Jagung Bakar
Jagung Bakar
in

Jagung Bakar

Aku merebahkan diri di tempat tidur. Lelah sekali rasanya. Setelah latihan pramuka, lalu latihan hiking, capek banget. Tiba-tiba, saat mataku ingin tertutup, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku. “Siapa?” tanyaku. “Ini Vanya, Kak. Ada berita baru nih..” ucapnya dari balik pintu. Aku beranjak dan membukakan pintu. Terlihat dari wajah Vanya, ia terlihat senang sekali.
“Ada apa?” tanyaku polos dengan raut wajah lesu.
“Kok lesu, Kak?” dia balik bertanya.
“Capek! latihan pramuka sih..” ucapku. Vanya ber-ooh.
“Lalu, ada apa?” tambahku.
“Nanti malam, kita bakal bakar-bakaran di halaman belakang” ucapnya senang.
“Bakar apa?” tanyaku lagi.
“Bakar jagung” jawabnya.
“Ooh, lalu?” tanyaku.
“Kok lalu, Kakak enggak senang ya?” tanyanya heran.
“Kakak capek, Van. Kalau enggak ada lagi, aku tidur ya..” ucapku lesu, lalu menutup pintu.
Aku lagi-lagi merebahkan diri. Kemudian masuk ke dunia mimpi. Aku bermimpi kejadian tahun lalu. Saat aku menginginkan sebuah jagung bakar.
***
“Kok, enggak ada sih..” ucapku pada Ayah dengan intonasi yang sedikit marah. “Mungkin besok, hari ini kan hujan” balas Ayah dengan lembut lalu tersenyum. “Ya sudah” ucapku pasrah. Aku memasuki kamar kecilku, kesal. Ya, aku ingin sekali jagung bakar. Tapi karena yang menjual tidak datang, jadinya tidak ada jagung bakar yang kuminta. Padahal aku ingin sangat mengaharapkannya, penuh harap. Tapi hasilnya, aku tidak mendapatkannya. Aku pun tertidur dalam kekesalan.
Keesokan harinya, aku kembali mendapatkan angin, alias jagung yang kuminta tidak kudapatkan. Akhirnya amarahku meledak.
“Ayah bagaimana sih? katanya ada.., ibu juga, enggak nyari dipasar” ucapku marah.
“Kalau memang enggak ada, mau bagaimana? mau dipaksa juga enggak bakal dapat” balas ibuku, yang kemudian masuk ke dalam kamar.
“Tuh kan, Ayah bohong!” ucapku kini lebih kasar.
“Yang menjual tidak ada, Naila” balas Ayah yang masih setia menjawab ucapanku yang kasar.
“Bukankah bisa dibeli di pasar, Yah” ucapku.
“Di pasar juga tidak ada. Kalau begitu, coba nanti malam kita cari di sekitar komplek. Siapa tahu ada” lagi-lagi Ayah membalas dengan tenang.
“Baguslah!” ucapku. Aku kesal, hari ini aku lagi-lagi tidak mendapatkan keinginanku ini.
***
Aku terbangun dari mimpiku. Melirik jam dinding bergambar bunga-bunga cantik berwarna merah muda. Waktu menunjukkan pukul 15.20 WIB. Aku beranjak dari tempat tidurku, bergegas mandi. Tapi, kenapa mimpiku itu terbawa sampai saat ini? gumamku. Aku mendesah. Memang sih, kejadian itu nyata. Tapi, kenapa itu sampai terbawa mimpi? apa karena aku terlalu capek? atau karena hal lain? semacam, menghormati Ayah? karena kejadian itu berhubungan sekali dengan sosok seorang Ayah, aku lagi-lagi bergumam. “Naila, makan dulu!” teriak Ibu memanggil namaku.“Baik, Bu. Sebentar,” balasku.
Aku memakai baju kotak-kotak warna ungu, rok selutut warna ungu, serta pita yang juga berwarna ungu, kujepitkan di rambut panjangku. Setelah itu, aku berjalan menuju dapur. Ibu dan Vanya tersenyum melihatku. Aku yang di tatap seperti itu heran melihatnya, apa yang salah denganku? tanyaku dalam hati.
“Apa yang salah denganku?” tanyaku.
“Tidak ada” jawab Vanya dan Ibu serempak.
“Benarkah?” aku memastikan. Mereka mengangguk.
“Lho, Ayah kemana?” tanyaku.
“Ayah di teras, sedang membaca koran sambil minum teh hangat” jawab Ibu. Aku ber-ooh.
“Ngomong-ngomong, cantik banget hari ini. Mau kemana, Kak? hari Sabtu seperti ini, seharusnya santai-santai.. Besok harus lebih santai lagi.” tanya Vanya dengan nada menyindir.
“Enggak kemana-mana, bukankah setiap hari aku seperti ini?” balasku.
“Sudah, sekarang waktunya makan. Ada gurame bakar lho..” ucap Ibu. Aku dan Vanya mengangguk.
Selesai makan. Aku dan Vanya beerjalan-jalan di dekat komplek. Menuju taman. Saat kami sampai di taman, kami melihat banyak sekali orang yang berjualan jagung bakar. Dan lagi-lagi aku teringat akan mimpiku. Lalu, kami duduk di sebuah bangku taman. “Kak, ada yang jualan buku. Aku pergi ke sana ya..” ujar Vanya. Aku mengangguk. Vanya meninggalkanku sendirian. Aku melamun lagi-lagi aku teringat akan mimpiku.
***
Setelah kejadian tempo hari, saat amarahku meledak hanya karena jagung bakar. Aku membicarakan kejadian itu pada sahabatku di sekolah, Sasha.
“Iih, kesal deh. Aku sudah berharap, justru tidak kudapatkan” ucapku kesal. Tapi Sasha justru tertawa.
“Hahaha, ya ampun Naila. Hal sepele seperti itu, bikin kamu kesal?” tanyanya.
“Iyalah, aku ini ingin makan jagung bakar, kenapa kamu tertawa? memangnya ada yang lucu?” balasku.
“Jelas saja aku tertawa, hanya minta sebuah JAGUNG BAKAR saja, amarahmu bisa meledak. Bagaimana kamu meminta hal lain? seperti sepeda?” ucapnya dengan sedikit menekan kata “jagung bakar” itu.
“Lagipula, jagung bakar bisa kamu dapatkan besok. Atau kapanlah, yang jelas, itu hanya kemauan sementara, alias hal sepele, kamu bisa makan yang lain. Hahaha, Naila, Naila” tambahnya sambil menggelengkan kepala. Aku mencibirkan bibirku. Kesal. Tak lama setelah itu, bel berbunyi. Bu Reika masuk, memulai pelajaran seni.
Malamnya aku merengek “Ayah, ayo cari jagung bakar!” ucapku. “Baiklah, sebentar.” Balasnya. Aku kesal sampai-sampai menendang sebuah barang didekatku. Ibu marah. “Naila! apa-apaan kamu ini” ucapnya. Aku hanya terdiam. “Ayah! ayo! lambat sekali!” ucapku kini sangat kasar, terlihat Ayah mulai marah, tapi ia tidak melampiaskan amarahnya itu. Lalu mengeluarkan motor, kami berdua mencari jagung bakar, tak ada.
“Tidak ada, mungkin karena hujan” ucap Ayah. “Tuh kan, Ayah BOHONG!” ucapku sangat-sangat marah, jadinya, kata-kata kasar keluar dari mulutku. Dan itu, membuat Ayah kesal, lebih kesal. Sampai akhirnya, Ayah membawaku menuju kota tanpa aku sadari. Lho, ini bukankah jalan arah kota? ah, mana mungkin. Paling, Ayah mau ke rumah Mbah, rumah Mbah kan tak jauh dari sini, gumamku. Tapi lama-lama, Ayah melewati jembatan arah kerumah Mbah. Aku terkejut. “Jangan-jangan, memang benar. Ayah mau membawaku ke kota, hanya untuk “jagung bakar” tak mungkin, tapi kalau memang benar bagaimana? aku tanyakan sajalah” gumamku. “Yah, kita mau kemana?” tanyaku polos. “Kita mau ke kota, mau beli jagung bakar” ucapnya. Aku terkejut.
Dari komplek ke kota, sekitar ½ jam memakai motor. Itu jauh sekali. Aku sadar, itu memang hal sepele, gara-gara aku terlalu manja, jadi aku menganggap hal seperti itu bukan hal sepele. “Yah, balik saja. Enggak ada jagung bakar juga enggak apa-apa” ucapku. Ayah memberhentikan motor di pinggir jalan. “Kamu yakin?” tanya Ayah. Aku mengangguk. Kami akhirnya berbalik arah, pulang ke rumah. Aku sedikit lega. Esoknya, saat aku les di kota, aku mendapatkan sebuah jagung. Justru jagung itu tak bisa kuhabiskan. Sekarang, aku mencoba untuk tidak terlalu manja.
***
“Hah, aku nakal sekali ya..” ujarku. “Apanya yang nakal, Kak?” tanya Vanya. Aku tersadar dari lamunanku. “Ah, tidak apa-apa. Sudah, pulang yuk…..mau maghrib nih. Katanya mau bakar jagung” ucapku. Vanya mengangguk. Sepanjang jalan, Vanya menceritakan kejadian di taman, saat ia membeli buku.
Sampai di rumah, kami di sambut oleh kedua orang tua kami. Azan maghrib berkumandang. Kami sholat berjamaah di rumah. Setelah itu, kami makan malam bersama. Lalu, kami kehalaman belakang rumah. Bakar jagung. Saat itu, kami bercerita, lalu tertawa, tebak-tebakan, tertawa lagi, lalu seterusnya. Seru sekali rasanya. Bercanda tawa. Kebahagian ini jarang kudapatkan. Indahnya.

Ayo Vote! Biar makin trending.

100 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Ditulis oleh Zahra Hoshimiya

Tetap Semangat! Fighting!

Yuk tulis komentar kamu

Alamat email kamu tidak akan dipublikasikan. Yang memiliki tanda (*) harus diisi

My Family Is Everything

My Family Is Everything

Tamasya di negeri dongeng

Tamasya Di Negeri Dongeng