir oleh Lily. Dan,” kata teman A.
“Kurasa Lily sangat tidak pantas berteman dengan Clara. Benarkan, Clara?” tanya Jessy.
“Benar apanya?” tanya balik Clara.
“Sebenarnya hubungan apa antara kamu dengan Lily? Kalian berteman?
“Daripada kusebut teman…”

Aku berlari sekuat tenaga, hingga tidak bisa mendengar lagi perkataan Clara. Bahkan, hingga Clara terkejut melihatku. Satu-satunya tempat yang kutuju adalah, perpustakaan dekat gudang sekolah. Di depan gudang aku terjatuh dan tidak sanggup untuk berdiri.
“Kamu tidak apa?” tanya seorang laki-laki yang mengulurkan tangannya padaku.
“Aku.. Terimakasih telah menolongku.” kataku.
“Aku Jack Heaviest” kata Jack memperkenakan dirinya.
“Aku Lily.”
“Nama yang bagus seperti yang di katakannya. Oh ya, aku harus menemui mr.Hendric. Sampai bertemu nanti.”
Aku tersenyum tipis melihat kepergiannya. Dia mengingatkanku pada kebaikan Clara. Tak lama, Clara pun datang dan melihatku. Suasana kami menjadi canggung dan tidak ada satu pun yang ingin memulai pembicaraan.
“Lily, ada yang ingin kubicarakan. Datanglah ke taman setelah klub sastra selesai. Kumohon kamu datanglah.” kata Clara dan kembali meninggalkanku.

Aku pun mengikutinya ke kelas. Setiap murid memandang kami curiga. Aku menundukkan kepalaku, tak sanggup menatap sorot mata itu. Tak sanggup mendengar bisikan-bisikan aneh, tak sanggup jika Clara menjauhiku.

oo_–oOo–_oo

Klub sastra hampir selesai. Namun Mrs.Yano menyuruhku untuk pulang duluan. Aku melihat jam dinding, ini sudah lebih dari jam klub biasanya. Memang akan diadakan lomba, jadi klub berakhir 1 jam lebih lama. Aku takut jika Clara sudah tidak ada di sana.

Segera ku keluar klub dan bergegas pergi. Tapi siapa sangka Jessy dan Maggy berada di taman sedang menungguku. Namun tidak kutemui Clara.

“Berhentilah mendekati Clara!” kata Jessy.
“Benar, mau sampai kapan kamu mendekatinya dan menyusahkannya?” tanya Maggy.
“Berhenti bicara seperti itu pada Lily.” kata laki-laki yang sebelumnya ku temui. Itu Jack! Aku yakin. Maggy dan Jessy segera pergi meninggalkan kami.
“Lily cepatlah!” perintah Jack.
“Eh?”
“Kakakku, Clara, terhasut oleh omongan mereka berdua. Mereka bilang, kamu tidak ikut klub!” kata Jack.
“Tunggu dulu, jack…”
“Dia di danau dekat dari sekolah ini. Dia ingin bilang sesuatu padamu sebelum dia pergi keluar negeri untuk operasi.”

Aku berhenti memikirkan pertanyaan yang akan kulontarkan pada Jack. Aku segera berlari kearah danau. Tidak dapat kulihat di manapun Clara berada. Aku terduduk di rerumputan dan menutupi wajahku.

Aku menyesal. Clara selalu ada untukku. Kenapa aku harus lari saat itu? Mengapa aku tidak mendengarkan perkataannya terlebih dahulu? Kenapa aku tidak bisa melihatnya lagi, meski untuk terakhir kalinya? Sebuah sodoran saputangan berada di wajahku. Aku menerimanya dan segera kupakai.

“Kukira kamu tidak akan datang, Lily.” ku tengok ke samping. Ternyata dia…
“Clara!” Segera kupeluk dia.
“Lily, ada yang ingin kubicarakan. Mungkin aku tidak akan kembali lagi.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku menderita Anemia akut sejak masih kecil. Sebenarnya, waktu itu aku ingin bilang jika kita bukan teman melainkan sahabat.

Selain itu, aku sangat iri padamu. Pertama kali aku membaca cerita yang kamu buat, itu menjadikanku motivasi. Sejak itu, aku juga membuat ceritaku yang kuberikan padamu. Sangat kebetulan isi ceritanya hampir sama.”

“Itu cerita yang bagus, aku menyukainya.” kataku.
Kulihat Clara tersenyum. Kami kembali berpelukkan seperti orang yang tidak bertemu lama sekali. Sungguh aku tidak ingin dia meninggalkanku. Tapi apa boleh buat jika takdir tidak berpihak pada kami.
“Aku harus berterimakasih pada Jack.” kataku.
“Untungnya Jack memberitahuku yang sebenarnya. Jika tidak, aku pasti sudah kembali ke rumah.” balas Clara.
“Tidak perlu berterimakasih padaku.” kata Jack yang baru tiba.
“Clara, apakah harus?” Clara mengangguk.
“Jack tolong jaga Lily, jangan sampai Maggy dan Jessy berbuat yang aneh-aneh padanya. Lily maafkan aku, aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal…”
“Pasti, kak.” kata Jack.
“Selamat tinggal Clara. Kita akan bertemu lagi kan?” tanyaku ragu.
“Itu pasti.”

oo_–oT_Too_–oOo–_ooT_To–_oo

Tapi, hari itu tak pernah datang. Aku tidak pernah melihat Clara lagi. Dan, Jack hanya bisa diam tak bicara apapun soal kematian kakaknya. Kau adalah temanku yang sebenarnya, Clara Heaviest.

*End* Clara Itu Anak Pemilik Supernatural

Yuk tulis komentar kamu