in

SenangSenang

Raya dan Nyanyian Hujan

Cerita Misteri, Raya dan Nyanyian Hujan
Cerita Misteri, Raya dan Nyanyian Hujan

Raya dan Nyanyian Hujan. Sore ini langit tampak cerah. Aku duduk di balkon rumah baruku, seperti biasa menatap burung-burung berkicauan, kupu-kupu bertebaran diantara bunga-bunga cantik yang tertiup angin dan bercahayakan senja sore. Dari kejauhan aku melihat mobil ayah masuk ke pelataran halaman rumah kami. Ayah tidak sendiri kali ini, tapi bersama Bibi Dera. Bibi Dera sudah lama bekerja di rumah kami, bahkan kami sudah menganggapnya sebagai salah satu anggota keluarga kami.

“Ayah .. kok sama Bibi? Bukannya tadi Bibi pamit mau ambil laundry jas Ayah ya?” celetukku dengan bingung. Sambil mengusap kepalaku, Ayah berkata, “Iya nak, tadi Ayah ketemu Bibi dijalan, kasian kan kalo Bibi jalan? Sudah ya Nak, Ayah masuk dulu mau melihat kondisi Ibu.” Tanpa banyak perlawanan, aku mengangguk dan membiarkan Ayah berlalu. Ibu sedang sakit, sudah 2 hari Ibu sakit, suhu badannya tidak stabil. Tapi Ayah sudah memanggil dokter tadi malam untuk memeriksa keadaan Ibu, kata dokter kalau sampe besok Ibu belum juga sembuh, Ibu disuruh cek darah ke rumah sakit. Itu sebabnya ayah ingin mengecek kondisi Ibu tadi.

Baca juga: Seindah dunia ceri

“Non Aya gak mau masuk ke dalam rumah? Sudah sore Non, mending ikut Bibi masak buat makan malam, yuk Non!” ajak Bibi. Aku langsung masuk ke dalam rumah dan mengikuti langkah Bibi menuju dapur. Aku sangat senang memasak, walaupun aku hanya membuat berantakan dapur saja, membuat Bibi mengomel dan melarangku untuk mengatakan jangan, itu seru!!

Namaku Raya, biasa dipanggil Aya. Aku dan keluargaku penduduk baru di Desa Nilarov. Kami pindah karena pekerjaan ayah yang mengharuskan kami pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Aku berumur 9 tahun, dan sudah kelas 3 SD. Itu artinya aku menjadi murid baru lagi di sekolah baruku, seru sih karena punya banyak teman. Hari ke-empat aku masuk sekolah baru dengan teman-teman yang baru, guru-guru yang baru, dan suasana baru. Mereka sangat menyenangkan, sehingga aku merasa nyaman ada di sana di Sekolah Borgenwhim.

Sepulang sekolah, aku menemui Bibi sedang memasukan beberapa baju-bajuku ke dalam sebuah tas. “Bi.. bajuku mau dikemanakan? Kita pindah lagi? Bukannya kata Ayah kita 18 bulan di sini?” tegurku spontan. Bibi menjawab, “Kita mau liburan Non, besok kan hari Sabtu, Ayah Non bilang kita mau liburan ke Desa Lavioley sampai hari Minggu, sembari Ayah Non lihat-lihat lokasi proyek kerjaan Ayah Non di sana”. “Nanti kita tidur dimana? Di rumah teman Ayah?”, tanyaku. “Ayah sudah sewa 1 rumah villa di sana, untuk kita tempati sampai hari Minggu Non, asik Non Bibi jalan-jalan” kata Bibi gembira. “Oh iya Non, sore ini kita berangkat ke Desa itu Non, jadi Non harus lekas mandi dan makan ya Non”, tambah Bibi. Aku bergegas melaksanakan perintah Bibi Dera.

Raya dan Nyanyian Hujan

Setelah semua bersiap, kami berangkat menuju Desa Lavioley. Oh iya.. keadaan Ibu sudah membaik, sangat baik, makanya Ayah mengajak kami berlibur. Ayah selalu memperkenalkan tempat selanjutnya kami akan tinggal setelah dari Desa yang sekarang kami tinggali, alasannya sih biar berkesan di hati, dan nyaman nanti. Hihiiihihi… Ayahku itu memang lebay. Menuju Desa Lavioley membutuhkan waktu 2-3 jam perjalanan dari Desa Nilarov. Akhirnya kami sampai di villa tepat pukul 19.30. Perutku terasa lapar, untung saja Bibi membawa perbekalan kami untuk makan malam di villa.

“Kapan Bibi masaknya? Kok gak ajak aku?” tanyaku sebal. Semua tertawa kecil melihatku merajuk. Sesegera mungkin Bibi menyajikan semua perbekalanya di meja makan. Selesai makan, aktivitas kami sudahi dan kami bergegas menuju kamar masing-masing untuk tidur, seperti biasa aku tidur bersama Bibi. Aku suka tidur sama Bibi, karena Bibi selalu mengelus-elus dahiku dengan jemari tangannya secara perlahan membuatku mudah terpejam dan terjaga dalam tidurku.

Keesokan harinya..

Aku bangun tepat pukul 05.30 pagi, aku segera merapikan tempat tidurku dan bergegas mandi. Walaupun ada Bibi, aku selalu merapikan tempat tidurku sendiri kecuali saat aku sedang sakit. Ayah dan Ibu selalu mengajarkanku untuk tidak mengandalkan orang lain, dan mandiri.
“Aya … mau ikut gak ke sungai sama Ibu?” tanya Ibu dari luar kamarku.

“Ikuuutt Bu .. tunggu Aya, mau pakaian dulu” jawabku spontan.

“Aya .. ajak Bibi ya nanti kita sekalian bantu Bibi cuci baju,” tambah Ibu.

“Iya Bu” teriakku dari dalam kamar.
Tidak lama aku bersiap untuk berangkat ke sungai, tepat pukul 06.00, tapi aku gak menemukan Bibi di dalam kamarku, gak juga di dalam dapur. Kemana Bibi? tanyaku dalam hati. Segera ku temui Ibu di halaman villa yang sedang bercengkrama dengan warga sekitar villa.

“Bu, Bibi ga ada di dalam rumah. Ibu tau Bibi kemana?” tanyaku.

“sudah cari yang benar di dalam? Bibi gak bilang Ibu kalau mau ke luar, harusnya Bibi ada di dalam rumah”, Ibu terlihat kaget. Aku dan Ibu segera mencari Bibi di dalam villa. Tetapi hasilnya nihil, Bibi gak ada. Bibi gak punya hp, karena Bibi gak bisa menggunakan hp. Lalu aku dan Ibu harus cari Bibi kemana? Akhirnya kami memutuskan untuk tetap pergi ke sungai, berharap Bibi ada di sana, tapi gak lupa kami menulis pesan di meja teras villa, kalau Bibi sampai di villa saat kami pergi:

“Bi… kami pergi dulu ke sungai belakang villa, kalau Bibi sudah pulang, Bibi segera ke sungai ya, atau kalau Bibi tidak mau ikut, Bibi di villa saja, kunci villa saya titipkan ke penjaga villa.”
Salam,
Garetha

Kondisinya Ayah sudah berangkat sejak pagi dijemput rekan kerjanya menuju lokasi proyek kerjaan Ayah selanjutnya. Kami berkeliling sungai dengan perlahan sambil melihat-lihat berharap menemukan Bibi di sana. Lama kami berkeliling tapi gak juga menemukan sosok Bibi di sana. Akhirnya Ibu memutuskan untuk mengajakku kembali ke villa. Diperjalanan pulang menuju villa, raut wajah Ibu terlihat cemas, hendak ku tanyakan kenapa tapi ku rasa ini ada kaitannya dengan menghilangnya Bibi Dera. Bibi … Bibi dimana sih?

Sesampainya di villa, benar saja kondisi villa masih terkunci, kertas bertuliskan pesan itu juga masih menempel erat di atas meja. Ibu segera menggandengku menuju pemukiman warga sekitar villa, mungkin Ibu mau bertanya apakah warga ada yang melihat Bibi tadi pagi atau tidak.
Hampir 2 jam kami berkeliling, tapi hasilnya sama, tidak ada 1 wargapun yang melihat Bibi. Kemana sih Bibi, aku dan Ibu mulai cemas. Sesampainya kami di villa, Ibu segera menghubungi Ayah dan memberitahu kabar soal Bibi hilang.

Baca juga: Gadis pintar pecinta sastra

Hari mulai siang, tapi siang itu terlihat seperti malam, gelap, berkabut, dan menyeramkan sama halnya seperti suasana hatiku saat ini. Aku duduk diteras villa sambil menatap kosong langit, sambil menunggu kedatangan Ayah. Aku mulai mengkhawatirkan Bibi, rasanya aku ingin menangis tapi aku selalu ingat pesan Bibi kalau aku gak boleh nangis, “Non Aya gak boleh nangis, kalau Non Aya mau nangis, Non Aya menyanyi saja seperti ini ^hujan hujan datanglah, gantikan air mataku dengan airmu, hujan-hujan bawa sejukmu dalam hatiku^.” Dan akupun mulai bernyanyi berulang kali, hingga Hujan benar-benar turun. Selalu seperti ini, dan aku menyebutnya sebagai nyanyian hujan.

Ada yang aneh saat aku sedang menyanyikan nyanyian hujan, aku mendengar suara nyanyian itu dinyanyikan orang lain di luar sana, tapi aku lihat sekitar tidak ada orang. Aku teringat pada Bibi Dera, karena yang aku tau, hanya aku dan Bibi saja yang tau nyanyian hujan itu. Lalu aku coba pejamkan mata, mencoba mendengar dan mencari dari mana datangnya suara nyanyian itu. Ha! Arah Utara! Tak peduli hujan, aku segera mencari suara nyanyian itu, tapi ditengah jalan suara itu terdengar sayup, kalah dengan suara air hujan yang turun lebat ke bumi. Sekali lagi aku memejamkan mataku. Ya! Masih arah utara. Lagi .. aku berlari kecil hingga aku menemukan persimpangan jalan, harus kemana aku pergi? Sudah terlalu jauh dari villa, disekitar tampak gelap dan mulai menjauh dari pemukiman warga.

Kemudian aku berusaha untuk tidak takut, aku harus yakin bahwa Ibu Peri ada menjagaku, begitulah kata Bibi Dera. Aku mulai melihat sekitar, melawan rasa takutku untuk tetap melangkah maju. “Selama aku mengikuti jejak awalku pergi, pasti aku bisa kembali mengikuti jejak tadi”, ucapku pada diri sendiri. Tapi aku melihat ada pemandangan yang menarik mataku untuk pergi ke sana. Sebuah pohon besar disisi timur laut aku berdiri, pohon itu terlihat bercahaya padahal disekelilingnya sangat gelap. Kaki ini hendak melangkah menghampiri pohon itu tapi sesaat kemudian aku mendengar suara nyanyian hujan dan menghentikan langkahku. Suara nyanyian itu datang dari arah barat. Aku tengok arah baratku, dan aku melihat jalan terang seperti ada pemukiman warga dari arah sana. Masih dalam suasana hujan deras, sebelum aku melangkah mengikuti suara nyanyian itu, aku ingin melihat pohon besar itu sebelum aku meninggalkannya, dan terkejut rasa hatiku. Pohonnya tidak ada! Kemana pohon besar itu? Hanya terlihat sumur tua dikelilingi oleh pohon bambu, padahal tadi gak ada pohon bambu. Aku tak ingin berlama di sana sebelum aku mulai merasa takut lagi.

Aku berlari ke arah datangnya suara nyanyian itu, kemudian langkahku terhenti. Aku melihat sosok tergeletak didepanku dengan keranjang berisi sayur mayur di sampingnya. Bibi! Ini Bibi Dera! “Bibi …!! Bibi …!! Bibi bangun Bi !!! Toloong !! Toloong !! Toloong !!” Teriakku spontan. Tidak berapa lama kemudian, aku melihat sosok Ibu dan beberapa warga datang dari depanku. Ibu? Kenapa Ibu bisa ada di sana? Sedangkan aku datang mencapai ke sini dari arah yang berbeda. Tanpa banyak tanya, Ibu menggandengku kembali ke villa dibantu beberapa warga membopong Bibi Dera. Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan pulang, Ibu sibuk menutupi kepalaku dengan tangannya.

Sesampainya di villa, sudah ada Ayah, rekan-rekan kerjanya, dan beberapa warga sekitar. Mungkin mereka juga mencemaskan keadaan Bibi. Aku sedikit lega karena Bibi sudah ditemukan, walaupun dalam kondisi tidak sadarkan diri. Aku, hmm bukan tapi kami berharap semoga Bibi segera sadarkan diri. Kasihan Bibi, pasti Bibi kedinginan. Aku hanya bisa menatap wajahnya yang teduh.

Baca juga: Perkemahan seru

Dua jam kemudian .. 15.20

Bibi sadarkan diri! “Bibi kemana saja? Kenapa Bibi gak ajak Aya kalau Bibi mau pergi?” sapaku. Bibi hanya tersenyum. “Aya .. jangan ganggu Bibi dulu, biarkan Bibi istirahat dulu ya Nak” Ayah menegurku. “he-em”, sautku sambil menganggukan kepala. Biar seperti itu, Ayah atau Ibu gak melarangku ada di samping Bibi atau menyuruhku keluar kamar. “Bibi .. istirahat saja, Aya temenin ya, nanti kalau Bibi lapar, bilang sama Aya aja ya, nanti Aya masakin yang Bibi mau”, ucapku cerewet. Lalu semua tertawa mendengar perkataanku.

Minggu, 27 Mei 2015 .. 10:15

Ayah memutuskan mengajak kami kembali ke rumah dengan alasan agar kami bisa beristirahat di rumah untuk mempersiapkan diri menjalani aktivitas esok harinya. Diperjalanan menuju Desa Nilarov, aku masih memikirkan kemana pohon besar yang bercahaya itu? Bagaimana bisa menghilang dan berganti pohon seperti itu? Kemudian darimana datangnya Ibu, kenapa jalan menuju tempat aku menemukan Bibi berbeda dari arah Ibu dan warga datang? Sungguh aneh! Misteri yang tak akan bisa aku pecahkan sendiri. Tapi aku tidak perdulli, yang penting sekarang kami sudah bersama Bibi lagi dan kembali ke rumah. Pengalaman itu, tidak akan pernah aku lupakan, karena pengalaman itu yang membuatku belajar menjadi seorang pemberani.

Terima kasih telah membaca ceritaku Raya dan Nyanyian Hujan, Jika teman-teman ada bisa memecahkan misteri itu, tulis komentar di bawah. Sampai Jumpa … t

Contributor

Ditulis oleh Keona Faneta

Dengan menulis aku bisa menuangkan rasa gundah yang selama ini aku pendam, dengan menulis juga aku belajar merangkai kata.

Years Of MembershipContent AuthorQuiz Maker

Yuk tulis komentar kamu