in

Ibu Dan Kantin Sekolahku

Ibu Dan Kantin Sekolahku
Ibu Dan Kantin Sekolahku

Ibu dan Kantin Sekolahku. Perjalanan yang lumayan jauh menuju Sekolah selalu aku tempuh bersama Ibuku berdua mengendarai sepeda ontel milik kami. Aku tinggal di pinggiran kota Bandung, kira-kira 5 kilometer jarak yang harus kami tempuh menuju sekolah.

“Pagi Bu dan Angga,” jawab penjaga sekolah yang tidak perdah datang lebih dulu dari kami.
“Pagi Pak,” jawab kami kompak.

Jam 5.30 WIB kami sudah sampai, sedangkan anak-anak masuk sekolah jam 7.30 WIB. Ibuku bukan mengantar-ku, bukan juga guru di sana, tetapi Ibuku adalah penjual di kantin sekolah. Setiap hari aku harus membantunya memegang barang-barang jualan ibu agar tidak jatuh dan duduk di sepeda bagian belakang.

Baca juga : Cerpen Persahabatan

Bukan aku tidak mau membonceng Ibu, tetapi karena kakiku belum sampai untuk mengendarainya. Aku masih duduk di bangku kelas 4 SD, tubuhku belum tinggi untuk mengendarai sepada tua yang lumayan tinggi itu. Aku bisa mengendarai sepeda itu, asal tidak ada penumpang di belakangnya.

Setelah pintu gerbang halaman depan dibuka dan pintu besi bagian kantin di buka, aku bergegas membantu Ibu untuk membersihkan kantin tempat Ibuku berjualan sebelum barang-barang dagangan di gelar di atas meja. Ibuku sangat apik dan tidak suka dengan tempat yang kotor.

Ada 16 penjual di dalam kantin sekolah, termasuk Ibuku. Tetapi cuma Ibuku yang memiliki anak bersekolah di sini. Sebetulnya jika Ibuku harus membayar uang sekolahku ini, pasti tidak mampu, karena mahal banget. Aku masuk di sini karena aku lulus tes dan mendapatkan bea siswa.

Syarat untuk mendapatkan Beasiswa di sekolahku, adalah aku harus juara 1-3 setiap semester, jadi jika semester berikutnya aku tidak mendapatkan ranking 1-3, maka aku tidak mendapatkan beasiswa pada semester berikutnya. Harus melakukan test ulang untuk mendapatkannya kembali.

Sebetulnya ini kebijakan sekolah, karena Kepala sekolahku sangat mendukung anak-anak yang berprestasi. Terkadang aku suka iri dengan teman-temanku yang bisa bermain sepulang sekolah, bebas belajar dan membaca buku, bahkan bermain game.

Sedangkan aku, sepulang sekolah harus membantu Ibu mempersiapkan adonan untuk barang dagangan. Ibu tidak pernah meminta-ku, tetapi ini adalah kesadaranku sendiri yang tidak tega membiarkannya bekerja sendiri.

“berbahagialah kalian yang memiliki banyak waktu luang, manfaatkan sebaik-baiknya”

Aku beruntung memiliki teman-teman yang baik, tidak seperti di film-film yang selalu menindas anak yang tidak mampu seperti-ku. Bahkan ada beberapa orang tua murid yang memberikan perlengkapan sekolahku. Mungkin karena aku tidak pernah minder, jadi mereka senang menerima-ku.

Baca juga : Tujuan sekolah secara umum

Banyak anak-anak yang mau berteman denganku, bukan karena aku kaya, tetapi mungkin karena aku selalu ramah kepada teman, tidak membeda-bedakan teman, dan saling berbagi pengetahuan kepada teman yang lain.

Teman-teman, sekian dulu ya cerita Ibu Dan Kantin Sekolahku. Cerita ini adalah karangan belaka. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh ya.

Contributor

Ditulis oleh Dimas A

Cita-citaku ingin menjadi seorang Dokter yang bisa merawat dan mengobati orang yang tidak mampu, menulis hanya hobi sesaat untukku... :)

Years Of MembershipStory MakerContent AuthorList MakerQuiz Maker

Comments

Yuk tulis komentar kamu

Loading…

0

Komentar FB

0