in

Perpisahan Sekolah Di Dufan Bersama Guru-Guru – Part 1

Perpisahan Sekolah Di Dufan Bersama Guru-Guru - Part 1
Perpisahan Sekolah Di Dufan Bersama Guru-Guru - Part 1

Selasa, 16 Mei 2017. Kemarin adalah hari yang istimewa bagiku. Yap, ini juga bertepatan dengan hari keberangkatan Study Tour Jakarta-Bali SMP Perguruan Cikini 2016. Tepat setahun yang lalu. Makanya 16 Mei itu sesuatu sekali, ya?

Oh iya, kami janjian di sekolah sebelum berangkat ke Dufan jam 08.00 AM. Sedangkan aku sampai di sekolah jam delapan kurang lima belas menit. Mereka yang sudah sampai langsung menuju ruang guru untuk melunasi tiket Dufan dan uang makannya. Begitupun denganku, yang masuk ruang guru langsung disambut meriah. Duh, seperti artis terkenal, ya?

Rata-rata guru bersorak seperti ini, “Cieee Monic…”

Aku tersenyum menanggapinya sambil berjalan menuju meja Bu Nuni yang terletak paling pojok di ruang guru. Setelah membayar, aku langsung mengelilingi sekolah–tradisiku setiap hari saat masih sekolah.

Kulihat kelas 7 dan 8. Ketika itu kelas 7 sedang berusaha memahami angka-angka yang dijelaskan Bu Gres di papan tulis. Sedangkan kelas 8-1 dan 8-2, yang tadinya mereka belajar tiba-tiba mereka langsung bubar jalan menuju ruang multimedia. Ternyata ada seminar tentang rokok, tapi hanya kelas 8 yang mengikutinya.

Baca juga: What’s caption text

Aku juga bertemu beberapa guru lain diatas. Pak Samsul, Pak Edy (kepala sekolah), Pak Nurdin, dan Pak Rahmat. Saat jam delapan tiba, aku kembali ke ruang guru, sekadar untuk mengecek keadaan. Eh, ternyata udah ramai banget. Katanya tinggal tiga orang lagi yang belum datang. Tiga orang itu adalah Deta, Diffa, dan Blanca.

Di sana anak-anak sedang bercengkrama santai seraya menunggu tiga orang tersebut. Aku ikut nimbrung dalam percakapan Raysa, Salma, dan teman-temannya. Coba tebak, apa yang mereka bicarakan? Mereka membicarakan KPOP!

Ternyata 9-1 benar-benar demam KPOP.

Sampai ke mobil pun, mereka masih ngomongin KPOP. Sayangnya aku bukan ikut mobil Nasya yang hampir semua anak perempuan ada disana. Aku disuruh ikut mobilnya Chacha bersama Rani, Fira Delfi, dan tentu saja pemilik mobilnya, Chacha. Selain mereka, ada juga Bu Ari, Bu Adit, Mama Rayhan, dan Mama Chacha yang menyetir mobilnya. Sepanjang perjalanan aku bingung mau ngapain. Tahu-tahu sudah sampai di Dufan dan kami semua berkumpul di pintu masuk Dufan.

Kami masuk ke Dufan bersama-sama. Sebelum pintu masuk menuju area dufannya, kami berfoto dulu di depan patung Dufan.

Setelah itu, petualangan pun dimulai! Kami semua berpencar. Tadinya aku ikut sama 9-1. Mereka mau naik histeria. Tapi aku, Chacha, Bintang, dan Diffa nggak berani naik. Jadinya kami ke tempat lain, dan di wahana Ontang-Anting kami bertemu Bu Ari, Bu Adit, dan Bu Nuni yang sedang antre. Ada Deta, Mahesa, dan Gilang juga disana. Chacha dan Diffa memilih ke wahana lain, sementara aku dan Bintang langsung antre. Setelah dua permainan Ontang-Onting, akhirnya giliran kami. Untung kami semua berbarengan mainnya.

Baca juga: Pidato perpisahan kelas 6 yang mudah dihafal

Dan anehnya, sepanjang permainan secara spontan aku berteriak kepada salah satu guru yang ada di depanku, Bu Adit.

“Bu Adit takut nggak, bu?”

Jadi kesannya aku takut ya, wkwkwk.

Saat permainan selesai saja, Bu Ari dan Bu Nuni ngomongin aku kalau aku takut naik Ontang-Onting. Sebenarnya nggak sih, tapi nggak tahu kenapa aku berteriak spontan seperti itu. Apa karena aku pusing dibawa berputar-putar, ya, makanya mabuk dua menit begini?

Lalu, karena aku nggak ketemu anak-anak 9-1, jadi terpaksalah aku ikut sama ketiga guru ini. Ya daripada jadi anak hilang di tengah luas dan ramainya Dufan, kan seram dong. Dan selanjutnya, karena aku bareng dengan guru-guru, jadi mainnya ya yang standar aja dan nggak terlalu menguji nyali. Dan, kami berempat naik bianglala :3. Pas ngantrinya aku udah pusing duluan. Tapi ngakak aja melihat Bu Ari, Bu Adit, dan Bu Nuni yang bercandanya bener-bener deh, hahaha. *efek aku belum makan apapun sejak pagi, jangan dicontoh ya teman-temannya.

Pas kami berempat masuk ke bianglalanya, akupun dikira seumuran sama Bu Adit, Bu Nuni, dan Bu Ari. Itu keliatan dari tampang mas dan mbak petugas wahananya, apalagi pas mereka manggil aku “Ibu” mulu wkwkwk. Aigo, umurku 14 tahun, masa dipanggil Ibu. Kayaknya gara-gara aku mainnya sana guru-guru nih, hahaha. Pokoknya selama di Bianglala, benar-benar memalukan deh. Camilanku di tas diacak-acak sama Bu Nuni terus dimakan bareng.

Kami seperti teman sebaya saja, nggak seperti murid dan guru.

Lalu setelah selesai, kami menuju ke wahana selanjutnya. Ini sebenarnya aku juga ya… Antara mau dan nggak mau sih. Naik wahana Gajah Bledug! Itu kan wahana yang sebagian besar dinaiki anak kecil. Jleb! Antrenya lama banget. Lalu Bu Nuni melihat-lihat hpku, dan pulsa 10 ribuku ludes dipakai buat mengunggah foto kami berempat ke instagram. Bu Nuni, pulsaku habis nih, gantiin buuu! :’).

Setelah naik wahana Gajah Bledug, karena sudah jam 12 siang, kami menuju restoran Yoshinoya dulu untuk makan siang. Di saat lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba kami mendapat kabar yang mengejutkan …

Baca juga: Kata-kata perpisahan sedih anak sekolah

Penasaran kabar apa itu? Lalu bagaimana denganku setelah makan siang? Apa masih ikut guru-guru atau justru keluyuran dengan 9-1 BERSAMBUNG…

Yuk tulis komentar kamu