in

NgakakNgakak SedihSedih KagetKaget KerenKeren

Please Stop Bullying Di Sekolah – Part 1

Please Stop Bullying Di Sekolah - Part 1
Please Stop Bullying Di Sekolah - Part 1

Please Stop Bullying Di Sekolah. Susah memang menjadi anak seperti ku ini, sudah pemalu, enggak punya teman, bahkan membuka pintu kelas saja rasanya aku enggak kuat karena takut. Please stop Bullying di Sekolah!!!! hanya itu yang ingin aku katakan kepada mereka sang pem-bully sejati. Di dalam benakku selalu befikir apa yang akan mereka lakukan hari ini kepadaku? aku takut sampai tak bisa bernafas, tapi.. tenang karena aku punya Tuhan dan satu teman baik.

“Pa…pa… pagi Yama-kun,” sapaku kepada Yama-kun satu temab baikku selama ini.
“Pagi Chika,” Yama-kun tersenyum kepada ku

Ya, temanku bernama Satiyama atau bisa dipanggil Yama-kun, dia memang cowok yang bisa apa aja dan pintar, kami bertemu ketika aku menangis di belakang gedung sekolah dan ia lalu menyapa ku, tetapi aneh walau dia sering di bully (di tindas) dia tetap tegar itu makanya kami berteman.

“Oy, Yasma Chikuo bikinkan PR kami dong yang Matimatika, PRnya ” teriak Oghisa kepadaku dan Yama-kun.

Teman-teman, Oghisa lah, orang yang mem-bully atau bisa disebut menindas kami, sepertinya dia pantas disebut ratu pem-bully-an.

“I..i.. iya,” jawabku, sedangkan Yama-kun hanya mengepal tangannya pertanda ia sedang kesal.
“psst.. sudahlah Yama-kun turuti saja,” berbisikku kepadanya.

Kami lalu mengambil buku Oghisa dengan terpaksa, kemudian….

DRINGGGGGGGGGG….. bel masuk berbunyi dengan keras membuat semua anak di sekolah menutup telinga. kebetulan bel itu berada di dinding luar ruangan kelas kami. Termasuk aku dan Yama-kun yang satu kelas.

…tiba-tiba Yama-kun menghilang entah kemana. Semua anak masuk ke dalam kelas kecuali Yama-kun.

Jam tanganku menunjukan dia udah telat tiga menit sekarang, nit… nit… nit… hpku lupa aku matikan dan berbunyi..
“Chika, di belakang UKS,” membaca sms itu aku lalu keluar dari kelas menuruni tangga dan sampai di belakang UKS. Yama-kun sudah terkapar dan belumuran darah.
“apakan ini ulah mereka?” kataku dalam hati.

lalu ku dekati Yama-kun dan ku lap luka-lukanya“ ada yang sakit Yama-kun?” tanya ku dengan khawatir. Mukanya terlihat lebam dan kesakitan.

“Aku tidak apa-apa Chika,” jawabnya, dengan suara lirih dan langsung pingsan. aku lalu mengendong Yama-kun sambil menangis.
“ada apa Misya Chika?” tanya buk Leila
“i..ini buk Yama-kun pingsan a..aku takut dia..” omongan ku terputus karena air mataku keluar,  Ibu Leila menenangkan aku dengan lembut.
Buk Leila kemudian berkata ”parah Chika, ini tangan kirinya patah,” kata-kata buk Leila membuatku terkejut “lebih baik kamu bawa dia ke rumah sakit Misya”

Aku menangis dangan keras….. tiada maaf pokonya, tiada maaf bagi mereka yang melakukan ini.

“Awas saja aku akan balas dendam,” gumamku dalam hati, dimana perasaan ini belum pernah aku rasakan sebelumnya. apakah karena mereka sudah kelewat batas!!!

Baca juga: Kata-kata baku terbaru

——————

Please Stop Bullying Di Sekolah

Pagi itu, aku terbangun lebih pagi, karena aku memikirkan tangan Yama-kun yang patah dan orang jahat yang telah membuat tangan Yama-kun patah. Setelah bersiap akupun berrangkat ke sekolah dengan niat untuk menuntut ilmu.

Aku masuk ke kelas, aku mendapatkan sambutan yang luarbiasa dengan spanduk yang bertuliskan

‘SELAMAT TEMAN MU PATAH TULANG MOGA-MOGA DIA …..’

itu benar-benar membuatku jengkel dan tiada maaf lagi bagi mereka sang pembuat masalah.

“Apa maksud mu Oghisa?” tanya ku sangat kesal.
“Yah… enak aja liat orang kaya kalian kecelakaan, dia kepana-kenapa pun enggak apa-apa,” jawab Oghisa dengan nada sombong.

Mendengar perkataan itu, hatiku sangat sedih dan yang biasanya bisa besabar, kini entah kenapa perasaan itu menghilang begitu saja, dengan sangat marah aku lalu meletakan tas di atas meja kemudian aku menghampiri Oghisa dan menganggat kerah bajunya, kemudian aku berkata..

“Kalo memang kau ingin aku dan Yama-kun celaka oke, tapi kau harus ikut celaka,” tanganku yang semakin kuat sempai Oghisa tak bernafas. Semua yang melihatku hanya bisa terdiam karena mereka tak pernah melihat sisi satuku ini.

Ku lepaskan tanganku dari kerahnya, “tiada maaf bagi kalian yang mem-bully ku apa lagi Yama-kun, kalian semua yang bakalku menerima akibatnya seperti dia ini,” omonganku yang tegas membuat semuanya ketakutan dan membuat Oghisa ketakutan juga.

“M…a…k…s…u…d…m…u…a…p…a?” tanya Oghisa dengan suara lirih
“Aku mau kau ikut celaka,” senyum iblisku tiba melekat di bibirku,  “jika ada yang mem-bully ku atau Yama-kun lagi siapa-siap kalian akan jadi santapan singa.”

Aku lalu duduk di kursi dan mengambil buku pelajaran dan membacanya, semua hanya melihatku dengan tatapan tak percaya.

————-

Pelajaran selesai, Ibu Kisyana berkata…

“Oke anak-anak kalian boleh keluar main,” Ibu Kisyana mengizinkan kami istirahat.
Ku buka kotak bekalku, hari ini lauknya sambalnya hati ayam, mie goreng telur. Baguslah bekalku bukan makanan yang membuatku bersin atau sakit, karena ini bekal buatan Mamaku. Andai ada Yama-kun pasti menyenangkan.

“Hi Chika,” sapa Oghisa.
“Mau apa kau di sini?” tanya ku dengan nada marah “tidak ada yang boleh ada di dekatku kecuali Yama-kun”
“Kami enggak mau bully kamu kok,” Oghisa tersnyum “kami hanya mau makan bersama.”
“Tidak!” jawabku singkat, “kamu mau berteman denganku pasti ada alasannya,” aku pun memakan bekalku dengan agak cepat.
“Enggak kok,”senyum Oghisa lagi.

Kalo iya memang benar tak ada alasan lagi pasti jawabanku adalah…
“Boleh saja asal kau tidak mem-bully ku juga Yama-kun ketika dia sembuh,” kata ku masih sibuk dengan bekal ini.
“Kami setuju,” Oghisa menjulurkan tangannya sebagai tanda persahabatan. Aku pun tersenyum dan menjabat tangan Oghisa.

Baca juga: Bunga sakura

————-

Tanpa terasa 3 hari setelah kejadian itu, ku lihat cermin dengan tatapan lesu, ketika aku sekolah biasanya aku ketakutan dan selalu mengulang kalimat yaitu “mereka mau apakan aku hari ini?” membuka pintu saja tanganku merasa berat, merasa sedih karena aku ini lemah namun…. Sekarang berbeda karena aku tak perlu khawatir.

“Pagi semua,” sapaku pada pagi hari itu.
“Pagi Chika,” sapa Oghisa lagi.

Aku sekarang bisa berteman dengan Oghisa, setelah kejadian itu tetapi Yama-kun masih belum sembuh. Dia belum tau kabar baik ini, tapi sungguh semoga dia lekas sembuh.

“Sudah ber hari-hari Yama-kun enggak masuk ya,” kata Oghisa tiba-tiba pas istirahat siang.
“Iya, aku juga belum tau kabarnya dia di rumah sakit,” jawabku memberikan penjelasan.
“Sukurin ya, dia celaka!” jelas Oghisa. Entah kenapa aku juga mengiyakan apa yang dia katakan.
“Iya!” jawabku yang sudah memiliki teman baru.

————

“Asalamualaikun Ma,” salam ku ketika pulang.
“Walakum Salam Chik gimana sekolahnya?” tanya Mama.
“Enak Ma, apalagi kalo enggak ada Yama-kun,” jawab ku kepada Mama.
“kenapa?” tanya mama lagi.
“Mama kepo ah….” jawab ku sambil tertawa.

Mama juga ikut tertawa tapi tiba-tiba berhenti tertawa dan bertanya lagi.

“Chik kenapa kamu enggak pernah liatin Satiyama lagi? Bukannya kalian BBF (best freind’s forever)?”
“Eng…soal itu,” aku menggigit jari dengan ketakutan akhrinya aku menjawab “besok aku liatin lagi hahaha….”

Mama hanya melihat ku dengan heran, aku tidak berubahkan ma? Aku masih orang yang seperti dulu kan? Hanya sekarang aku tegar kan.

Aku termenung sejenak dan melihat langit-langit atap…

“Besok aku harus datang ke RS (rumah sakit) dan katakan ke Yama-kun bahwa persahabatan kita putus sampai di sini,” gumamku.

————

…bersambung Please Stop Bullying Di Sekolah – Part 2

Bagaimana menurut kalian, apakah tindakan Chika itu benar? dan pelajaran yang bisa kita petik dari cerita bagian pertama ini, sebaiknya kalian harus terbuka terhadap apa yang terjadi di sekolah kepada orang tua dan guru. Biasakan berani bercerita, karena nanti orang tua dan guru bisa memberikan solusi kepada kalian semua, jadi tidak diselesaikan sendiri seperti Chika yang akhirnya bertengkar.

Baca kumpulan cerita bersambung kiriman teman kalian lainnya.

Source: www.clipartsheep.com

3 Komentar

Balas komentar

Yuk tulis komentar kamu