in

SedihSedih KerenKeren

Orang Tua Bukan Pelayanku

Orang Tua Bukan Pelayanku
Orang Tua Bukan Pelayanku

Orang Tua Bukan Pelayanku. “Ma, tolong ambilkan air!” Suara serak Tino terdengar dari arah kamar. Sekarang sudah pukul lima pagi. Seperti biasa, Tino akan meminta tolong pada Ibu untuk diambilkan air. Ibu tidak pernah menolak, sebab usia Tino juga baru Sembilan tahun. Saking sayangnya Ibu pada Tino, kadang-kadang Ibu jadi terlalu memanjakannya.

“Ibu, tolong amparkan sajadah untuk Tino salat Subuh, ya?” Kata Tino setelah ia meminum segelas air dari Ibu. Ibu hanya mengangguk dan berkata, “Ya, cepat wudhu.” Tino pun mengangguk. Biasanya, ia akan merajuk kalau Ibu lupa mengamparkan sajadah.

Setelah salat, Tino pun duduk di ruang keluarga. Hari Minggu akan jadi hari yang menyenangkan, pikirnya. Ia ingin menonton serial kartun di salah stasiun swasta favoritnya. Tapi, ia terlalu malas bergerak. Tak ada pilihan lain selain meminta tolong lagi pada Ibu.

“Ibu, tolong nyalakan TV!”

“Apa? Nyalakan dulu sendiri, kan sudah bisa. Ibu sedang masak!” Teriak Ibu dari dapur.

“Ya sudah gak jadi!” Tino sedikit membentak. Ia merasa sangat kesal karena tak jadi menonton serial kartun yang ditunggu-tunggu. Padahal, jaraknya pada televisi tidak sampai dua meter. Tapi Tino keburu malas untuk menyalakannya.

Akhirnya, Ibu datang dengan tergopoh-gopoh karena tak ada suara televisi terdengar. Kalau sudah begini, biasanya Tino sedang marah dan menunjukkan kemarahannya dengan tidak melakukan apa-apa. Ibu pun menyalakan televisi.

“Ibu sudah masak nasi goreng.” Kata Ibu.

 “Yah, tapi Tino maunya bubur ayam.”

“Makan yang ada dulu. Kan, nasi goreng buatan Ibu enak.” Ibu tak menyerah, masih terus berusaha membujuk Tino.

“Kan di depan gang ada yang jual bubur, Bu. Tolong belikan, ya!”

Karena tidak mau Tino marah lagi, akhirnya Ibu menurut. Sambil mengelus dada berusaha sabar, ia berjalan ke depan gang. Sebenarnya Ibu kecewa sekali dengan sikap Tino. Ibu seringkali menyimpan amarahnya karena tak mau menyakiti hati Tino dan memperparah keadaan. Ibu pun berjalan sambil melamun. Ia tak menyadari ada sebuah motor yang melaju kencang dari arah berlawanan. Dan ketika Ibu hendak menyebrang, motor itu tak sempat memelankan lajunya.

BRUK

Suara teriakan menggema ketika Ibu jatuh terguling. Orang-orang mulai menghampirinya dan menolong Ibu. Ya ampun, ada luka di pelipis dan tangan Ibu. Ia pingsan. Para warga pun mengangkat tubuh Ibu untuk membawanya pulang ke rumah. Mereka mengetuk rumah. Di dalam, Tino keheranan. Ia mengira ada tamu yang datang pagi-pagi.

“IBU!” Teriak Tino kaget ketika melihat Ibu terkujur lemas di pangkuan para warga.

“Ibumu tertabrak, Tino. Kami sudah panggilkan dokter dan ambulans untuk datang kesini.”

Tino pun menangis keras. Ia sangat merasa bersalah. Harusnya ia membantu pekerjaan Ibu dan meringankan bebannya, bukan malah menambah pekerjaan dan pikiran Ibu. Kalau saja Tino tidak banyak minta, mungkin Ibu akan baik-baik saja. Sekarang, ketika Ibu sakit, Tino tidak akan bisa meminta tolong lagi. Ia menyadari bahwa selama ini kemalasannya adalah hal yang buruk.

“Ibu maafkan Tino,” Lirih Tino memeluk tubuh Ibunya, “Tino janji tidak akan meminta lagi, Tino akan mandiri. Tino akan mengurus Ibu saat Ibu sakit.”

Dalam hati, Tino bertekad akan selalu menghormati dan menyayangi Ibunya. Ia akan membantu Ibu dan mengurus Ibu semampunya.

Baca:
Doa Untuk Kedua Orang Tua Beserta Artinya
Coba jelaskan mengapa kita harus berbakti kepada orang tua?
Pendidikan anak dan Peran orang tua dalam pendidikan anak
Contoh Pidato Berbakti Kepada Orang Tua

Tino menyadari bahwa Ibu bukanlah pembantu atau pesuruh, Ibu adalah bidadari tanpa sayap yang harus dimuliakan oleh anak-anaknya.

Satu Komentar.

Balas komentar

Yuk tulis komentar kamu