in

Dongeng Anak: Tikus Baik

Dongeng Anak: Tikus Baik
Dongeng Anak: Tikus Baik

Dongeng Anak: Tikus Baik. Hai! Aku kembali bawa cerita baru, nih. Selamat membaca ya.

Di suatu kompleks pertokoan, tepatnya di dalam celah-celah batu, hiduplah dua tikus jantan yang kecil, berwarna putih mendekati abu-abu, namanya Ciko dan Maxy.

Maxy memiliki warna mata merah, tapi bulunya sedikit kusut. Berbeda dengan Ciko, bulunya bersih bahkan terasa lembut. Yah, itu karena dia sering mandi di dalam genangan air trotoar yang bagi sebagian orang tidak berguna.

Iris mata Ciko berwarna hitam, nyaris pekat. Itu alasan banyak tikus betina yang melihat Ciko tampak terpesona.

Pada suatu ketika, saat matahari berada di puncak kepala….

“Ukh, Ciko. Perutku sangat lapar. Apa tidak ada sesuatu yang bisa dimakan? Dari tadi pagi kita belum makan,” keluh Maxy seraya mengusap perutnya. Sekarang dia sedang berada di bawah pohon cukup rindang tak jauh dari celah-celah batu alias tempat tinggal mereka.

Ciko tampak menghela napas malas. Ia bangkit berniat mencari makanan.

“Kamu mau kemana?” tanya Maxy.

“Mencari sesuatu untuk dimakan. Untuk perut kita.” Ciko telah melengang pergi meninggalkan Mexy yang hanya bersandar di batang pohon tanpa melakukan apapun, kecuali bernapas.

Sementara di sisi lain, Ciko sibuk menggaruk-garuk tongbsampah di depan rumah warga. Setiap rumah selalu dicek, tapi hasilnya selalu nihil. Ciko menghela napas kesal. Baru saja ia menyerah, tidak jauh dari tempatnya berdiri ada bungkus snack yang di dalamnya berisi banyak keripik kentang.

Namun satu masalah menahan dirinya untuk mengambil snack tersebut. Kucing Oranye berukuran 10 kali lebih besar darinya atau mungkin lebih besar dari itu, tengah tertidur pulas tak jauh juga dari snack yang ingin Ciko ambil.

Ciko bingung harus melakukan apa, maka ia berbalik untuk memanggil Maxy. Tak lama Ciko kembali sembari menarik buntut Maxy dengan mulutnya. Tadi Maxy sempat menolak untuk ikut, Ciko pun terpaksa menyeretnya. Dengan malas Maxy mengikuti arah pandang Ciko.

“Kita harus mengambilnya, tapi di situ ada kucing,” ucap Ciko sembari memandang snack kentang dan Kucing Oranye bergantian.

“Bagaimana caranya? Mengendap-ngendap?” Kedua tikus itu saling tatap lantas mengangguk.

Mereka berjalan sepelan mungkin, berusaha tidak menghasilkan suara sedikit pun. Suasana tegang pun terjadi sat mereka sampai di depan Kucing Oranye. Entah kenapa tiba-tiba angin muncul, membuat debu-debu di sekitar trotoar beterbangan.

“Ha-ha HAACIUUW!”

Ciko terbelalak sementara Maxy menutup mulut dengan tangan mungilnya. Pergerakan mereka semua terhenti. Kucing Oranye itu terbangun, matanya langsung menatap tajam dua ekor tikus yang tengah ketakutan. Menyeringai.

“Oh, tidak,” desis Ciko melirik Maxy dan….

Lari! Secepat kilat dua tikus itu berlari ke arah kanan dengn jantung berdegup kencang. Tak mau tinggal diam, Kucing pun mengejar

Karena langkah kaki kucing lebih besar dari tikus, Ciko dan Maxy pun tersusul. Mereka dihadang Kucing oranye.

“Wow, ada dua tikus malang di sini. Kebetulan dari kemarin perutku kosong. Dan aku sangat beruntung menemukan dua makanan sekaligus.” Kucing Oranye itu tersenyum miring.

“Oh, tuan kucing yang baik, jangan makan kami,” rengek Ciko dan Maxy sembari berpelukan. Sebelum Kucing Oranye sempat memakan mereka, dari belakang melesat sebuah sepeda yang dikendarai seorang remaja laki-laki. Kesempatan, Ciko langsung lompat memegang standar sepeda. Tak lupa ia menarik buntut Maxy lagi.

Yah, diseret lagi, deh.

Karena laju sepeda cukup cepat, Kucing Oranye tertinggal. Ia menggerung marah, matanya menatap dari jauh dua tikus yang tidak jadi dimangsanya.

Sekitar 5 menit Ciko dan Maxy bergelantungan di standart sepeda. Mereka kini kembali duduk di bawah pohon rindang.

“Apa kita akan kesana lagi?” tanya Ciko, ia masih menginginkan snack itu.

“Kesana? Hei! Kita hampir tewas di sana andai saja tidak ada manusia bersepeda tadi. Ikhlaskan saja. Mungkin makanan itu bukan rezeki kita,” ucap Maxy masygul, menghela napas.

“Mungkin saja kucing itu sudah pergi,” ujar Ciko, mengangkat bahu. Dia pun bangkit, pergi ke tempat snack tadi

Melihat itu Maxy mendesah, namun tetap mengikuti.

“Keras kepala.”

Sesampainya di sana, Ciko dan Maxy tidak melihat Kucing Oo tunggu-tunggu, itu dia! Ciko maupun Maxy langsung berlari bersembunyi di balik tiang listrik di tepi trotoar. Kucing itu masih di sana, ia kini sedang minum genangan air di pinggir jalan.

Mata Ciko melihat snack kentang yang masih ditempat. Kalau ia kembali nekad “mengendap-ngendap”, nanti kejadiannya malah sama seperti tadi. Kalau tidak segera diambil, snack itu malah keburu dibawa hewan lain, atau paling mungkin dimakan Kucing Oranye itu sendiri!

Itu tidak boleh terjadi. Tapi bagaimana caranya?

“Apa kamu akan mengambilnya Ciko?” Maxy mendesak.

Belum sempat Ciko menjawab, dari arah berlawanan melaju kencang sebuah mobil sedan hitam yang mengarah ke Kucing Oranye. Sepertinya pengendara mobil tidak melihat ada kucing di situ! Tanpa pikir panjang  Ciko langsung berlari mendorongnya hingga terjerebab di atas trotoar jalanan. Hampir saja, kurang beberapa detik saja kucing itu bisa terlindas.

Hampir saja, batin Ciko, menghela napas.

Ciko melotot saat melihat Kucing Oranye mulai bangkit, mengebaskan bulunya yang kotor. Maxy yang masih di belakang menyusul. Mereka terbelalak melihat Kucing Oranye menatap dengan mata berkaca-kaca.

Kucing Oranye berterima kasih pada Ciko. Ia berucap dengan tersedu-sedu, “Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah tewas di pinggir jalan.

Ciko dan Maxy saling tatap. Entahlah mereka akan percaya atau tidak. Tapi, melihat Kucing Oranye berterima kasih terus menerus, mereka mengangguk. “Kami makhluk hidup harus saling tolong menolong.”

“Yeah, walau kamu tadi berniat memakan kami,” celetuk Maxy, tertawa sinis.

“Maaf aku tadi hampir memakan kalian. Aku berjanji, tidak akan memburu kawanan tikus lagi,” Kucing Oranye berucap dengan nada serius. Ciko dan Maxy tersenyum mendengarnya.

“Ugh… makanan untuk kita semua!” seru Maxy mengangkat snack kentang di atas kepala. Karena terlalu berat, Maxy terhuyung dan terjatuh. Kucing Oranye dan Ciko tertawa.

Mereka bertiga pun menjadi sahabat sejak saat itu.

Tamat.

Baca:
Orang Tua Bukan Pelayanku
Cerita Anak – Berhenti Iri Hati
Dongeng Anak – Manusia, Tolong Pelihara Kami!
Cerita tolong menolong sesama teman
Cerpen Persahabatan Lucu – Mencari Pondasi

Terima kasih sudah Dongeng Anak: Tikus Baik. Koreksi dan bagikan cerita buatanku ini ya!

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu