in

SenangSenang

Karena Imajinasi, Dia Masuk Ke Dalam Dunia Angka

Karena Imajinasi Dia Masuk Ke Dalam Dunia Angka
Karena Imajinasi Dia Masuk Ke Dalam Dunia Angka

Angka-angka yang diajarkan oleh Pak Ali masih terpikirkan oleh Fani, seorang anak kelas 3 SD yang wajahnya masih lugu dan polos. Hingga waktu istirahat tiba, Dia terus menggerutu dengan pelajaran matematika yang diajarkan Pak Ali tadi.
“Hhhh, Pak Ali ada-ada aja, deh!” gerutu Fani dalam hatinya, yang tanpa Dia sadari ternyata ada yang memperhatikan ekspresi kebingungannya.

“Hei, Fani, kenapa?,” tanya Dina bingung.
“Aku kesal deh, sama Pak Ali!,” ungkap Fani.
“Kenapa dengan Pak Ali? Pak Ali kan, salah satu guru yang lucu!,” heran Dina.
“Dina, Fani! Ada apa kalian ribut-ribut ini?,” sahut Pak Ali muncul tiba-tiba mengagetkan kami.
“Pak, maaf kalau pertanyaan saya bodoh,” ucap Fadi dengan tertunduk malu
“Jangan seperti itu, jika ada yang kamu ragukan tanyakan saja?” Pak Ali yang ingin membantu Fani
“Hasil dari penjumlahan 5 + 5 = 10, hasil dari 6 + 4 = 10, dan hasil dari 2 + 8 = 10, jadi semua hasilnya sepuluh (10) kan Pak? Saya bingung deh!” penjelasan Fani polos dengan rasa malu.
“Itu semua hasilnya sama, Fani! Coba, 2 boneka ditambah 8 boneka berapa?,” tanya Pak Ali.
“10 boneka, pak!,” jawab Fani.
“Nah, kalau 5 boneka ditambah 5 boneka berapa?,” tanya Pak Ali lagi.
“10 boneka juga, pak! Ini membuatku pusing pala barbie…!,” ungkap Fani polos.
“Memangnya kamu barbie, apa?,” tukas Dina.
“Sudahlah Dina,” tenang Pak Ali, “Kamu itu masih bingung tentang prosesnya, padahal kamu sudah tau cara menghitungnya, jadi perbanyak latihan agar kamu bisa memahaminya, yah Fan!” Pak Ali berjalan meninggalkan mereka, yang sepertinya beliau menyerah menjelaskan kepada Fani hehehe.

Tak lama kemudian, bel tanda selesai istirahat berbunyi. Setelah pelajaran Bahasa Indonesia, PKN, dan Agama Islam berlalu, barulah waktu pulang sekolah tiba. Fani pulang bersama Dina, saudara sepupunya Fani. Mereka berjalan bersama menggunakan sepeda karena rumahnya tidak begitu jauh hanya berbeda gang, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang bersama.
“Fan, kamu enggak ngerti pelajaran Matematika, ya?,” tukas Dina.
“Iya, memang kenapa?,” Fani berbalik bertanya.
“Kamu bisa enggak naik kelas, lho, kalau nilai matematika kamu terus dibawah KKM!” Dina yang peduli mengingatkan Fani. “Aku pintar lho, dalam pelajaran Matematika!” Dinda yang membangggakan diri ingin memberikan semangat kepada Fani.
“Masalah, gitu?,” sahut Fani.
“Jelas masalah, lah! Bisa-bisa kamu dimarahi lho, sama orang tua kamu!,” ujar Dina. Fani membelokkan sepedanya menuju gang rumahnya, jadi mereka berpisah.

Setelah beberapa menit mengayuh sepeda, akhirnya Fani sampai di rumahnya.
“Assalamu’alaikum!” seru Fani sambil melepas sepatunya.
“Wa’alaikumsalam, ehh kamu sudah pulang, Fani!,” kata Ibu.

Seperti biasa, karena Fani anak yang baik Dia selalu tidak pernah lupa untuk menyalami Ibunya, lalu masuk ke kamar. Fani lelah Dia memulai berbaring, dan berimajinasi. Entah apa yang dipikirkannya tetapi sepertinya Dia masih kebingungan dengan pelajaran Matematika.
“Hai. Fani!” sapa salah satu angka, yaitu angka 5.

Rupanya, Fani telah berada di dalam dunia angka! waduh dunia apa ya teman-teman? ternyata dia tertidur membawa kebingungannya dan akhirnya masuk ke dalam dunia angka.

“Aku angka satu!” teriak angka satu, sambil lompat kesana kemari bersama teman-temannya, yaitu angka 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 0. Merasa tidak ingin ketinggalan notasi perhitungan (+, -, :, x, dan =) juga ikut meramaikan mimpi Fani dengan berjoget seakan ingin memberikan penjelasakan kepadanya.

“Kenapa aku dibawa ke sini?,” bingung Fani yang tanpa dia sadari dia hanya bermimpi.
“Karena kamu benci pelajaran matematika, iya kan?,” ucap angka 8.
“Betul, tuh! Kami suka mengajak orang yang benci pelajaran matematika ke sini agar mereka mencintai kami,” jelas tanda kali (x).
“Kami akan mengadakan pertunjukan singkat untukmu,” sambung angka 3. Maka, semua angka dan tanda berkumpul di depan tempat Fani duduk. Ternyata, isi pertunjukan singkat itu adalah, pelajaran KALIBATAKU (KALI, BAgi, TAmbah, KUrang) yang diajarkan Pak Ali. Tentu saja, Fani pusing pala barbie lagi heheh. Tetapi, untung saja Fani tak sampai pingsan di mimpinya hehe.
“Sudah, semua angka dan tanda! Aku sudah pusing, rasanya aku ingin pingsan!,” ungkap Fani. Kepalanya berputar-putar menandakan ia sangat kebingungan.

“Fani, kamu tahu tidak perhitungan di dalam dunia Manusia itu sangat penting, karena dengan bisa berhitung kamu tidak akan dibodohi orang,” ungkap tanda sama denga (=) dengan nada seding kepada Fani.

“Jika kamu bingung, coba kamu lihak aksi kami, jangan kamu pikirkan bagaimana cara menghitung kami.” Angka Nol menjawab sambila berputar kesana-kesini.

Ankhirnya, mata Fani mulai bisa fokus untuk melihat pertunjukan itu. Semua angka dan tanda tetap melanjutkan pertunjukan. Lama-lama, Fani mulai merasa tertarik dan mulai mengerti bahwa sebenarnya bagaimanapun cara perhitungannya intinya adalah hasil akhirnya, bukan bagaimana proses perhitungan angkanya. Fani semakin senang dengan pelajaran matematika.
“Angka 1, ayo kita bergembira!” ajak Fani bahagia. Angka 1 menghampiri Fani, dan menari bersama.
“Semua angka, bisakah kalian masak makanan yang enak, dan sisanya tolong buatkan minuman untukku! aku haus” sahut Fani tiba-tiba.

“Fani!!!!, bukannya ganti baju dan bantu Ibu malah langsung tidur.”

Mendengan suara Ibunya Fani langsung kaget dan terbangun. “Ibu, aku kecapean maaf ya Bu,” Fani menjelaskan.
Merasa sudah tidak bingung lagi dengan pelajaran matematika, Dia sangat bahagia, kemudian berganti pakaian dan segera membantu Ibunya menyiapkan makan untuk keluarganya.

Matematika, I Love You! gumamnya dalam hati.

——
Sumber Gambar: cliparts.co

Yuk tulis komentar kamu