in

Merengek minta mainan di Mall

merengek-minta-mainan-mall
merengek-minta-mainan-mall

Setiap hari Sabtu atau Minggu, Ayah selalu mengajak jalan-jalan, entah ke taman di sekitar komplek, main ke rumah nenek, atau mandi bola di Mall (MargoCity). Ayah dan Bunda memang sangat baik walau aku selalu menolak permintaannya.

Waktu itu aku dan adikku Abid sedang bermain di Mall, karena Ayah dan Bunda ada keperluan sebentar, maka aku di suruh untuk duduk di depan tempat permainan anak untuk menunggu Abid bermain (mandi bola). Aku sudah besar jadi tidak boleh masuk ke dalam sambil memperhatikan Abid berlari ke sana dan ke sini.

Baca juga: Cerita pendek kanak-kanak

“Kak! Kak Rara, aku udah cape, aku mau beli minuman coklat!” teriak Abid dari ruangan bermain kepadaku.

Sebelum menjawab, dengan reflek tanganku merogok ke dalam saku, teringat dengan uang Rp 50.000 yang diberikan Bunda sebelum pergi. Otak kiriku bekerja lebih keras langsung mengkalkulasi uang itu. “Rp 20.000 untuk membayar permainan mandi bola, sisa Rp 30.000 untuk membeli 1 minuman, cukup gak?” gumamku dalam hati, “Ya udah ayo, sekalian kita cari Ayah dan Bunda ya.”

Abid berlari menuju petugas pintu masuk permainan, “Mba, aku mau keluar!”

“Kak, ada chatime tuh!” tunjuknya sambil berlari menuju ke sana.

“Waduh cukup gak ya,” gumamku dalam hati sambil mengejar dia.

Selesai membeli minuman, aku dan Abid berjalan mengelilingi Mall, kebetulan di lantai dasar ada acara anak-anak yang seru, jadi aku dan Abid bisa duduk cukup lama untuk menonton beberapa pertunjukan di  atas panggung.

Aku sudah mulai jenuh, begitu juga Abid yang mulai merengek, “Kak, dimana Ayah dan Bunda?” tanya dia yang sudah mulai menguap.

“Kita jalan ke atas aja Yuk, di sana ada mainan, tapi kamu jangan beli ya! Uang kakak tinggal Rp. 5.000,” jelasku kepadanya. Sesampainya di toko mainan itu, mata Abis langsung memandangi sekeliling tempat, dan rupanya dia hafal tempat itu yang baru rubah tata letaknya.

“Mba, mainan naruto yang besar di sini kemana?” tanya Abid kepada penjaga toko itu.

“Lah, baru saja di beli Dek,” jawab penjaga toko.

“Kak aku mau beli itu boleh?” tunjuk adik ke arah drone berwarna putih itu.

“Abid, kan Kakak sudah bilang, uangnya tidak cukup, nanti tunggu Ayah dan Bunda ya,” jelasku.

“Yah, Kakak aku mau itu!” dengan mana yang sudah memerah dan mulai berkaca-kaca, “Kakak kan bisa telepon Bunda suruh kesini!”

Tangisanpu tang sanggup lagi dia bendung, mukaku malu juga kesal sama dia! Aku coba telepon Ayah gak diangkat, HP Bunda tidak aktif, pokoknya aku kesal sama Abid.

Aku terus berpikir bagaimana cara mendiamkan Abid, “memang kamu bisa memainkannya? Itu mainan susah loh pakai remot, juga malah harganya!”

Baca juga: Liburan sekolah berkesan bersama adik di Rumah

“Aku mau itu!” dia terus memaksa mau itu.

Aku baru sadar, dulu aku suka begini! Memaksa untuk dibelikan mainan! Aku tahu hanya beli dan beli, tanpa berpikir apakah Ayah dan Bunda punya uang waktu itu. Aku mau nangis juga rasanya, sedih banget karena lihat Abid terus menangis.

Kring! Kring! Bunyi telponku berbunyi, rupanya telepon dari Ayah, “Kamu di mana Ayah sudah sampai.”

“Ayah, aku ada di lantai 3 tempat mainan anak, Abis nangis minta dibelikan drone.”

Beberapa menit kemudian, Bunda dan Ayah datang, “Loh kenapa kok malah dua-duanya yang nangis!” tanya Bunda.

Penjaga toko mainan itu malah senyum-senyum sendiri, aku sendiri tidak sadar kenapa air mataku keluar sendiri, bikin malu saja, aku kan sudah SMP masih nangis, hehehe.

Akhirnya, Abid tidak jadi beli drone itu, karena setelah dibuka ukurannya besar banget, dia malah takut sendiri.

-Tamat-

Baca juga: I am a food vlogger

Yuk tulis komentar kamu