in

NgakakNgakak KerenKeren SenangSenang KagetKaget TakutTakut SedihSedih

Pedasnya Mie Samyang Ditambah Teguran Guru Hasilnya Pedas Kuadrat

Pedasnya Mie Samyang Ditambah Teguran Guru Hasilnya Pedas Kuadrat
Pedasnya Mie Samyang Ditambah Teguran Guru Hasilnya Pedas Kuadrat

Pelajaran pertama di kelasku hari ini adalah pelajaran penjaskes atau yang lebih sering disebut olahraga. Tapi sayang, Pak Samsul yang mengajar pelajaran penjaskes tidak masuk. Jadi, tiga jam pelajaran di kelasku bebas.

Tiba-tiba, Asri, teman sebangkuku ingat soal rencana mie samyang challenge. Jadi Asri dan teman-temannya, Blanca, Raysa, Diffa, Nasya, Chacha, dan Rani sang ketua kelas mengadakan mie samyang challenge hari ini. Tadinya sih, katanya mau diadakan setelah pulang sekolah. Tapi karena jam pelajaran penjaskes kali ini bebas, jadi mereka bertujuh sepakat mengadakan mie samyang challenge sekarang.

“Sekarang aja, yuk,” kata Asri memutuskan kepada keenam temannya. Tentu saja keenam temannya setuju.

“Tapi kan, mienya belum direbus,” tandas Raysa.

“Ya udah kita minta rebus aja di kantin.” usul Rani.
Blanca mengangguk, tanda setuju dengan usulan Rani. “Oke, aku sih udah rebus mienya dari rumah.”

Baca juga : Cerita tentang lirik iklan

Asri dan teman-temannya, kecuali Blanca pergi ke kantin untuk merebus mienya. Oh ya teman-teman, mie samyang challenge itu adalah lomba makan mie samyang. Kalian tahu kan, mie samyang? Mie impor dari Korea yang rasanya pedasss banget. Istimewanya, kita harus bisa menahan rasa pedas mie samyang dan menghabiskannya.

Mie samyang challenge ini cuma buat iseng-iseng aja, peraturannya dibuat sendiri. Kalau teman-temanku sih hukuman yang terakhir menghabiskan mie samyang itu harus mau dipermalukan di depan kelas. Duh…

Setengah jam kemudian, semua anak yang ikut mie samyang challenge sudah ada di depan kelas dengan membawa masing-masing satu porsi mie samyang.

“Sambalnya mau setengah atau satu bungkus?” tanya Chacha seraya memegang bungkus sambal mie samyang.

“Setengah aja,” kata Rani.

“Satu aja… biar seru,” Raysa segera menuangkan semua isi sambal mie samyang ke seporsi mienya.

Yang lain juga ikut menuangkan sambalnya ke mie samyang masing-masing. Saat ini di kelas hanya ada aku, Keza, Zara, Alvian, Krisna, dan tentunya ketujuh anak yang mengadakan mie samyang challenge. Karena hampir semua anak laki-laki memilih untuk olahraga sendiri di lapangan.

“Alvian, tolong ya kamu jadi yang ngelihatin punya siapa yang pertama kali habis mie samyangnya. Oke? Sekalian deh, sama kamu yang ngatur kapan kita minumnya,” suruh Chacha kepada Alvian yang sedang mengobrol dengan Krisna.

“Udah, minumnya kapan aja deh. Soalnya mie samyang itu kan pedas banget, nggak mungkin bisa tahan,” ujar Blanca dan Asri bersamaan menolak usul Chacha. Namun tetap, Alvian disuruh untuk ngelihatin punya siapa yang pertama kali habis mie samyangnya. Setelah semua sudah siap…

“Satu… dua… tiga…!” hitung ketujuh anak itu bersamaan.
Baru sesuap mie samyang, hampir semua anak kepedasan, bahkan ada yang tersedak. Lain halnya dengan Raysa yang berada di pojok dekat pintu kelas. Dia tidak memiliki gangguan apapun saat menyantap mie samyang.

Baca juga : Contoh Dekorasi kelas

“Lihat Raysa deh, kok nggak kepedasan sih?” komentar Keza yang berada di sebelah Rani yang baru saja tersedak. Tadi saja Rani sampai lari-lari dari depan ke belakang kelas karena tersedak dan kepedasan.

“Iya, aku udah biasa,” sahut Raysa sebelum memasukkan segarpu mie samyang ke dalam mulutnya. Dan akhirnya, Raysa yang pertama kali berhasil menghabiskan mie samyang. Disusul Asri dan Blanca yang juga tak punya gangguan apapun kecuali kepedasan.

Kini tersisa Chacha yang tinggal sesuap lagi, Rani yang masih seperempat porsi, Nasya yang masih setengah porsi, dan Diffa yang masih tiga perempat porsi sebab baru dimakan sedikit.

“Ayo… semangat Ran!” Keza menepuk bahu Rani yang dari tadi nggak sanggup menahan pedasnya mie samyang.

“Yey… punyaku udah habis!” riang Chacha melihat porsi mie samyangnya sudah habis. Dia segera meneguk banyak sekali air minum untuk menghilangkan rasa pedas di mulutnya.

“Zara, ambilin minumanku, dong!” perintah Nasya yang sudah tiduran di lantai kelas, nggak kuat dengan rasa pedas mie samyang yang menyerang mulutnya itu. Aku tertawa kecil.

“Ini punya kamu dua-duanya, Nasy?” heran Zara seraya melihat-lihat dua botol aqua berukuran sedang yang dipegangnya.

Nasya tertawa kecil, sambil guling-gulingan. “Iya, sini cepetan!”

Zara menyerahkan satu botol aqua ke Nasya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit. Berarti setengah jam lagi jam pelajaran penjaskes akan selesai. Hanya Nasya dan Diffa yang belum habis mie samyangnya.

Karena Nasya merasa tubuhnya mulai masuk angin dan Diffa yang benar-benar nggak kuat menahan pedas serta kebetulan lagi sariawan, akhirnya mereka berdua didiskualifikasi. Jadinya, Diffalah yang dipermalukan di depan kelas.

“Yahh… hukumannya jangan dipermalukan ya, please…” bujuk Diffa kepada Chacha dan Asri yang mengadakan mie samyang challenge ini.

Awalnya Chacha dan Asri tidak mau, namun akhirnya mereka mengerti bahwa Diffa ini sedang sariawan. Sementara Nasya udah nggak kuat, akhirnya mie samyangnya dikasih ke Zara yang dari tadi nyolek-nyolek terus. Akupun ikut-ikutan makan karena penasaran, bagaimana sih rasa mie samyang itu? Pedasnya semana?

Baca juga : Cara membuat jadwal piket kelas

Di lidahku, rasanya tidak terlalu pedas. Tapi di bibir, rasanya seperti terbakar api cemburu, eh, terbakar api gitu. Duhh… perih! Pengen cepat-cepat minum dingin. Ke kantin, ah!

“Eh, nitip aqua botol, yang dingin ya,” kata Diffa sembari memberikan uang dua puluh ribuan ke aku. Aku segera keluar kelas, tapi sayang di luar ada Bu Nuni yang sedang berdiri di lorong kelas 9 dan kelasku, 8-3. Kalian masih ingat Bu Nuni? Guru yang pernah menyuruhku berdiri di antara empat ubin di ruang BK akibat aku membohongi beliau soal keberadaan mobil beliau. Kalau mau lebih lengkapnya, baca cerpenku yang judulnya Akibat Cuek dan Berbohong Kepada Guru, ya!

“Haduhh, ada Bu Nuni lagi,” desahku. Aku memutuskan untuk mengintip keberadaan lorong dari pintu kelas. Bu Nuni tak kunjung pergi. Sementara aku sudah benar-benar ingin minum dingin.

Tiba-tiba, seorang kakak kelas 9 menghampiriku. “Monic, kamu dipanggil Bu Nuni, tuh!”
Aku terperanjat kaget. Aduh, mau diapain aku kali ini?

“Oh ya kak, terima kasih,” ucapku seraya berpikir, samperin-nggak-samperin-nggak-samperin. Ya udah deh samperin Bu Nuni aja, mau kena marah atau diapain, biarin aja. Daripada aku dicap sebagai murid yang sombong, hehehe.

Aku berjalan menyusuri lorong kelas 9. Menuju pertigaan lorong kelas 9 tempat dimana Bu Nuni berdiri. Duh, pasti mau diomelin, nih. Soalnya wajah beliau masam gitu ke aku.

Benar saja, ketika aku sudah tepat berada di depan Bu Nuni, Bu Nuni langsung memarahiku.
“EMANG KAMU NGGAK BISA DIAM GITU DI DALAM KELAS? KELILING-KELILING KELAS TERUS! KAMU EMANGNYA NGAPAIN KELILING-KELILING KELAS TERUS. BUKA-BUKA JENDELA LAGI. POKOKNYA LAIN KALI JANGAN BUKA-BUKA JENDELA, APALAGI PINTU KELAS. BISA?” Begitulah garis besar dari marahnya Bu Nuni kepadaku. Aku nggak ingat persis, karena juga lagi berkonsentrasi menahan rasa pedas.

“Iya, bu.” Aku mengangguk dengan cepat, dengan wajah berkeringat ditambah bibir yang masih merah.

Sampai-sampai kali ini aku menyalami Bu Nuni, Bu Nuni tidak menjulurkan tangannya. Ya aku asal mengangguk aja, lalu pura-pura kembali ke kelas seraya menengok terus ke arah belakang. Saat aku di pintu kelas, Bu Nuni sudah tidak ada. Bukannya masuk kelas, malah ke kantin. Hihihi… Kan aku juga membelikan titipan Diffa.
SLURP…!
Hmmm… segarnya…!

Jakarta, 16 April 2016
Cerita diatas merupakan cerita yang benar-benar terjadi alias kisah nyata. Tapi hanya secara garis besarnya saja. Cerita ini terjadi tanggal 13 April pukul 07.30 sampai 09.00 WIB.

Yuk tulis komentar kamu