in

NgakakNgakak TakutTakut SedihSedih SenangSenang KagetKaget KerenKeren

Dibonceng Pak Ustad Dengan Kecepatan Penuh

Dibonceng Pak Ustad Dengan Kecepatan Penuh
Dibonceng Pak Ustad Dengan Kecepatan Penuh

Dibonceng Pak Ustad Dengan Kecepatan Penuh. Aku ada cerita, waktu itu mau mengadakan acara maulid nabi. Sayangnya sudah jam 10.00 pagi pak Ustad belum juga tiba. Acara yang harus sudah mulai jam 09.00 pagi pun molor sampai tidak diketahui kapan. Kami coba menghubungi beliau hpnya mati. Semua warga sudah mulai resah, banyak juga yang mulai meneduh karena hujan sudah mulai turun.

“Pak Dodi, coba kau jemput itu pak Ustad, jangan-jangan dia ada masalah di jalan,” ucap pak Kepala Panitia kepada Pak Dodi yang menjabat sebagai seksi acara.

Tanpa banya bicara, pak Dodi itu hanya mengangkat tangannya kemudian ditempelkan ke kendingnya, seperti tentara yang seolah-olah berkata siap kepada komandannya.

Menyapu ranjau jalanan

Pak Dodi itu pun melajukan motonya dengan kencang tidak diketahui berapa, yang jelas aku yang diboncengnya serasa mau terbang. Spidometernya mati, tapi angin yang meniup rambut dan baju kokoku itu seakan berkata, “ini 100 Km/jam Iqlab!” 😀

Jika memang seperti itu kecepatannya, pantas saja pinggangku ini rasanya sangat sakit, ditambah pak Dodi membawa motornya tidak lagi menggunakan filing, semua lubang dihajarnya, seperti dia tidak ingat ada aku di belakang merintih kesakitan.

Jika memang jalanan ini dipenuhi dengan ranjau bukan lubang, kami lah yang berjasa untuk mereka yang dibelakang, karena kami yang sudah menyapu semua ranjau itu, hahaha 😀 😀

“Aduh Pak, pelankan! sakit rasanya pinggang ini,” teriakku yang mungkin tidak terdengar olehnya, karena suara bising knalpot yang melebihi suara serine 7 ambulan sekaligus.

Rumah pak Ustad itu sekitar 15 km dari acara, bisa kalian bayangkan berapa lama aku harus menahan rasa sakit ini, posisi dudukku pun sudah tidak simetris dengan jok motor, terkadang miring ke kiri, miring ke kakan, bahkan sampai-sampai aku kesan aku berdiri saja, untuk menghilangkan rasa sakit.

Ustadku Pembalap

Belum ada 5 Km, di depan kudapati sebuah mobil yang sedang berhenti dengan kap mesin mobil terbuka. Ternyata itu adalah mobil pak Ustad, tanpa berpikirn panjang lagi, kami berhenti dan langsung mengabarkan pak Ustad kalo beliay sudah ditunggu.

“A sudahlah, kamu tunggu di sini nanti ada montir ada yang mau ke sini,” ucap pak Ustad kepada pak Dodi.

Akhirnya aku yang membawa pak Ustad menggunakan sepeda motor pak dodi, dengan hati-hati aku memboncengnya, tetapi belum 2 Km pak Ustad minta berhenti, “Sudah, berenti-berenti biar aku yang bawa saja!”

Batapa terkejutnya aku, dibonceng pak Ustad rasa-rasanya dibonceng Valentino Rossi. Dengan kecepatan penuh dia melaju dan berusaha menghindari lubang-lubang jalanan dengan lihai, pokoknya lebih baik dari pak Dodi. 😀

Aku sempat berpikir, “jangan2 dia ini dulunya pembalap ya, 😀 ” tidak ada yang salah sih dengan itu semua, tapi licahnya itu yang membuatku terkagun-kagum, “mmm. dasar Ustad gaul.” 😀

Jika ada perlombaan balap motor antar Ustad, munkin Unstad ini yang menang wkwkwkkw 😀 :D.

Akhirnya kami sampai juga di tempat acara dan pak ustad itu mulai memberikan ceramah.

Ceramah selesai, datang Pak Dodi membawa mobil pak Ustad yang sudag diperbaiki oleh montir.

Yuk tulis komentar kamu