Kampung Peneleh Surabaya (Tempat Kelahiran Presiden Soekarno)
Kampung Peneleh Surabaya (Tempat Kelahiran Presiden Soekarno)
in

Senang Keren

Kampung Peneleh Surabaya (Tempat Kelahiran Presiden Soekarno)

Kampung Peneleh Surabaya (Tempat Kelahiran Presiden Soekarno). Kemarin aku pergi ke Surabaya untuk mengikuti kegiatan latihan interpreter. Kami berangkat pagi sekali jam 05:30 dari Jombang, aku dan mama bersiap-siap untuk berangkat. Perjalanan kami selama dua jam ke Surabaya. Saat kami sampai masih agak sepi. Aku menunggu cukup lama, kami menunggu sampai jam sembilan pagi, kami semua sangat bosan jadi kami di perbolehkan pinjam buku cerita. Sambil membaca aku memesan milk shake.  Saat jam sembilan kami di jelaskan oleh kak Ipung, kak Hanun dan juga Ibu may, menjadi interpreter itu bagaimana. Interpreter adalah pemandu tur  dari luar kota dan luar negeri.

Selesai di jelaskan kami mulai berkeliling Kampung Peneleh. Kampung Peneleh ini adalah kampung yang sudah tua. Ratusan tahun lalu kampung itu adalah makam. Oleh  karena itu kampung itu memiliki banyak sekali makam ditengah jalan  bahkan ada makam yang di dalam rumah penduduk. Makam-makam itu sebagian dipindahkan kemudian tanahnya ditempati rumah penduduk. Sebagian yang lain dibiarkan karena makam tersebut adalah makam leluhur dikampung tersebut sehingga tidak pantas kalau dipindahkan.

Kampung Peneleh Surabaya (Tempat Kelahiran Presiden Soekarno)


Kampung Peneleh Surabaya (Tempat Kelahiran Presiden Soekarno)

Hiiiiiiiiii menakutkan ya teman-teman kalo di bayangin, tapi jangan takut karena jenazah itu kebanyakan sudah di pindahkan atau di kremasi jadi yang ada hanya nisannya saja.

Di kampung Peneleh ini terdapat rumah kelahiran Soekarno. Tempat tinggalnya yang tidak begitu besar dan sederhana yang berada di gang Pandean IV no 40 di jalan Peneleh. Setelah itu aku mulai menulis penjelasan dari kak Ipung dan kak Hanun di buku catatanku. Pada tahun 2003 yang lalu rumah kelahiran Soekarno ini baru ditemukan. Saat ini rumah tersebut masih ditempati orang lain bukan keluarga Soekarno. Ayah Soekarno memilih tinggal di Peneleh ketika Ibu Soekarno akan melahirkan, karena kampung ini suasananya seperti kampung di Bali.

Baca juga: Cerita kejujuran

Nama ayah Sukarno adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo dan nama Ibunya adalah Ida Ayu Nyoman Rai dan nama kecil Soekarno adalah Kusno Sosrodihardjo, karena sering sakit- sakitan namanya di ganti Soekarno.

Kemudian kami melanjutkan jalan-jalan melihat sungai Kalimas. Jaman dulu para pedagang buah buahan selalu naik perahu untuk ke pasar, mereka pergi melewati sungai Kalimas sampai di sungai pegirian mereka baru turun dari perahu itu untuk menjual buah-buahan di pasar buah.

Disana kami ditunjukkan pekerjaan yang unik yaitu, tukang pembersih WC tradisional, mereka tidak memakai mobil tangki tapi mereka menggunakan tong yang di angkut gerobak. Ada pula tukang potong rambut di pos kampling.

lalu kami jalan lagi ke toko kue bikang Peneleh. Toko ini sudah ada sekitar tahun 80. Pemilik toko ini sudah meninggal dan saat ini yang berjualan dilanjutkan oleh cucunya. Aku sempat bertanya terbuat dari apa kue bikang ini, dan penjual menceritakan bahan-bahan nya adalah santan, daun pandan dan tepung beras. Aku juga mebeli kue  bikang, sambil di jelaskan aku juga melihat proses  pembuatannya. Rasanya enak sekali dan harum, teman-teman harus mencobanya jika kesana.

Selanjutnya kami berjalan lagi kerumah H.O.S. Tjokroaminoto. H.O.S. adalah kepanjangan dari Hadji Oemar Said. Kami di jelaskan tentang hal  yang dilakukan orang masa lalu.

Baca juga: 7 manfaat permainan tradisional

Rumah itu digunakan untuk kos, Soekarno dan teman-temannya yang bernama Muso, Semaun, Alimin, Tan malaka Darsono dan Kartosuwiryo . Mereka tinggal dirumah itu dan belajar ilmu agama serta politik dari HOS. Tjokroaminoto.

Di batu-batu yang ditengah jalan gang aku melihat pesan-pesan HOS. Tjokroaminoto. “Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator,” “setinggi-ting ilmu, semurni-murni tauhid,sepintar – pintar siasat.”

Disebrang jalan rumah kos  HOS. Tjokroaminoto ada toko buku Peneleh, di masa lalu toko buku itu sering di datangi Soekarno. Sampai sekarang toko buku ini masih buka, yang melanjutkan mengelola adalah cucu keturunan dari HOS. Tjokroaminoto.

Masjid Jami’ Peneleh ini di buat oleh Sunan Ampel. Masjid ini terlihat seperti kapal jika dilihat dari atas. Disana ada jam istimewa yaitu jam matahari yang menunjukan waktunya shalat dan disana jika shalat tidak memakai mikrofon karena masjid itu besar dan tinggi jadi suaranya bergema sampai luar.

Baca juga: Tetesan air mata misterius

Terakhir kami pergi ke makam Peneleh, disana adalah makam orang-orang asing beragama kristen yang dibangun oleh pemerintah Belanda.

Makam itu sudah tidak ada jenazahnya karena semua jenazah kebanyakan sudah di ambil para ahli waris untuk dipulangkan ke negara asal mereka.

Disana ada makam pengurus sekolah katolik Surabaya yang pertama, dalam satu makam itu berisi dua belas jenazah. Ada juga makan Peter Merkus Gubernur Jendral VOC Hindia Belanda yang terakhir. Ada pula makam Onnes Kurkdjian orang kebangsaan Armenia sang fotografer Soerabaja Tempo Doeloe. Disana ada rumah krematorium yang diberi nama “Omah Balong” untuk membakar jenazah.

Baca juga: Belajar dari kesalahan diri sendiri

Setelah itu kami berkumpul di tempat terakhir Caffe Sawoong, di sini  selain makan minum, kita juga dapat berbelanja oleh-oleh khas Surabaya, seperti kaos yang unik, gantungan kunci, pin dan aneka cinderamata dengan selogan “Soerabja Poenja Gaia,” setelah makan siang dna menutup kegiatan itu kami pulang ke Jombang.

Teman-teman dari luar Surabaya sempatkan mampir jalan-jalan ke kampung Peneleh kalau ke Surabaya, dan jika kalian butuh pemandu bisa menghubungiku, supaya jalan-jalannya lebih seru.

Kamu juga bisa loh membuat konten seperti ini. Buat karyamu sekarang!

Ayo Vote! Biar makin trending.

97 points
Upvote Downvote

Total votes: 5

Upvotes: 4

Upvotes percentage: 80.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 20.000000%

Gambar buatan anak - Anggita and Friends

Gambar buatan anak – Anggita and Friends

Liburan bersama keluarga ke luar negeri - Crystal Hotel Part 1

Liburan bersama keluarga ke luar negeri – Crystal Hotel Part 1