Pengalamanku Naik Angkot Ke Kota
Pengalamanku Naik Angkot Ke Kota
in

Gara-gara Berantem Ketinggalan Angkot!

Aku, Lisa, Fira, dan Anna mengetuk pintu rumah Bu Adif. Ia baru saja melahirkan, kami ingin menjenguknya. Tentu saja kami tidak lupa membawa buah tangan.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam. Eh, ini murid-muridnya Bu Adif ya? Masuk dulu! Bu Adifnya di kamar…”, jawab seseorang yang membuka pint.
Kami pun segera masuk kedalam rumahnya yang sederhana tapi…wow!
Kami juga diajak masuk kedalam kamarnya.
“Waah…maaf mengganggu, Bu.” ujarku.
“Tak apa, Dina. Bu guru senang kok! Ada yang mau menjenguk…” balas Bu Adif.
“Waah…lucu banget! Namanya siapa, Bu?” tanya Anna.
“Difta Annisa Rahmawati, dipanggil Difta.” jawab Bu Adif sambil tersenyum.
“Oh iya, Bu. Ini ada buah dari kami… Maaf kalau cuma buah…” ucap Lisa.
“Aih…merepotkan saja! Terima kasih ya!” ujar Bu Adif.
“Tidak, kok, Bu!” balas kami serempak.
***
Karena keasyikan, kami jadi lupa waktu. Wajar saja, mengobrol bersama Bu Adif memang asyik sekali. Karena itu, banyak anak murid yang suka dengan cara mengajarnya Bu Adif. Ia menjadi guru favorit di sekolah. Jujur, sebenarnya banyak yang ingin datang menjenguk Bu Adif. Tapi, karena kondisi Bu Adif belum terlalu pulih, jadi, hanya kami berempat yang mewakili mereka.

Hari sudah semakin sore kamipun memutuskan untuk pulang dan berpamitan kepadanya.. oia tadi pergi ke rumah bu guru kami naik angkot, begitu juga rencana kami sebaliknya. Kami memutuskan menunggu angkot persis di depan rumah bu guru.

“Duh! Biasanya jam segini jarang ada angkot!” ujar Fira.
“Gimana ini? ko gak datang-datang” gerutu Lisa.
“Sudahlah, ayo kita tunggu saja!” ujarku.

30 menit kemudian …
“Kok, enggak datang-datang sih!”
“Huh! Ini semua gara-gara kamu Lisa!”
“Kok, bisa aku? Justru kamu itu, Fira.”
SYUUU……rrr hembusan angin dari mobil angkot yang melewati kami.

“Ah! Angkot! Mang! Hoy! Yaah…keburu pergi deh, kalian sih, pakai acara ribut segala. Ayo tunggu lagi!” ucapku kesal.

15 menit kemudian …
“Ah! Angkot! Mang!”
“Maaf, Dek! Penuh!” ujar sang sopir. Kami manyun.
“Huwaa! Capek nih!”
“Sama!”

***
Sudah 30 menit kemudian, kami menunggu angkot yang tidak datang-datang juga. Kami pun memutuskan untuk jalan kaki. Jauuuuh banget! Sabar aja deh…

“Om! Om! Nebeng, Om!” ujar Fira sambil mengejar-ngejar sebuah mobil pick up hitam.
Mobil itu berhenti. Sang sopir dan Fira sempat bercakap-cakap. Sepertinya Fira kenal dekat dengan sopir itu. Kami akhirnya ditebengi mobil tersebut walau penuh rasa takut. Tentu saja naik di belakangnya. Untungnya tidak ada polisi…. hehehe
“Fir, kamu kenal sama om-om itu ya?” tanyaku.
“Tentu saja! Ia itu Om kandungku. Namanya Om Herman.” jawabnya.
“Huuu! Kenapa enggak bilang?” tanya Anna kesal.
“Lupa! Kalian juga enggak nanya sih!”
Kami sempat berkenalan dengan Om Herman. Kami juga berterima kasih pada Om Herman yang mau menebengkan kami pulang.

——-
Pesan: Jangan nebeng sembarangan jika tidak kenal dan jangan bertengkar di jalan ya hehehe nanti bisa ketinggalan Angot!!! 😀

Ayo Vote! Biar makin trending.

100 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Ditulis oleh Zahra Hoshimiya

Tetap Semangat! Fighting!

Yuk tulis komentar kamu

Alamat email kamu tidak akan dipublikasikan. Yang memiliki tanda (*) harus diisi

Simerak Yang Sombong

Si Merak Yang Sombong

Alam Takkan Jadi Kenangan