in

Dendam! Anak Sekolah Tukang Palak

Dendam! Anak Sekolah Tukang Palak
Dendam! Anak Sekolah Tukang Palak

Dendam! Anak Sekolah Tukang Palak. Namaku Adit, aku baru saja lulus SD dan melanjutkan pendidikanku di salah satu SMP di Kota Gorontalo. Aku menemukan banyak hal baru, guru baru, kelas baru, dan teman baru. Salah satunya bernama Gilang.

Gilang adalah siswa yang berbadan gemuk, dan suka memalaki anak-anak lain, termasuk aku. Kalau ada orang yang tidak mau memberi uang padanya, Gilang akan memukul orang tersebut dengan keras. Tak heran, banyak yang takut dengan Gilang.

Hari itu, aku berpapasan dengan Gilang.

“Dit, kasihin semua uang kamu ke aku, kalo gak mau bonyok.” ujarnya dengan wajah jutek.

“ENGGAK MAU!” aku berteriak, sudah tak tahan atas perilakunya terhadap aku dan teman-teman selama ini.

Dendam! Anak Sekolah Tukang Palak
Dendam! Anak Sekolah Tukang Palak

“Oooh, kamu maunya bonyok ya? Yaudah.” kata-kata terakhir Gilang sebelum menghajarku.

Aku meringis kesakitan, teman-teman yang lain mengobatiku. Aku menyimpan perasaan dendam kepada Gilang yang sudah melakukan penindasan sesama teman, kenapa dia sekolah di sini sih?! Tetapi, Gilang tidak pernah merasa kapok. Kalau aku membeli jajanan, ia selalu merampasnya dan menikmatinya tanpa ada rasa bersalah. Tetapi, aku tidak mau terkena pukulan dahsyatnya itu, bisa buat ku tidak sekolah selama seminggu. Oh Gilang, betapa menjengkelkannya dirimu!

Hari itu, hari Minggu. Cuacanya begitu panas, aku pergi ke toko kecil yang tak jauh dari rumahku untuk membeli es krim. Setelah menerima uang kembalian, aku melihat seorang pemulung yang tampak kelelahan, beliau sedang membeli beberapa alat tulis. Aku pun merasa iba.

“Permisi bu, apa ibu kelelahan? Mari saya antar pulang ke rumah ibu ya bu. Rumah ibu di mana?”

“Iya nak terima kasih, rumah ibu ada di Jalan Manggis, tapi masuk ke perkampungannya.”

“Iya bu gapapa kok, itu alat tulis buat anak ibu?”

“Iya, anak ibu juga seumuran kamu kok.”

Baca juga: Cerita tolong menolong sesama teman

Aku mengantarnya sampai depan rumah, anaknya membukakan pintu kayu yang tampak sudah rapuh.

“Ibu! Ibu ke sini sama siapa?” sambut anaknya.

“Ibu diantar sama anak itu.” kata ibu seraya menunjukku.

Aku melihat anaknya ibu pemulung, Oh! Rupanya itu Gilang!

“Adit! Makasih ya udah nganterin ibuku!” kata Gilang dengan ceria, baru pertama kali aku melihatnya tersenyum.

Baca juga: Puisi Anak Ibuku surgaku

Sekarang, aku mengerti mengapa Gilang suka memalak dan merampas. Dia meminta maaf kepadaku dan aku memaafkannya. Sekarang Gilang sudah tidak memalak lagi, sudah tidak merampas lagi. Dendamku kepadanya kini telah padam. Kami pun menjadi sahabat.

Kamu juga bisa loh membuat konten seperti ini. Buat karyamu sekarang!

Ayo Vote! Biar makin trending.

101 points
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Ditulis oleh Rahma Rafiqa Larasati

Hai teman-teman! Namaku Rahma Rafiqa Larasati. Panggil aku Laras. Cita-citaku ingin menjadi penulis dan pengusaha bakery sukses.

Years Of MembershipStory Maker

Yuk tulis komentar kamu

Alamat email kamu tidak akan dipublikasikan. Yang memiliki tanda (*) harus diisi

Misteri Cahaya Putih Di Gunung Merapi

Misteri Cahaya Putih Di Gunung Merapi

Bahaya Gawai untuk Anak Usia Dini dan Peran Orang tua

Bahaya Gawai untuk Anak Usia Dini dan Peran Orang tua